Siapakah yang anda layani?

Bagaimana mengatasi rasa jenuh? Bagaimana mengatasi kemalasan? Bagaimana menggali semua potensi diri dalam bekerja? Kuncinya ada pada pertanyaan: siapakah yang anda layani?

Seorang rabbi (pendeta Yahudi) muda terpaksa harus membatalkan acara bersama keluarga pada hari minggu.  Ada enam anggota jemaatnya yang sakit di rumah sakit, dan ia tidak sempat mengunjungi mereka pada hari biasa. Minggu itu sebenarnya hari yang ia tunggu-tunggu bersama keluarganya. Hari ia bisa berisitirahat.

Tapi apa boleh buat. Ini tugas. Dengan jas dan dasi, berangkatlah ia ke rumah sakit.

Dan ternyata rencana kunjungannya tidak berjalan baik. Dua pasien sudah pulang. Dan mungkin marah kepadanya karena tidak pernah ditengok. Dua pasien yang lain tidak bisa ditemui karena sedang tidur. Dua pasien sisanya sedang banyak pengunjung. Dan saat ia datang mereka sepertinya merasa terganggu.

Saat berjalan pulang di lorong rumah sakit, rabbi muda ini merasa kecewa dan kesal. Semua maksud baiknya, menjenguk orang sakit, tidak berhasil. Sedangkan keluarganya sendiri kecewa atas batalnya rekreasi mereka.

Sampai ia melewati sebuah pojok kantor yang sepi, dan heran melihat ada satpam berdiri di situ menjaga kantor yang kosong.

“Hari minggu begini kan libur?” sapa sang rabbi, “Mengapa engkau masih berdiri di situ dan bekerja?”

“Saya melayani orang-orang yang mungkin tersesat ke sini. Dan saya digaji untuk itu.”, jawab Satpam. “Lha bapak sendiri, mengapa hari Minggu ber jas dasi begini? Siapakah yang bapak layani?”

Sang rabbi sudah mau menjelaskan bahwa ia rohaniawan yang bertugas melayani di sebuah jemaat. Tapi mendadak ia tersentak. Ya betul, siapa yang ia layani? Bukankah ia sedang melayani Tuhan? Bukan hanya anggota jemaat atau dirinya sendiri?

Mendadak rabbi ini tersenyum, dan ia menjabat tangan satpam erat-erat. “Terimakasih pak…”

Tidak penting hasilnya seperti apa. Tidak penting jalannya seperti apa. Yang penting ia sudah setia melayani Tuhan sore itu. Dan bukankah ia menjadi rabbi karena ingin melayani Tuhan?

Ini juga berlaku untuk kita semua. Dalam pekerjaan kita, seringkali kita terjebak pada hasilnya. Pada sikap orang lain yang tidak menghargai. Pada kepentingan diri sendiri, kebanggaan diri. Keuntungan finansial. Kita lupa bahwa dalam segala hal, apapun yang kita kerjakan, hendaknya kita melakukannya seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia.

Pada akhirnya hidup ini bukan tentang anda dan orang lain. Tapi tentang anda dan Tuhan.

Selamat bekerja. Selamat melayani…


  1. nice post, pak🙂

    itulah pentingnya senantiasa “meluruskan niat”. bahwa apa yang kita lakukan bukan untuk siapa-siapa, kecuali Tuhan🙂




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: