Bisnis Kepentingan Publik?

Apakah semua harus di privatisasi, di swastakan, dibisniskan supaya sukses?

Dulu sekolah itu dimaksudkan untuk mendidik orang. Tapi perlahan itu menjadi bisnis. Sekolah menjadi mahal.

Logikanya, kalau di bayar mahal, maka fasilitas menjadi lengkap, dan guru bisa lebih profesional. Apakah benar demikian?

Sekarang sudah banyak rumah sakit swasta, yang didirikan untuk tujuan komersial. Jadi orang berinvestasi, kemudian membuka bisnis rumah sakit.

Klaimnya, rumah sakit semakin bersih, profesional. Apakah benar demikian?

Tidak hanya itu. Urusan ibadahpun semakin komersial. Ada orang beribadah di hotel mewah. Tour ke timur tengah. Bahkan dalam peresmian sebuah tempat ibadah di mal, terungkap adanya para pemegang saham dalam kelompok agama ini.

Saya pikir tentu terserah si enteptreneur dan orang yang mau jadi pelanggan. Karena selama ada pasar untuk itu, maka ada saja pengusaha yang mau berbisnis di situ.

Tetapi saya masih tidak sreg dengan komersialisasi layanan publik. Saya setuju pelayan publik itu harus dikompensasi dengan baik. Sesuai dengan nilai layanan itu. tetapi mengemasnya jangan dalam sistem untuk mengejar laba. Karena begitu organisasinya mengejar laba, maka layanan publik menjadi pilih kasih. Pilih yang bisa bayar, bukan siapa yang perlu.

Saya setuju ada konsep entrepreneur di dalam layanan publik. Tetapi kita tidak boleh mencari profit dari kesusahan orang lain, dari keinginan belajarnya, dari keinginannya untuk sembuh, dari keinginannya untuk mendapat perkenan Tuhan.

Tidak masalah bisnis kantin di rumah sakit, bisnis alat tulis di sekolah, atau bisnis perlengkapan di tempat ibadah. Tapi substansinya, untuk mendapatkan pendidikan, kesembuhan, dan pengembangan iman haruslah terjangkau dan diberikan tanpa pilih kasih.

Jadi kuncinya bagaimana membuat balance antara mana yang gratis dan mana yang bayar. Seperti Google itu. Free untuk search engine, tapi bayar untuk iklan bukan? Kalau Google bisa, kita juga mestinya bisa.


  1. Public services science ya Pak…🙂

  2. Untuk masalah gereja di mall atau hotel, saya memandang dari sudut pandang lain.

    Mungkin kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka dengan tuduhan komersialisasi agama. Izin membangun gereja masih susah di Indonesia. Jangankan izin, masyarakat sekitar saja kadang-kadang tidak setuju. Atau ada sekelompok orang yang mengatasnamakan organisasi tertentu yang menutup secara paksa/merusak gereja. Dan inipun juga berlaku untuk gereja rumah atau ibadah yang diadakan di rumah-rumah.

    Oleh karena itu jangan heran kalo di satu mall bisa ada 5 gereja berbeda dalam 4 lantai. Memang harga sewa per bulannya sangat mahal. Tapi selama kondisi indonesia “tidak begitu bersahabat” dengan gereja, ya mungkin itu salah satu solusi. Kalo tidak, mau ibadah di mana lagi?

    Maaf kalo kometar saya menyinggung SARAK (suku agama ras antargolongan dan komersil)😀

  3. badu

    Kata Soros Pak, saat profesi (guru, dokter, etc) sudah dibisniskan. Maka tunggu saja kemunduran sebuah masyarakat.

  4. badu,

    ah, soros kan yahudi, ngapain didengerin….

  5. ntz

    Wah, jangankan kepentingan publik pak… pasal di UUD 1945 tentang bumi, air, dan kekayaan alam negara ini saja sudah diperjualbelikan… sementara tujuan asalnya adalah dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat…😥




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: