Libur dan Kerja

Why bother taking holiday when your work is more fun?

Saya tersenyum membaca komentar ini sembilan tahun lalu di Stanford. Saat itu saya mengambil sabatical leave di Silicon Valley (SV). Dan orang di SV sangat keras bekerja. Sampai-sampai tidak ada kesempatan libur.

Kok bisa begitu ya?

Saya sendiri merenung, mengapa ada konsep kerja dan konsep libur? Kapan orang mengenali konsep ini? Bukankan manusia jaman dulu berburu atau bercocok tanam?  Jadi tidak ada konsep libur, apalagi cuti.

Mungkin sejak revolusi industri (1800an akhir) dan revolusi korporasi (sepanjang 1900an) muncul konsep ini. Orang pergi bekerja pada sebuah kantor untuk mendapatkan uang. Dan uang itu ia gunakan untuk membeli makanan dan keperluannya.

Dengan kata lain, dia sebenarnya tidak harus suka pekerjaannya. Cuma ia butuh makan. Oleh sebab itu ia mau bekerja seperti itu. Oleh sebab itu ia senang sekali libur.

Tapi kemudian, saya membayangkan orang yang terkena PHK. Ia bisa libur sesukanya bukan? Apakah dia happy?  Tidak juga.

Jadi saya bingung. Saat kita medapat kerja, kita senang kalau libur. Tapi kalau kita menganggur, kita tidak senang juga.  What exactly do we want?

Saya pikir penting sekali untuk kita menyadari siklus hidup manusia, dalam konteks kemanusiaan. Kita adalah bagian dari kemanusiaan, yang terus berjalan dengan sejarah manusia. Berevolusi. Bergerak menuju ke masa depan. Kita harus meletakkan makna hidup kita dalam kerangka ini.

Dengan kata lain, kita tidak dilahirkan untuk kemudian bekerja siang malam sekedar untuk bertahan hidup. Kita dilahirkan sebagai bagian dari eksistensi kemanusiaan. Nenek moyang kita sudah meninggal. Tanpa kita di dunia ini, kemanusian sudah ikut mati bersama mereka. Kita adalah pewaris kemanusaian, yang akan mewariskan nya kepada anak-anak dan cucu-cucu kita. Generasi berikutnya.

Jadi kita jangan berpandangan sesaat, sempit. Menghabiskan hidup kita untk bekerja siang malam, atau menganggur siang malam. Kedua-duanya terlalu sempit dan picik. Kita harus hidup, bukan bekerja, bukan menganggur. Hidup, dalam kepenuhan kita, dalam kemanusiaan kita. Memastikan kita menghidupi kemanusiaaan kita itu dan mewariskannya menjadi lebih baik.

Kalau sudah seperti ini, hidup kita menjadi lebih bermakna. Kita tahu bahwa hidup adalah kesempatan untuk menumbuhkan jiwa kita mendekat kepadaNya, mendekat pada Pencipta alam ini, mendekat pada Dia yang sedang menuntun alam semesta.

Ini tidak semata-mata being religious. Atau masuk dalam ritual-ritual sesaat yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Ini lebih pada menjalankan seluruh kehidupan dalam ritual yang lebih luas. Ritual kebenaran, ritual kebaikan, ritual keindahan.

Jadi kita tidak lagi mempertentangkan kerja atau libur. Karena dalam hidup, tidak ada kerja, tidak ada libur. Ya itu, kita hidup. Kerja menjadi ekspresi hiudp. Libur menjadi meditasi hidup.

Kita memang lebih tinggi dari hewan, apalagi tumbuhan. Tapi tidak ada salahnya kita belajar pada mereka. Bahwa mereka mengutamakan hidup, bukan kerja, bukan libur. Tapi tentu kita harus lebih baik dari mereka, karena kita menjalankan kemanusiaan kita dalam kesadaran penuh.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: