Debat

Debat jarang bisa mempengaruhi orang lain. Tindakan dan hasil lebih powerful.

Di kampus banyak orang senang berdebat. Langsung ataupun melalui mailing list. Kita tidak mau berhenti sebelum lawan debat kita tidak bisa lagi menjawab.

Sayangnya, orang berhenti di situ. Menang debat. Padahal tidak ada yang dicapai dengan menang debat. Kita pikir orang lain akan kemudian mengikuti kita. Tidak juga. Bahkan tidak jarang orang berhenti berdebat karena merasa buang waktu.

Padahal debat yang baik itu sebenarnya memicu ide kreatif. Ide baru maupun hasil sintesa bisa muncul. Dengan berdebat, otak kita bekerja secara ekstra, sehingga ide-ide baru dapat digali.

Saya pikir keberhasilan debat adalah apabila banyak orang kemudian bersedia secara sukarela mengadopsi atau mengikuti pemikiran baru yang dihasilkan. Keberhasilan debat adalah apabila orang lain bersedia mengubah pikiran yang lama.

Dengan demikian jelas debat yang dilakukan secara persuasif, lembut, dan inklusif jauh lebih powerful. Jauh lebih berhasil.

Bagaimana kalau pihak lain ngotot, padahal anda yang benar?

Sir Christopher Wren adalah seorang arsitek. Di tahun 1688, walikota memintanya mendesain balaikota Westminster. Meskipun hasil desainnya bagus, walikota merasa bahwa desain lantai dua nya berbahay. Walikota meminta ia menambah tiang-tiang penyanggah di tengah. Wren merasa tidak perlu. Mereka berdebat, tapi walikota tidak mau mengalah.

Akhirnya Wren mengalah dan ia menamba tiang-tiang kolom di tengah. Walikota pun puas. Dan balaikota Westminster berdiri dengan megah dan aman. Bertahun-tahun.

Sampai suatu hari orang menemukan bahwa tiang-tiang kolom tambahan itu ternyata tidak pernah menyentuh langit-langit. Wren membangunnya untuk menyenangkan hati Walikota. Tapi tiang-tiang itu tidak berguna. Dan Wren membuktikan, tanpa debat, bahwa lantai dua itu aman meskipun tanpa tiang.

Jadi kalau anda berjumpa dengan tukang debat, omong doang, tenang saja. Tidak perlu panas hati. Biarkan mereka argue kesana kemari tidak jelas. Dengan lembut, anda biarkan tindakan, kenyataan, realitas, dan hasil, menarik mereka pada kebenaran.


  1. Betul pak, terutama untuk debat-debat intern dan antar agama. Harusnya dibuatkan etika berdebat.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: