Sekolah Unggul?

Niatnya patut dihargai. Tapi banyak orang terlalu berani mendirikan sekolah unggul.

Sekitar dua tahun lalu kami tergoda untuk memasukkan Marco ke sekolah “unggul”. Uang sekolah mahal sekali, tapi demi anak bungsu, kan ya.

Tapi tidak jadi.

Ceritanya Marco diujicoba dulu tiga hari, sambil diobservasi guru. Tapi mulai timbul keanehan. Menurut guru nya ada yang tidak beres pada Marco. Harus di psikotes.

Setelah diberi alamat psikotes Unpad di dago atas, kami jalani. Hasilnya, Marco baik, cerdas.

Begitu hasilnya di bawa, kepala sekolah bingung. Kok hasilnya baik sih? Kan Marco bermasalah? Ini psikolog nggak bener. Kemudian dikasih lagi alamat baru. Seorang psikolog swasta.

Dari diskusi itu terungkap bahwa kepala sekolah ini lulusan seni rupa. Tapi merasa punya ilmu mendidik dan ilmu mengenali anak. Dia menjelaskan dari gambar-gambar Marco, bahwa Marco punya masalah ini, itu, dsb. Sampai ke masalah spiritual segala.

Wah, saya kehilangan kepercayaan. Ini sih bisnis perdukunan, berkedok ilmu pendidikan.

Saat itu juga saya memutuskan untuk tidak mau. Berbahaya sekali.  Mau mengutak-ngatik psikologi anak. Ujungnya Marco bisa rusak. Sambil minta maaf ke Marco, kami putuskan untuk dia tetap di sekolahnya yang sekarang. Memang tidak unggul, tapi it is an open school. Diawasi Diknas. Kurikulumnya jelas.

Ngaco nya pun jelas. Gurunya suka pikaseubeuleun, tapi bukan dukun…

Masih mending dapat guru yang kurang kompeten ketimbang guru yang merasa ahli, berbekal ijazah seni, kemudian menerapkan tindakan kejiwaan yang presumtif sekali. Saya saja yang dosen puluhan tahun dengan ijazah S3 tidak berani.

Pada dasarnya, untuk membuat sekolah unggul, kita harus punya konsep unggul. Kita sendiri harus pendidik unggul. Kita sendiri harus didukung oleh komunitas pendidikan dengan prinsip terbuka. Dapat dipertanggungjawabkan. Kita sendiri harus memegang ijazah yang pas, kompeten.

Talented students must be taught by talented maestros.

Tadi saya melihat iklan spanduk sekolah unggul. Saya menghargai keinginan orang untuk mencetak anak-anak Indonesia yang unggul. Tapi itu harus mulai dengan diri sendiri. Si pendiri dan pengajar harus membuktikan diri dulu keunggulan mereka di bidang ini. Dia harus publish konsepnya di komunitas ilmu pendidikan. Baru bisa.


  1. iya pak, klo soal pendidikan sih kayaknya mending mempercayakan sama yang standar-standar aja deh.. yang uda jelas kurikulumnya. sekolah unggul itu kan rata-rata baru, masih blm ktauan sistem dan mutunya. =P

  2. untuk menjadi ‘unggul’ bukannya tahapannya panjang ya? selain terbukti juga diakui..

    lagipula, bukannya sekolah yang ‘unggul’ itu yang bisa produce desired output regarding whatever input given?

    kalau dari awal sudah pilih2.. kok mengaku-ngaku ‘unggul’?

    keputusan yang tepat sepertinya Pak, sekolah unggul belum tentu jadi tempat yang nyaman untuk belajar (bahkan yang sudah terbukti/diakui sekalipun).

  3. Saat ini, terlalu banyak pilihan sekolah. Bikin bingung. Menurut saya, orangtua yang harus punya konsep, anaknya ingin dididik seperti apa. Barulah pilih sekolah yang paling sesuai…

  4. hati2 pak, nanti dituntut lho ama yayasan penyelenggara sekolah unggul itu. pencemaran nama bagus.

  5. Hahaha mau ketawa pak waktu pak Armein sebut kepsek nya mempraktekkan perdukunan 🙂




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: