Angkara Murka

Saat debu mereda dan puing membentang, centang perenang, kita menjadi saksi akan suatu angkara murka. Ledakan bom adalah ledakan kemurkaan. Dan ia memakan korban, terutama mereka yang tidak berdosa.

Siapapun yang meledakkan hotel Ritz Carlton dan JW Mariott di Jakarta kemarin menyatakan suatu kemarahan. Kemarahan itu begitu besar, dan membutuhkan bom untuk mengekspresikannya.

Mengapa orang marah? Itu karena hatinya terganggu. Kehormatannya terganggu. Hal yang dianggapnya penting terganggu. Dan ia tidak berdaya mengatasinya. Ia frustrasi. Ia tidak mampu. Maka ketidakmampuannya itu ia nyatakan dalam ledakan kemarahan.

Kita semua, termasuk saya, memiliki bibit-bibit seperti itu.  Beberapa waktu lalu, sayapun meledakkan kemarahan saya di depan rekan sekerja saya. Karena rasa frustrasi saya. karena rasa kecewa saya. Karena ada hal yang saya anggap penting yang disepelekan dan dilanggar orang. Dan saya tidak berdaya untuk  memperbaikinya. Dan itu saya luapkan dalam kemarahan.

Tadinya saya anggap itu normal. Wajar lah orang sekali-sekali marah. Dan kalau kita tidak marah kita bisa sakit jiwa.

Tapi kemudian saya menyadari. Dengan meluapkan amarah, saya memperlihatkan dengan jelas sisi buruk saya. My ugly side. Sementara, ironisnya, saya sendiri tidak bisa melihatnya.

Ya itu. Keburukan amarah sudah jelas. Ia menonjolkan sisi buruk kita pada orang lain, dan pada saat yang sama ia menyembunyikan sisi buruk kita itu dari kita sendiri. We feel great while the whole world is sick with us.

Mengapa begitu? Karena sasaran luapan kemarahan kita itu selalu bukan orang yang tepat. Kita meluapkan kemarahan pada orang yang tidak bersalah. Sering mereka hanya pemicunya. Bibit kemarahan kita sudah ada sejak lama dan ditimbulkan oleh orang lain.

Tanpa kita mengendalikan amarah kita, meredakan amarah kita, maka kita akan diperalat oleh setan nafsu angkara murka. Melalui tangan kita kerusakan dibumi ini terjadi. Melalui tangan kita, keluarga kehilangan ayah topangan hidup mereka. Melalui tangan kita, tempat usaha, dimana banyak nafkah orang bergantung, kita hancurkan. Melalui perbuatan  kita, kita lukai orang-orang yang tidak bersalah.

Dan kita merasa puas atas akibatnya…

Jadi kita semua harus belajar mengendalikan kemarahan kita. Belajar mengenalinya, dan menaklukkannya. It is ugly

Dan jangan pernah menanam-nanamkan dengan sengaja bibit kemarahan kedalam hati orang. Menyemainya dan memupuknya dengan kebencian. Dan melatihnya dengan cara meluapkan kemarahan melalui ledakan bom. Itu kejahatan besar. It is a crime against humanity




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: