Antara Truth, Goodness, and Beauty

Dalam mengabil keputusan, di antara tiga hal: truth, goodness, dan beauty, yang terpenting adalah truth.

Kita terpesona pada yang indah, beautiful. Seringkali kita tidak bisa menjelaskannya. Pokoknya cocok. Dan kita langsung membuat keputusan berbasis beauty ini.

Menurut saya ini akibat otak kita memiliki apa yang disebut rule of thumb, aturan singkat untuk mempercepat pengambilan keputusan. Aturan singkat, atau aturan sederhana ini mem by-pass mekanisme berpikir. Ia appeal langsung kepada perasaan kita. Emosi kita. Sehingga kita merasa senang, dan cocok.

Ini terjadi saat kita masuk ke dalam toko. Dan membeli sesuatu yang kita tidak terlalu perlu. Barangnya menarik kita. Kita merasa cocok. Kemudian kita memutuskan untuk beli.

Kualitas keputusan akibat terpesona itu tidak baik. Itu mirip dengan kualitas keputusan akibat rasa takut. Sama-sama berbasis emosi. Perasaan.

Jaman sekarang orang mengagungkan tujuan, sasaran. Mengagungkan prinsip. Maka keputusan yang diambil didasarkan pada pencapaian tujuan dan mematuhi prinsip. Apakah pilihan itu mendukung tujuan? Apakah tidak terjadi pelanggaran prinsip? Bila ya, maka kita melakukannya.

Saya menyebut pola pengambilan keputusan seperti ini sebagai pola berbasis goodness. Baik. Baik karena ia dimaksudkan untuk membawa kita pada tujuan. Ia sejalan dengan prinsip kita. Moralis.

Saya pikir cara ini sudah jauh lebih baik ketimbang berbasis beauty tadi. Sudah berbasis pikiran dan ideologi, bukan perasaan. Oleh sebab itu, cara ini yang paling sering diajarkan pada banyak latihan kepemimpinan. Pada pemerintahan. Pada kemiliteran. Pada bisnis, seperti sekolah MBA.

Sayangnya, cara ini ternyata tidak selalu berhasil. Coba lihat misalnya krisis ekonomi yang terjadi. Semua prinsip sudah dituruti. Semua aturan sudah dijalankan. Tapi tetap saja terjadi krisis.

Dalam skala yang lebih besar kita bisa lihat juga kegagalan prinsip ideologi. Di awal abad 20, semua mengaggungkan privatisasi. Entrepreurships. Tapi kemudian terjadi krisis ekonomi, dan depresi yang parah di tahun 30an. Akibatnya tumbuh komunisme, sosialisme. Bahkan FDR mencanangkan campur tangan pemerintah yang sangat kuat dalam ekonomi. Dan ekonomi membaik

Tapi kemudian, bandul bergerak ke arah berlawanan. Perlahan sistem komunisme ambruk. Ekonomi berpindah dari sosialisme ke kapitalisme. Di era Tatcher, Reagan, dan Gorbachev, kita menyasikan kemenangan individuliasme dan kapitalisme terhadap sosialisme. Komunisme dan sosialsme dianggap salah, dan Russia dan Cina masuk ke kapitalisme.

Tapi hari ini trend itu kembali berlawanan. Privatisasi terhenti. Nasionalisme kembali terjadi. Dan munculnya Internet membuat tumbuhnya sosialisme baru. Seperti komunitas opensource, social networks, serta inisiatif grassroot. Muncul konsep social entrepreneurships. Berbagai ide komunis menjelma kembali melalui Internet.

Poin saya, pendekatan menggunakan prinsip-prinsip ideologis pasti tidak lama. Tidak kekal. Di suatu titik ia akan gagal. Pendekatan goodness itu pasti gagal.

Karena yang paling berkuasa di dunia ini adalah realitas. Fakta. Kebenaran. Truth. Orang yang mencoba-coba menyederhanakan the truth itu ke dalam prinsip-prinsip ideologis, apalagi prinsip rule of thumb, beauty , menipu diri sendiri. Ia tidak belajar dari sejarah.

Ini tidak berarti beauty dan goodnes itu tidak penting, atau tidak perlu. Itu penting dan perlu. Tapi mereka tidak bisa mengganti kebenaran. Fakta. Realitas. Truth.

Sekarang bagaimana menemukan the truth itu?

OK, jujur saja, I am still working on it🙂

Hasil sementara saya adalah demikian. The truth itu menuntun pergerakan dunia ini, sejak big bang 14 miliar tahun lalu sampai hari ini. Dan Ia menuntun universe ini menuju masa depan. The truth itu menggerakkan dunia ini menurut hukum thermodinamika, hukum ekonomi, dan hukum kehidupan.

Kita sudah tahu banyak, tapi kita masih harus belajar banyak. Untuk mengerti the truth, kita harus bersedia belajar. Bersedia berubah. Bersedia menjadi manusia baru setiap hari.

Kalau kita baru mengecap snapshot dari the truth, maka kita melihatnya sebagai beauty. Potret. Menyenangkan. Tapi dua dimensi, rawan manipulasi, dan tidak menjelaskan seluruh kebenaran.

Kalau kita tahu cukup banyak tentang the truth, tapoi belum lengkap, dan kita berhenti di situ, maka itu menjadi ideologi. Dan ideologi itu berhasil atau gagal berdasarkan siklus musim.

Mengetahui the truth itu adalah terus mengenali The Essence. Setiap hari. Dengan pengertian yang terus diperbaharui. Yang selalu konsisten dengan realitas.

Oleh sebab itu, orang yang dekat dengan the truth itu tidak pernah mau menjadi terlalu ideologis (baca: moralis). Apalagi terlalu mengagungkan beauty (baca: perasaan). Itu semua indikasi kemalasan untuk berubah. Dan itu semua menghalanginya mendekat pada the truth.

Jadi kita semua harus selalu berjuang untuk mengenali kebenaran. Dan mendasarkan tindakan kita pada kebenaran. The truth.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: