Manajemen dan Poligami

“Saya bisa belajar manajemen dari poligami…”, demikian ujar rekan seperjalanan saya, di kereta Argo Lawu minggu lalu.

Ceritanya Kamis minggu sebelumnya saya naik KA dari Purwokerto menuju Gambir. Saat saya naik, di sebelah kursi saya sudah ada seorang pria yang mempersilahkan saya duduk dengan ramah.

Kami banyak mengobrol. Dan saya senang karena beliau ramah, jujur, dan berbicara apa adanya. Jadi perjalanan saya tidak membosankan.

Ada banyak kesamaan beliau dengan saya. Usia kira-kira sama. Sedang menjalankan tugas. Senang politik. Taat beragama. Beliau menjelaskan bahwa beliau baru pulang dari UNS Solo memberikan ceramah tentang pentingnya penerapan Syariat Islam di Indonesia pada mahasiswa di sana. Jadi minat kami sama dan diskusi kami ramai.

Sampai saat saya tanya sudah punya anak berapa? Biasanya kalau saya tanya begitu, orang akan menjawab dua atau tiga. Dan biasanya mereka akan kembali kaget kalau tahu anak saya sudah empat, dan dua sudah kuliah.

Tapi kali ini saya yang kaget.

Dengan senyum dia menjelaskan, “Saya mempraktekkan poligami. Istri saya empat. Anak saya duapuluh dua….”

Waahh saya bingung mau tertawa atau geleng-geleng atau sirik?

Ini hebat sekali. Orang seusia saya sudah punya dua puluh dua anak! Saya belum ada apa-apanya nih.  Kebayang mahalnya membesarkan keluarga ini.  Saya hitung biaya yang sudah kami keluarkan untuk anak-anak sekolah dan kuliah. Kali duapuluh dua. Buset. Apa teman saya ini tidak pernah dengar program KB.

Tapi beliau tenang saja. Selalu ada rejeki yang cukup.

Lama-lama saya agak jealous juga hehehe. Teman saya ini enak sekali. Hari gini masih ada orang yang hidup kayak raja. Rumahnya di mana-mana, minimal empat. Dan di situ ada istri dan anak-anaknya. Jadi perjalanan ini sedang membawanya ke rumah yang satu lagi. Sehebat-hebatnya orang, nggak ada yang ngalahin luck dia.

Cuma akhirnya diam-diam beliau mengaku. “Saya banyak belajar manajemen dengan mengurusi istri.” Kalau di organisasi biasa, perdebatan belum ada apa-apanya, katanya. Tapi dalam poligami, dia harus mengatasi masalah yang berdasar pada kecemburuan perempuan. Dan ini jauh lebih berat.

Hilang juga rasa sirik saat saya mendengarnya hehehe. Ternyata tidak se-menyenangkan yang saya duga. Menghadapi cemburu satu orang saja sudah pusing tujuh keliling. Apalagi empat orang. I guess I am the lucky one..

Kami berpisah di Jatinegara. Beliau melanjutkan perjalanan ke Bekasi, dan saya ke Gambir dan kemudian Jayapura. Kegiatan di Jayapura melibatkan banyak pihak dan memerlukan koordinasi.

Saya belajar manajemen dari situ saja ah…


  1. kuke

    heuheu.. tenang Pak.. ga sedikit orang juga yg sirik ke Bapak karena bisa begitu bahagia dengan satu orang saja 😉

  2. ho ho, anaknya nggak dimasukkan ke cakupan manajemen ya Pak? kasihan juga anak sebanyak itu tapi kedekatannya kurang dengan ayahnya




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: