Alasan Moral

Alasan moral sangat problematik. Apalagi bila digunakan seorang pemimpin.

OK, mungkin isu yang saya angkat ini bikin kita bingung. Apa maksudnya?

Alasan moral itu adalah alasan yang seringkali terlalu kuat. Susah dibantah. Tapi itu sebenarnya tidak ada dasar logikanya. Dan terlalu subyektif.

Misalnya, nasehat kita harus menabung. Nasehat ini terus menerus didengungkan. Tanpa banyak penjelasannya. Lama-lama ini menjadi seperti moral. Kita patuh tanpa tahu mengapa. Kalau kita menggunakan uang, kita seperti melanggar moral.

Padahal kalau semua menabung, maka toko akan tutup. Cafe2 akan tututp. Bioskop akan tutup. Kecuali toko sandang pangan dan kebutuhan dasar. Akibatnya kehidupan ini tidak menarik lagi.

Jadi seorang pemimpin sebenarnya harus mampu melepasakan diri dari alasan moral. Dari pertimbangan moral. Dia tidak bisa mengambil keputusan dengan alasan, karena sudah seharusnya begitu.

Saya mau tambah bikin bingung lagi, hehe

Ambil contoh Obama. Sejak pecah kerusuan di Iran, dan tewasnya Neda, dia harus mengambil keputusan bagaimana harus bersikap. Lawan politiknya mengecam Obama karena bersikap lunak pada pemerintah Iran. Kan pemerintah Iran mempermainkan hasil pilpres. Seharusnya, sebagai pemimpin demokrasi, Obama harus bertindak keras pada pemerintah Iran, demikian kata pengkritiknya.

Itu alasan moral.

Dalam pikiran Obama tidak begitu. Obama menggunakan akal sehat. Menurut statistik, Ahmadinejad menang. Kalaupun ada kecurangan, tidak mungkin kecurangan sebesar itu. Meskipun Obama tidak ingin Ahmadinejad menang, tapi logika nya mengatakan rakyat Iran sudah berbicara. Dan dia harus siap untuk berhubungan dengan presiden terpilih Ahmadinejad.

Obama tidak menggunakan moral. Ia menggunakan logika.

Contoh lain, orang sering mengasosiasikan moral dengan uang. Kita harus berhemat, sehemat mungkin. Kalau tidak kita melanggar moral.

Padahal uang sudah dianggarkan. Karena sikap mau menghemat, banyak program menjadi korban. Banyak orang menjadi kecewa. Banyak excitement menjadi hilang. Berganti menjadi minimalis.

Padahal uang itu tidak menyebabkan pelanggaran moral. Tidak ada urusannya. Uang itu netral. Dicetak Bank Sentral. Urusan moral selesai, saat kita sudah mengalokasikannya. Nah bila hasilnya tidak maksimal, itu baru mungkin menjadi pelanggaran moral.

Jadi saya berpendapat, moral itu adalah urusan pribadi. Ini bisa membuat kita masuk neraka. Tapi moral tidak perlu di bawa pada ruang decision making bersama. Itu membuat kita kehilangan akal sehat.


  1. Bener euy, ini bikin saya jadi bingung :p

  2. rizki

    perumusan yg baik pak.
    intinya mungkin rasional, dan ga normatif.

  3. Wah, terima kasih uraianya pak.

    Cuman, pada tataran tertentu, tentu seorang pemimpin mesti menggunakan moral juga untuk memutuskan sesuatu terutama pada sistem yang otoriter. Tak terbayang kalau, misalnya, JK tidak menggunakan moralnya untuk menyerukan supaya Bu prita dibebaskan. Kenyataanya memang aparat hukum yang keliru dalam meterjemahkan aturan – aturan hukum kan? Apalagi kalau memeng benar bahwa ada fasilitas pengobatan gratis buat para jaksa tersebut dari RS Omni.

    Mungkin seorang pemimpin sebaiknya bijaksana saja……

    Salam,

    Dedi Iskandar
    Dari Manokwari, Papua Barat

  4. Moral dan rasio, dua hal yang seringkali tidak sejalan dan telah menjadi perdebatan sejak dulu.
    Untungnya banyak aspek normatif yang bisa dinalar.

  5. Betul Pa, Alasan moral (baca Suara Hati) itu sangat kuat, ia selalu bergema memaksa/mendorong kita untuk memutuskan/berbuat yang paling baik, yang paling benar. Jika tidak mengikutinya, kita akan merasa bersalah. Oleh karena itu terkadang ia juga disebut sebagai suaranya Tuhan dalam diri kita.
    Tetapi Pa, ketika memutuskan mana yang terbaik, dia menggunakan logika/pikiran, untuk menimbang-nimbang berdasaran pengetahuan kita, berdasarkan ajaran yang kita anut, berdasarkan aturan (hukum, adat/budaya/kebiasaan) yang kita anut.
    Seperti dalam contoh menabung, sejak kecil kita diajarkan bahwa menabung itu baik, sehingga ketika kita tidak menabung, maka kita merasa bersalah. Disini yang salah bukan keputusan moral-nya, tetapi karena pengetahuan kita tentang kebaikan dari menabung tersebut.

  6. manusia bukan lah robot yang diprogram A B C D.

    Manusia selain punya rasio dan insting, punya juga hati, perasaan, emosi, dan MORAL.

    Jadi menurut saya tidak ada masalah dengan moral. Moral tidak selalu berbanding terbalik dengan akal sehat, tapi justru bisa memperkaya (nah sekarang saya yang bingung karena pernyataan sendiri😀 )

  7. stenly - USM Penang

    Karena tulisan tentang alasan moral lompat dari satu idea ke ide lain, dengan satu , dua contoh, maka konsep moral yang disajikan menjadi sangat dangkal. Padahal seperti penulis sendiri mengakui dalam awal tulisan , moral itu problematik, tapi koq bisa dibuat kesimpulan tentang moral semudah yang dituliskan…
    kadang – kadang kita melahirkan gagasan sesaat yang tidak dapat mengakomodasi makna sesungghnya dari apa yang dibicarakan. Tentang moral, manusia sepanjang abad diseluruh dunia membicarakannya, tp dalam blog ini moral dibicarakan seperti, sebiji jagung yang terlepas dari tangkainya..
    Tp ya sudahlah, saya mengerti tulisan pendek ini saya anggap tidak dapat menambahkan atau mengurangi makna moral adalam semua aspeknya…

  8. azrl

    @ided. Betul, tapi pada akhirnya Prita dibebaskan juga karena alasan hukum kan ya, yaitu UU ITE tidak bisa digunakan jaksa dalam kasus ini.

    @Stenly. Hallo pak, mungkin memang tulisan itu kurang tegas. Tulisan ini tidak mempersoalkan moral. Semua orang harus bermoral. Tapi tulisan ini mempersoalkan penggunaan alasan moral pada tindakan, pada hal-hal yang bukan menjadi obyek dari moralitas.

    • stenly

      sepengatahuan saya, semua hal dapat menjadi obyek moralitas pak yang material dan immaterial. Karena Subyek (kita) dapat memberi nilai dan makna moral terhadap segala hal (obyek). Tp mungkin yang bapak inginkan adalah tidak menggunakan alasan moral yang sama pada semua hal, yang jelas memiliki perbedaan baik dalam level fisik dan metafisiknya? Bisa jadi tulisan – tulisan bapak yang lain dapat menjelaskan lebih lanjut… salam untuk keluarga pak Armein..




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: