Mengendalikan Amarah

Dalam skala kecil, perjalanan saya kemarin ke Magelang itu adalah proses pengendalian kemarahan.

Kejengkelan saya dimulai saat jam 12 malam saya menerima SMS dari Mandala bahwa penerbangan saya ke Jogja ditunda dari 10:50 menjadi 13:30. Padahal acara saya di Magelang sudah mulai jam 10:00. Dan saya sudah pesan travel jam 6 pagi ke Bandara. Mana sempat mengubah travel saya? Mandala ini keterlaluan. Padahal saya memilih Mandala karena saya pikir ini yang paling tepat waktu. Terutama sudah sangat kapok dengan Lion Air dalam hal beginian.

Tapi saya segera mengendalikan kejengkelan saya, dan memutuskan untuk menikmati seluruh perjalanan. Termasuk penundaan itu.

Semua lancar, dan jam 9 pagi saya sudah di Terminal 3. Dan benar. Saya bertemu banyak calon penumpang yang kecewa. Bahkan ada seorang ibu yang marah besar di counter check in. Sungguh tidak menyenangkan mendengar ucapan sumpah serapah. Dan kita tahu, bukan salah awak Mandala yang ada di depan counter itu. Jadi saya memutuskan untuk tidak menambah energi negatif. Dan ternyata menunggu empat jam di Terminal 3 not bad. Di lantai atas suasananya bersih, lega dan menyenangkan. Saya bisa menyelesaikan tulisan enam halaman yang saya perlukan Sabtu pagi jam 10 ini di Bandung.

Tiba di Jogja sudah jam 3 sore, dan segera saya hubungi counter Mandala untuk konfirmasi penerbangan pulangnya. Kita harus selalu merekonfirmasi penerbangan pulang agar seat kita tidak diberikan pada orang lain. Saya dikonfirmasi pulang pukul 18:50 dari Jogja. Sengaja saya tanya, apakah akan ada rencana perubahan jadwal, dan dikonfirmasi tidak. Jadi saya sekalian pesan travel dari Bandara ke Bandung pukul 20:00.

Tapi dasar Mandala. Jumat pagi saya bangun sudah ada SMS dari Mandala. Penerbangan saya ditunda sampai jam 21:00. Astaga. Berarti saya harus travel ke Bandung di atas jam 22:00, dan belum tentu ada travel tersedia. Ada juga Bus Primajasa ke BSM. Tiba di Bandung bisa-bisa jam 2 pagi. Dan naik taksi jauh ke rumah. Padahal saya ada acara jam 10 pagi Sabtu tersebut. Whatever, pokoknya rencana saya jadi kacau…

Kemarahan saya memuncak.

Tapi saya lawan.

Saya mengerti. Kemarahan itu harus dianalisa, dan jalan keluar harus dicari. Kemarahan saya mereda. Saya segera kontak kantor di Magelang untuk mencari tiket sore ke Jakarta. Karena tiket pada hari yang sama, harganya tidak murah lagi. Tapi akhirnya saya bisa dapat tiket Batavia Air, jam 17:25. Harga masih OK. Sambil berpikir tiket Mandala saya bisa hangus nih. Biarkan saja. Ketimbang saya sakit. Anggap saja biaya untuk jadi pintar: lain kali jangan mau naik Mandala.

Jam 12:45 siang taksi sudah jemput dari Magelang ke Jogja. Kebetulan rekan saya pesan taksi, jadi saya bisa ikut. Tiba di Bandara Jogja masih jam 14:00. Tidak apa apa. Saya bisa rileks.  Dan rekan saya insist dia yang bayar taksinya. Jadi saya tidak keluar uang sepeserpun. Langsung saya ke counter Mandala. Minta pengembalian uang tiket, dengan alasan saya tidak bisa ikut skedul yang baru. Saya sudah siap bertengkar. Eh, ternyata orang Mandala di loket Jogja sangat ramah. Tanpa banyak rewel, dia mengembalikan uang tiket, persis sebanyak yang saya bayar. Terus terang saya terkesan. Jadi saya tambah pintar lagi: tidak jadi kapok naik Mandala. Terutama nanti kalau jadwalnya sudah mulai bener lagi, hehe.

Point saya, tanpa kemarahan, banyak sekali masalah bisa diatasi dengan baik, lancar, dan memuaskan semua pihak.

Saya takeoff dan landing tepat waktu. Bravo Batavia Air. Waktu nunggu di bandara, berkali-kali saya dengar pengumuman penundaan penerbangan Lion Air. Hehehe, masih geenee juga nih, Lion Air?

Tiba di Cengkareng jam 19:00, padahal saya sudah geser booking Cipaganti jam 19:00. Terlalu mepet, travelnya mesti sudah berangkat. Jadi saya cepat-cepat ke counternya sambil telepon. Untung saya sudah booking, karena rupanya full book. Di counter banyak yang naik mobil pengganti.

Cuma sedikit-sedikit kejengkelan saya datang lagi. Saya lihat banyak penumpang ke Bandung sudah dilayani, tapi saya belum di jemput. Saya mulai gelisah, dan petugas di counter juga tidak bisa bilang jam berapa saya bisa naik mobil. Apalagi mulai lewat-lewat bus primajasa. Wah harusnya saya naik saja primajasa, dan sambung taksi.  Tapi dengan teknik mental, saya netralisir perasaan saya itu. No big deal. Bandingkan dengan nasib korban pemboman. Atau pemegang tiket MU. Ini benar-benar tidak ada apa-apanya.

Jam 19:30an saya dipanggil, mobil sudah ada. Saya agak malu, baru menunggu 30 menit sudah tidak happy. Saya naik, sambil berharap ini pasti penuh, sempit. Di dalam sudah ada seorang ibu yang terus mengomel karena mobil berhenti-berhenti menjemput penumpang lain. Ah tidak nyaman betul mendengar orang marah-marah. Jadi kalau saya marah-marah, pasti ugly seperti itu. Mobil masih keliling bandara dulu menjemput penumpang lain. Dan saya mulai gelisah melihat antrian panjang mobil di jalan. Wah macet nih pikir saya.

Ternyata tidak. Begitu keluar bandara, semua berjalan lancar. Dan yang menyenangkan, ternyata deret tempat duduk saya itu untuk dua orang, dan orang yang disebelah saya itu cancel. Jadi saya lega duduk dan tiduran sampai ke Bandung.

Perut sebenarnya lapar. Keroncongan. Tapi saya tahu travel Cipaganti pasti berhenti di KM 57. Ada restoran Padang dengan nasi panas. Sudah tidak sabar saya menanti. Begitu tiba di restoran, waah ternyata sudah habis nasinya. Jadi tidak jualan lagi. Saya kecewa. Tapi sudah pintar kan ya. Cari lagi aja makanan lain. Pergi ke KFC di sebelahnya. Wah antrian panjang. Dan… nasi habis. Wahhh. Di mana-mana habis, karena Jumat libur panjang. Sudah keduluan orang lain. Saya jalan perlahan dengan perut kosong. Saya sudah tidak punya energi bahkan untuk ngambek hehe. Tapi hati harus gembira bukan?

Saya datangi tenda yang jualan Nescafe di depan Restoran padang itu. Saya mau minum coklat panas saja. Si penjaga yang masih muda tersenyum ramah, “Habis paak…”. Saya ikut tertawa dengan semua ironi ini dan pergi untuk duduk di kursi tenda-tenda di depan restoran. Tunggu ke Bandung saja deh, makan supermi di rumah. Cuma saya tengok ke belakang, ternyata si anak muda ini menjual roti-roti dalam plastik. Saya datang lagi dan beli saja satu yang agak besar, kemudian dimakan. Lumayan kenyang dan berenergi lagi. Solved. Anak muda itu mendadak menghampiri saya, dan memberitahukan di restoran masih jual minuman botol. Saya minta greentea saja, dan dia lari ke dalam dengan sigap, membelikan untk saya. Padahal itu restoran orang lain. Wah, orang tidak henti-hentinya memperlakukan saya dengan baik.

Di mobil saya menikmati perjalanan lanjutan yang lancar. Begitu tiba di Bandung, supir memutuskan untuk mengantar saya duluan. Si ibu tadi mulai ngomel lagi, dan protes. Tapi pak sopir dengan lembut tapi tegas menjelaskan bahwa harus saya duluan. Kalau tidak jadwal pengantaran jadi kacau. Jam 23:00 saya memasuki rumah dengan selamat, sehat, dan hati senang. Saat saya membuka pintu depan, Marco sudah menunggu di situ, setengah tidur. Katanya kangen sekali. Wahh… I am in heaven..

OK, mengapa sih saya menceritakan semua ini? Saya menyadari bahwa semua rencana saya berantakan sebenarnya oleh berbagai peristiwa yang tidak saya kendalikan. Dan itu dengan mudah menimbulkan kemarahan dalam hati. Akan tetapi saya belajar banyak. Saat saya membuang jauh-jauh kemarahan saya, dan berinteraksi dengan semua pihak untuk menyelesaikannya, penyelesaian terjadi. Dengan nice dan dengan hasil yang jauh lebih menguntungkan saya.

Saya hanyak ingin bilang, marah-marah itu sungguh useless. Selama kita hidup di dunia, kejadian yang random, acak, chaotic, disturbing pasti akan terjadi. Dan semua peristiwa itu akan mengganggu detail rencana kita. Bahkan sampai berantakan. Tapi itu tidak otomatis membuat kita tidak bisa mencapai tujuan kita. Semua peristiwa gangguan itu ternyata mentrigger solusi-solusi yang membawa kita pada tujuan kita, dengan cara yang lebih menguntungkan, lebih baik dan lebih realistis lagi. Tanpa perlu kehilangan kegembiraan melalui marah-marah.

I have learned my lessons. I hope you will too


  1. benar2 menginspirasi….terimakasih untuk sharing-nya Pak

  2. wah saya kangen nasi padang😀

  3. this post is exactly what i need.
    thanks, pak..🙂

  4. wah, klo ini adalah post face book, pasti udah saya klik tombol ‘like’ nya.. saya merasa sangat ‘teringatkan’ karena ini merupakan pengalaman pribadi bukannya kisah berhikmah.. artinya ‘kita juga (pasti) bisa’.. makasih pak armen..




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: