Pelit (3)

Semoga belum bosan🙂 Tapi ini memang konsep penting. Kita tidak pernah akan menjadi orang besar kalau kita pelit, kalau kita tidak murah hati. Saya ingin menceritakan sebuah dongeng Nabi Musa dan Firaun.

Nabi Musa berdoa pada Tuhan, “Ya Tuhan, hancurkanlah Firaun..”

Saat itu Firaun merasa diri nya tidak terkalahkan, seperti ilahi. Oleh sebab itu tiap hari ia berpesta pora. Tiap hari ia menyediakan 4000 domba, 400 sapi, 200 unta, dan masih banyak lagi, untuk potong di dapur istana dan disantap para pemuka negeri beserta rakyatnya.

Meskipun Tuhan berjanji akan menghancurkan Firaun, tapi kok itu tidak pernah terjadi. Bertahun-tahun Musa melihat Firaun terus berpesta pora dengan rakyatnya. Mesir aman-aman saja dan sentosa.

Musa akhirnya tidak tahan.

Ia pergi ke gunung Sinai dan berpuasa di sana empat puluh hari empat puluh malam. Dan kemudian ia meratap pada Tuhan, “Engkau sudah berjanji padaku. mengapa Firaun tidak hancur juga..?”

Tuhan menjawab, “Wahai Musa, engkau ingin Aku menghancurkan Firaun secepatnya. Tapi beribu-ribu kali para malaikatKu memohon agar Aku jangan menghancurkan Firaun. Karena begitu banyak umat manusia di Mesir diberi makanan yang cukup dan diberi keamanan. Jadi Aku berjanji, selama Firaun bermurah hati pada makhluk ciptaanKu, melindungi dan memberi mereka makan, Aku tidak akan mau menghancurkan Firaun…”

Musa tertegun, “Kalau begitu kapan Firaun ini akan hancur dong..?”

Tuhan berjanji, “Ia akan hancur saat ia mulai berlaku pelit pada makhluk ciptaanKu…”

Musa masih mencoba, “Tapi Firaun menyebut dirinya tuhan…?”

“Ia memang bukan tuhan,” Tuhan tersenyum, “Tapi dengan bermurah hati pada semua makhluk dan melindungi mereka, dia bertugas seperti tuhan bukan…?”

Alkisah, suatu hari para jendral Firaun melapor bahwa Musa sedang berada di Sinai, mengumpulkan kekuatan untuk memerangi Firaun. Mereka kemudian memberi saran untuk bersiap berperang. “Kita harus mengurangi pesta, mulai menyimpan bahan makanan, sebagai persiapan menghadapi perang berkepanjangan..”

Maka hari itu juga Firaun mengurangi jatah harian dapurnya menjadi 2000 domba, 200 sapi, dan 100 unta. Pesta pun berkurang. Tidak setiap hari. Dan orang tidak lagi beternak atau bertani, karena bersiap perang, serta kehilangan kegembiraan sehari-hari. Mereka tidak lagi punya motivasi untuk bekerja keras.

Musapun  tahu, hari-hari Firaun sudah terhitung. Maka ia bertahan di Sinai bertahun-tahun menunggu kesempatan.

Semakin lama kemakmuran Mesir semakin berkurang. Hewan yang dipotong di dapur Firaun makin sedikit. Konon menurut dongeng, pada hari di mana Firaun dihancurkan dan tenggelam di Laut Merah, hanya tinggal dua ekor domba yang dipotong di dapur itu.

Demikian dongeng yang ditulis Nizam Al-Mulk dalam buku petunjuk bagi pemerintahan dan raja-raja di abad ke sebelas.

Point saya, kita tidak akan pernah menjadi besar dan dihormati serta dituruti orang kalau kita pelit, kalau kita tidak murah hati. Itu sudah hukum alam, terpatri melalui evolusi. Tuhanpun seakan memelihara Firaun sepanjang dia murah hati.

Orang pelit memberi sinyal atau tanda bahwa ia tidak punya sumber mata air kemakmuran. Nobody wants to be around such a person.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: