Cinta Yang Menyempurnakan

Konon tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tapi kalau kita bersedia menerima bahwa semua ada maksudnya, maka ketidak sempurnaan itu adalah sempurna.

Hehe, bingung ya?

Apa sih sempurna itu? Ini terminologi yang subyektif. Dalam prakteknya, bila sesuatu berjalan sesuai keinginan kita, sesuai dengan rencana kita, sesuai dengan target kita, kita menyebutnya sempurna.

Sayangnya, cara berpikir seperti ini bakal menghasilkan ketidaksempurnaan. Mengapa? Karena dunia ini berjalan sesuai keinginanNya. Tidak ada dalam kendali kita. Kita bisa berencana, tapi Tuhan yang menentukan. Pengalaman saya, jarang sekali sesuatu bisa terjadi persis seperti rencana kita, seperti keinginan kita.

Mungkin anda merencanakan lulus tepat waktu. GPA 4.0. Tapi ada saja gangguannya. Dan itu tidak tercapai.

Atau anda jatuh cinta dan ingin berjumpa dengan si dia. Sayangnya si dia ternyata tidak cinta pada anda, dan tidak ingin berjumpa dengan anda.

Atau anda sudah menyiapkan acara yang hebat, seperti mendatangkan Manchester United itu. Bernulan-bulan. Dan pada hari H-2, bom meledak di hotel mereka, dan acara yang nyaris sempurna itu berantakan.

Dari yang berat-berat sampai yang sepele, kita berencana. Tapi lebih sering rencana kita berantakan ketimbang berjalan mulus.

Jadi kesempurnaan yang didasarkan pada keberhasilan rencana itu sudah pasti gagal. Sudah pasti tidak sempurna.

Jadi apa dong?

Saya pikir kesempurnaan itu harus didasarkan pada intensi, niat, impak akhir. Bukan cara, bukan output.

Dan niat untuk mencintai itu tidak pernah gagal. Selalu sempurna.

Anda ingin lulus tepat waktu dengan GPA 4.0 itu adalah bentuk dari kecintaan anda pada orang tua atau pada sesuatu yang excellent. Maka teruskan niat anda. Bila tidak berhasil, tidak apa-apa. Karena orang tua anda akan sama merasa dihargai oleh niat dan usaha anda. Karena cita rasa dan appetite untuk excellent itu terus bernyala.

Si dia tidak mau menemui anda? Tidak apa-apa. Karena niat anda adalah untuk mencintainya, bukan? You have done it.

Manchester United tidak jadi datang? Tidak apa-apa, bukan? Anda tetap mencintai club itu. Atau anda mencintai mereka yang membeli tiket dari anda, sehingga anda akan berpikir event apa lagi untuk mengobati kekecewaan mereka.

You see… Cinta itu menyempurnakan segala sesuatu. Bahkan sesuatu yang terlihat gagal sekalipun. Karena pada akhirnya kesempurnaan itu adalah pada impak, pada substansi. Bukan pada cara.

Anda ingin segala sesuatu sempurna? Do it with love. Do it for love

You may fail, but it is still perfect

Advertisements

  1. comment ke 33. artikel anda sangat menarik dan anda layak sebagai pemenang. dan we support you

  2. Haduh pak..lagi-lagi tulisan anda membantu saya sendiri merenung sejauh apa saya sudah benar-benar mencintai sesuatu atau seseorang…
    Masalah hasil akhir, memang seharusnya dikembalikan ke Sang Pencipta itu. Dengan menerima dengan ikhlas apapun yang sudah diberikan Sang Pencipta, entah itu kegagalan atau kesuksesan, bisa merupakan cara kita mencintai Dia dengan sempurna.

  3. Pak Armein ini lama-lama jadi kayak Gede Prama.
    UUC. Ujung2-nya Cinta.
    Bagus Pak 🙂




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: