Memimpin

Masih dalam suasana pemilihan pemimpin, kita diingatkan bahwa syarat menjadi pemimpin itu bukan pada kemampuan untuk dipilih. Bukan pada kemampuan mendapatkan suara terbanyak. Tapi pada kemampuan menjalankan tugas kepemimpinan.

Saat Laksamana Halsey diangkat memimpin salah satu task force panglima perang Pasifik, ia memohon saran dari seniornya, Laksamana Nimitz. Laksamana Nimitz hanya punya satu nasehat: “There’s one thing you’re expected to do when you’re in command:….. Command!”

Tugas pemimpin adalah memimpin.  Jadi ia harus memiliki jiwa, sikap, jurus-jurus seorang pemimpin. Bisa membawa orang yang dipimpinnya kepada cita-cita bersama.

Mengapa SBY bisa menang? Saya nebak-nebak nih. Tapi dibanding kompetitornya, ia terbukti bisa memimpin. Minimal lima tahun terakhir. Mungkin banyak kelemahan sana-sini, tapi pemilih memandangnya lebih baik ketimbang yang lain.

Pada ketiga kontestan, ada jenderal-jendral. Jendral SBY, Jenderal Prabowo, dan Jenderal Wiranto. Jadi mestinya kemampuan dasar pemimpin ada pada mereka dengan melimpah. Tapi mengapa yang satu bersinar, yang lain seperti redup?

Saya pikir karena kepemimpinan itu tidak dimulai saat menang pemilu. Terbalik. Pemilu itu mengesahkan, mengakui, “memberikan ijazah” kepada seseorang yang sudah terbukti pemimpin. Jadi kita harus bersikap seperti presiden dulu baru rakyat mau memilih kita.

Mungkin orang bingung. Kalau begitu, tidak ada harapan dong bagi mereka yang belum menjadi presiden sebelumnya?

Bukan begitu. Sikap presidensial itu harus dilakukan sejak dini. Rakyat harus melihat kiprah kita memperjuangkan kepentingan semua, dengan cerdas, dengan teguh, dengan konseptual, dengan kreatif secara konsisten. Kalau kita lebih banyak sembunyi, cari aman, dan baru muncul saat pemilu, maka rakyat tidak bisa langsung percaya.

Point saya, pasangan Mega-Prabowo dan pasangan JK-Wiranto bisa saja kalah voting. Tapi kalau mereka terus berkarya, melaksanakan semua janji mereka, melaksanakan ide mereka, regardless status mereka sebagai pihak yang tidak terpilih dalam pemilu, maka mereka akan menjadi real winners.

Pada akhirnya, saya ingin mengulangi hal semua sudah tahu. Sejak awal tahun, semua sudah tahu SBY bakal menang. Jadi sebenarnya forget 2009. Yang harus disasar itu 2014. Jadi semua yang dilakukan 8 Juli kemarin itu adalah dalam rangka 2014. Bahkan lebih jauh dari itu, dalam rangka bangsa kita memasuki 2025, 2050, bahkan 2100.

Fundasi politik apa yang hendak dibangun? Fundasi ekonomi apa yang hendak dibangun? Fundasi kebangsaan apa yang hendak dibangun? Fundasi budaya apa yang hendak dibangun?

Saat ini SBY didukung oleh Partai Demokrat. SBY unggul sebagai presiden terpilih, dan Demokrat unggul dalam pemilihan legislatif.

Persoalan utama ada dua. Modal kemenangan SBY adalah ketokohannya. Tapi ia belum mampu menggunakan ketokohannya seperti Obama yang memobilisasi seluruh bangsa. Meski ketokohan SBY terbukti ampuh untuk menang pilpres, belum terlihat kemampuan ketokohannya mentransformasi bangsa. Agar legacy SBY bisa sejajar dengan Soekarno dan Soeharto, maka sekaranglah waktunya bagi SBY untuk menyemangati seluruh bangsa merebut kejayaan Indonesia di segala bidang. Itulah fungsi dan kegunaan ketokohan dan kepopuleran seorang pemimpin.

Persoalan kedua ada di Partai Demokrat. Partai ini masih baru. Meskipun ia berpaham nasionalis religius, belum terlihat dengan kuat apa ideologinya. Mungkin ideologinya ya itu, non ideologi alias pragmatis. Itupun baik dan terbukti berhasil di berbagai pemerintahan.

Saya punya saran bagi Partai Demokrat. Ambillah platform modern, berbasis political sciences dan senantiasa melihat ke depan. Kembangkan ideologi yang excited dengan masa depan, yang berbasis kekuatan komunitas lokal, regional maupun global. Ideologi abad 21.

Selama ini ideologi kita ditarik ulur antara kebangsaan dan agama. Problem terbesar adalah obsoletnya ideologi-ideologi itu. Ide kebangsaan, nasionalis, adalah ide awal abad 20. Sedangkan ideologi agama, buset, itu ide 1000-2000 tahun lalu. Saya percaya ide-ide kedua ideologi itu sangat relevan, tapi bukan lagi panglima dalam menjamin kelanjutan republik ini. Mereka harus “kawin” dan “melahirkan anak” ideologi abad 21.

Dengan kata lain, problem kedua kita adalah pemenang pemilu legislatif (Partai Demokrat) adalah partai tanpa ideologi yang jelas. Minimal saya tidak bisa membacanya dari konsistensi sikap di DPR selama ini.

Jadi kembali lagi. Tugas SBY adalah: memimpin. Tugas Partai Demokrat: mengembangkan ideologi abad 21.

They may fail.

Itu sebabnya tugas pasangan Mega-Prabowo dan JK-Wiranto beserta partai-partai pendukungnya sama sekali belum selesai. Karena kedua tugas itu adalah tugas mereka juga.

Kita tunggu si 2014…


  1. bener bngt moga pak sby mampu menjalankan tugas dg baik

  1. 1 Pemilih.com

    Armein ZR Langi: Memimpin…

    Mengapa SBY bisa menang? Saya nebak-nebak nih. Tapi dibanding kompetitornya, ia terbukti bisa memimpin. Minimal lima tahun terakhir. Mungkin banyak kelemahan sana-sini, tapi pemilih memandangnya lebih baik ketimbang yang lain.
    Pada ketiga kontestan, …




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: