Pilpres

Pilpres kita sudah selesai atau belum, sih? Nyoblosnya sudah, hasilnya belum final. Konon SBY sudah menang, tapi Mega dan JK belum kalah.

Masalah kali ini adalah kekisruhan daftar pemilih tetap (DPT) serta perhitungan suara.

Kok bisa begitu ya? Bukankah kita sudah melaksanakan pemilu tiga periode berturut-turut. Sudah lebih dari 10 tahun. Mestinya DPT tidak bisa lagi simpang siur. Masakan waktu 10 tahun tidak cukup untuk mendapat data siapa pemilih yang sah? Masakan tidak ada cara yang sederhana tapi andal untk memverifikasi peserta pemilu dan pilpres?

Kemudian proses penghitungan suara. Waktu kita melakukan pemilihan anggota legislatif, partai dan calonnya begitu banyak, tapi tidak ada masalah. (Kecuali kekisruhan menghitung kursi). Mengapa kali ini, di pilpres yang cuma memilih satu dari tiga kandidat bisa bermasalah begini? Bukankah tinggal menjumlah? mengapa tidak ada cara sederhana untuk memvalidasi proses penjumlahan? Bukankah ada wakil dari tiga kandidat ini di setiap TPS? Mengapa laporan hasilnya dari tim para kandidat bisa berbeda? Selisih sampai 28 juta suara?

Saya kira bukan saja ahli TIK harus turun tangan dari sekarang untuk menyiapkan pemilu berikut. Kita perlu ahli security. Ahli statistik. Ahli coding. Untuk membuat pemilihan umum dan proses voting ini terpercaya. Setiap angka dari TPS harus diproteksi secara matematika, seperti CRC check, untuk menjaga validitasnya.

Tapi perlu juga kerja keras dari semua kandidat. Untuk tidak pernah main-main dengan pemilu. Jiwa keikhlasan dan kenegarawanan benar-benar diuji.Tahu sampai di batas mana kita bisa berjuang merebut suara, dan di mana kita harus berhenti, menjaga kepentingan bersama. Menjaga kewibawaan proses pilpres.

Saya mengerti, kandidat yang dirugikan sudah mengeluarkan uang banyak untuk kampanye. Jadi kalau tidak terpilih, rugi besar. Lha, motivasi untuk ikut pemilu apa sih? Untuk melayani rakyat bukan? Kekalahan menjadi sukar diterima kalau motivasinya bukan itu..

Semua pembuat aturan pun harus bisa membuat aturan penghitungan yang jernih, sederhana, dan jelas. Tanpa peluang multitafsir. Peradilan pun harus adil, seadil-adilnya, menurut hukum dan menurut kepentingan keselamatan bangsa.

Pilpres ini, atau pemilu secara umum, harus dipersiapkan super baik. Tanpa itu maka pergantian kepemimpinan nasional akan mahal sekali. Harus lewat kudeta, perang, dan bahkan pertumpahan darah. Pergantian dari Sukarno ke Suharto, dan dari Suharto ke Habibie, memakan banyak nyawa orang. Konon jutaan orang mati dibunuh di 1965-1967.  Dan ratusan dan mungkin ribuan mati di 1998. Demokrasi memang mahal. Tapi alternatifnya jauh lebih mahal.

Semoga masalah di pilpres kali bisa segera teratasi. Dan kewibawaan proses pemungutan suara bisa pulih kembali.

Advertisements

  1. Saya kira bukan saja ahli TIK harus turun tangan dari sekarang untuk menyiapkan pemilu berikut. Kita perlu ahli security. Ahli statistik. Ahli coding. Untuk membuat pemilihan umum dan proses voting ini terpercaya. Setiap angka dari TPS harus diproteksi secara matematika, seperti CRC check, untuk menjaga validitasnya.

    saya pikir bukan hanya para ahli teknis yang diperlukan. ketidakpastian dalam tataran teknis sepertinya hampir sudah dapat diatasi. persoalan proteksi dengan alat/mesin hanya bisa menjamin setelah data masuk ke mesin, sebelum itu tanggung jawab terhadap otentikasi data ada di manusia.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: