Inner and Outer Sources of Happiness

Apa sumber kebahagiaan kita? Ada yang berasal dari dalam (inner sources) dan ada yang berasal dari luar (outer sources). Keduanya saling terhubung.

Apa sih kebahagiaan itu? Ada banyak konsep. Ada yang abstrak, tapi ada yang sangat fisikal. Masing-masing ada benarnya. Tapi saya ingin kita selalu memverifikasi konsep kita itu dengan realitas. Dan dalam realitas itu, kebahagiaan kita rasakan saat tubuh kita nyaman, pikiran kita damai.

Dalam bentuk dasar, kita dapat merasakan pleasure dan dapat menghindari pain. Dan ini sering berbentuk mengalirnya kimia tubuh, homon tubuh. Senang dan sakit, pleasure dan pain, itu kita rasakan saat terjadi perubahan kimia tubuh kita.

Saat kita masih kecil, kimia tubuh itu di picu, ditrigger oleh banyak persitiwa di luar kita. Mulai dari belaian orang tua kita, kata-kata manis, suapan makanan, sampai pada bentakan, cubitan, dan cambukan. Tubuh kita mengasosiasikan peristiwa di luar kita itu dengan peluang atau ancaman bagi eksistensi, keberadaan, dan keberlanjutan kita dalam perjalanan evolusi kehidupan. Bila peluang membesar, tubuh kita mengeluarkan kimia yang membuat kita senang dan excited. Sebaliknya saat ancaman membesar, tubuh kita mengeluarkan kimia yang menyakitkan.

Jadi kuncinya ada pada kemampuan mengendalikan kimia pleasure dan pain itu. Lebih tepatnya, kemampuan mengendalikan trigger adri kimia itu.

Saat kita mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan, maka sumber kebahagiaan dari luar itu seakan macet. Kita sangat butuh sumber kebahagiaan dari dalam diri kita sendiri. Artinya kita sendiri sanggup membuat trigger-trigger untuk memicu kimia pleasure dalam tubuh kita. Ini membutuhkan kesadaran yang tinggi, kedewasaan yang tinggi. Karena kita perlu mengenali emosi kita, kemudian mengenali apa pemicunya. Kemudian kita mengcounter perasaan negatif kita itu dengan trigger-trigger positif yang baru.

Memang sumber kebahagiaan internal, yaitu kesanggupan memicu kimia positif itu tanpa bantuan dari luar, sangat penting. Tapi tidak berarti kita tidak butuh orang lain. Karena ternyata kebahagiaan terbesar akan terjadi saat kita bisa memicu kebahagiaan orang lain. Banyak orang mengakui bahwa saat ia mampu membuat orang lain bahagia, maka kebahagiaan dirinya menjadi lengkap.

Ini membawa kita pada konsep yang baru tentang outer happiness. Sumber kebahagiaan eksternal kita bukan lagi trigger-trigger dari luar untuk menyenangkan kita. Tapi trigger-trigger dari kita untuk menyenangkan mereka. Banyak orang menyepakati bahwa pada akhirnya kebahagiaan terbesar adalah saat kita bisa memberikan kontribusi pada orang lain.

Ya memang, kita adalah makhluk individualis sekaligus makhluk sosial. Individualis, karena kita punya jati diri. Keunikan. Dan sumber kebahagiaan internal. Tapi itu tidak lengkap. Kebahagiaan kita baru lengkap saat kita menjadi makhluk sosial juga. Saat kebahagiaan internal kita sanggup membuat kita bisa memicu kebahagiaan orang lain. Dan kebahagiaan orang lain itu menjadi outer sources yang menyempurnakan kebahagiaan kita.


  1. ….wah bagus sekali pak Armein tulisan ini…penuh kedalaman spiritual…..




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: