UAS Seumur Hidup?

Waktu saya lulus S3 saya senang sekali. Penyebab utamanya karena saya merasa mulai hari itu seumur hidup saya tidak harus lagi ujian, seperti ujian akhir semester (UAS).  Tapi hari ini saya berubah pikiran. Untuk bisa sukses orang seperti saya harus berusaha untuk UAS, setiap hari.

Maksudnya gimana?

Ia, dulu saya melihat UAS itu sesuatu yang bisa menakutkan. Dalam waktu singkat saya harus menjawab dengan benar pertanyaan-pertanyaan. Soal-soal. Saya suka mengeluh. Kan dalam kehidupan tidak pernah kita mengalami pekerjaan seperti UAS? Mengapa kelulusan saya ditentukan UAS?

Jadi saya senang sekali. Saat S3 sudah dapat, nggak usah lagi ujian. Horee…

Belakangan saya banyak merenung. Mengapa potensi besar tidak selalu menghasilkan produktivitas yang besar. Mengapa ada waktu kita sangat produktif, ada waktu kita menghasilkan nol besar.

Waktu habis browsing Internet, dengar lagu, nonton TV, ngobrol ngalor ngidul. Orang lain sudah menghasilkan banyak karya, kita habisin waktu nambah-nambah friends di facebook.

Tugas kita ditunda terus.

Nah mendadak saya terpikir. Harusnya setiap jam kerja itu kita anggap sebagai jam UAS. Jam kita menghasilkan karya, dengan waktu terbatas. Sama seperti UAS, kita tidak diperkenankan ngobrol,  nonton TV, dengan musik. Kita sedikit-dikit mengecek jam, karena soal harus dijawab tepat waktu. Saya rasa kalau kita seperti itu, maka kita menjadi sangat produktif.

Memang UAS itu butuh soal ujian bukan? Butuh pertanyaan-pertanyaan. Nah kita alokasi untuk membuat “soal ujian”. Semua masalah yang harus kita pecahkan kita tulis dalam bentuk soal ujian, pertanyaan ujian. Misalnya, bagaimana meningkatkan revenue 50%? Bagaimana menecahkan masalah TIK di Kabupaten Keerom Papua? Bagaimana membuat rencana keuangan untuk proyek di tempat X?  Bagaimana merekrut pegawai dengan optimal?

Nah, Agenda kita haruslah serupa dengna berkas ujian, berisikan soal-soal itu yang harus dipecahkan pada jam kerja.

Menariknya UAS yang ini bisa openbook, bisa bertanya ke narasumber, bisa nyontek, dan disarankan kerja kelompok.  Yang tidak boleh adalah Internet-an, nonton TV, facebook, ngobrol ngalor ngidul, dsb.

Mengapa saya mengusulkan cara pandang UAS dalam bekerja? Karena ini natural buat kita yang mantan mahasiswa. Bertahun-tahun kta sudah menjalaninya. Jadi kita sebenarnya sudah terlatih.

Dan dalam UAS faktor terpenting adalah waktu. Harus dioptimalkan. Dalam hidup, waktu itu sangat penting dan berharga. Harus dioptimalkan juga.

Jadi menerapkan paradigma UAS dalam bekerja itu itu menarik untuk dicoba.


  1. thx, sentilan buat saya

  2. tapi “enjoy life” sesekali nggak apa-apa kan ?

  3. Sebetulnya kalau tugas atau pekerjaan udah sibuk sekali, urusan nonton TV, internetan, face book, udah nggak memungkinkan pak. Internet hanya untuk mencari data yang diperlukan, mencari info terkait dengan bidang pekerjaan. Face book? Sesekali boleh juga pak…soalnya saya punya face book jarang dibuka….dan dulu punya karena dikejar-kejar bos, dengan ikut face book konon katanya, kita mempunyai jaringan teman, asal data kita (CV) lengkap. Kenyataannya? Saya memang mendapat tawaran proyek dari teman, walau tak semua bisa saya terima, karena waktu udah padat.

    Yang sering dibuka adalah email, karena saat ini, segala sesuatu melalui email.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: