Give What They Want

Egois! Cuma memikirkan kepentingan sendiri! Demikian keluhan kita di tempat kerja. Padahal sifat semua orang memang begitu. Kita yang harus belajar menerima fakta ini, dan justru belajar memanfaatkannya.

Orang banyak tertekan di tempat kerja karena orang lain tidak berpikir seperti dia. Banyak hal yang baik tidak dikerjakan. Banyak asumsi kita keliru. Dan kita heran, bercampur sebal, ketika keputusan-keputusan yang diambil atasan tidak cerdas.

Saat tentara Mongol menaklukkan Cina, mereka tidak mampu menghargai budaya Cina yang tinggi. Bagi mereka, karya budaya dan intelektual Cina tidak berguna. Mungkin dalam benak mereka, lebih baik kota-kota dihancurkan, agar bisa tumbuh rumput di mana-mana untuk makanan kuda perang mereka.

Terbayang frustrasi orang menghadapi Genghis Khan, pemimpin Mongol. Powerful tapi tidak menghargai budaya tinggi. Untung ada orang seperti Yelu C’h’u-Ts’ai, yang menjadi penasehat Genghis Khan. Menyadari tingginya budaya Cina, ia meyakinkan Genghis Khan untuk memberlakukan pajak di Cina, sehingga tentara Mongol bisa mendapat uang banyak. Genghis Khan senang, sementara kota-kota Cina tidak jadi hancur.

Saat Khan menaklukkan kota Kaifeng, ia berniat membasmi semua penduduknya. Ch’u-Ts’ai menyadari banyak tenaga trampil, enjinir, dan seniman mengungsi di Kaifeng. Ia merasa sayang sekali kalau mereka punah. Maka ia membujuk Khan untuk membuat semacam industri senjata untuk memperkuat kemampuan perang Mongol. Genghis Khan senang, dan penduduk Kaifeng tidak jadi punah.

Genghis Khan tidak jadi menghancurkan budaya Cina dan penduduk mereka, bukan karena Ch’u-Ts’ai berhasil membuat Khan menjadi orang baik, bertobat, atau berbudaya. Tidak. Too old for that. Ia mengemas nya menjadi sesuatu yang diperlukan Genghis Khan. Ia mengemasnya menjadi self-interest orang Mongol. Maka selamatlah budaya Cina. Dan dunia beruntung sampai hari ini.

Point saya, sekaligus refleksi pengalaman saya, kita hanya bisa memberlakukan prinsip-prinsip luhur pada orang yang memang memiliki budaya yang tinggi. Atau kepada orang yang berada dalam pimpinan kita.

Tapi menghadapi kolega kita, dan bahkan atasan kita, kita bisa frustrasi berat. Karena mereka tidak peduli. Dan celakanya mereka berkuasa. Seperti Genghis Khan itu.

Daripada frustrasi, lebih baik kita belajar dari Yelu C’h’u-Ts’ai. Kita mengemas kebaikan itu, prinsip-prinsip itu, ke dalam sesuatu yang berguna untuk mereka. Sesuatu yang mereka inginkan. Give what they want.

Jadi kita belajar mengerti apa motivasi mereka, apa keinginan mereka, apa ambisi mereka. Dan mungkin apa yang mereka cemaskan. Tugas kita adalah mengusulkan, atau lebih tepat lagi menawarkan sesuatu yang mereka inginkan itu. Dan di dalamnya berisikan hal yang baik, yang seharusnya dilakukan.


  1. aswin indraprastha

    Pak Armein yth,

    Beberapa poin dari tulisan ini mirip dengan tulisan mendiang Prof. Randy Pausch (computer science, Carnegie Mellon) dalam bukunya, The Last Lecture. Pastinya bapak sudah baca ya? Banyak hal tentang bagaimana menyiasati lingkungan pekerjaan, bagaimana membantu orang mendapatkan apa yang mereka inginkan dan beberapa ‘wisdom’ sebagai seorang pendidik.

    Saya banyak mendapatkan inspirasi dari beliau.

  2. Thx untuk berbagi pak Armein. Jadi bahan introspeksi. Belajar nilai2 yang baik, belajar berbuat baik terkadang sulit diterapkan jika resistensi lingkungan tinggi. Mungkin seperti yang bapak tulis, perlu kemasan yang lebih baik dengan cara yang lebih bijak. Thx again pak Armein.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: