Beda Bekerja dan Berjuang

Bekerja dan berjuang itu sama-sama berusaha. Tapi berjuang itu berarti berusaha mencapai tujuan meskipun kondisi tidak mendukung.

Saya sering mengeluh. Kalau kondisi kerja seperti ini, bagaimana orang bisa berprestasi?  Fasilitas tidak memadai. Peralatan tidak lengkap. Uang tidak cukup.

Enak sekali dosen di luar negeri. Fasilitas lengkap. Kondisi kerja lebih teratur. Dana lebih banyak.

Dan ini terjadi di segala bidang, bukan?

Tadi siang mendadak saya tertegun berpikir. Kalau Sukarno, Hatta, Sudirman dan kawan-kawan bersikap seperti itu, Indonesia akan tidak pernah merdeka.

Kondisi peralatan tentara Indonesia pasti kalah ketimbang kondisi tentara penjajah. Kondisi dukungan pasti kalah. Jangan kan dukungan. Boror-boro dana. Upaya mereka disusahi pemerintah penjajah. Pemimpinnya ditangkapi dan dibui.

Sekarang saya tanya. Kalau ada larangan dari pemerintah bagi dosen ITB untuk mengajar, dan barang siapa mengajar dengan baik akan dibui, kira-kira kita akan mengajar dengan baik? Tentu tidak bukan. Kita semua akan berhenti mengajar dan menyalahkan pemerintah atas keadaan ini.

Tahu nggak? Larangan seperti itu beneran diterapkan pada Sukarno dan kawan-kawan oleh pemerintah. Tapi mereka menolak untuk menyerah. Dan mereka keluar masuk penjara karenanya.

Nah menurut saya di situlah beda bekerja dengan berjuang. Kita bekerja untuk dapat gaji. Untuk dapat jaminan hidup. Untuk itu kita menuntut fasilitas bekerja yang memadai.

Sukarno cs itu berjuang. Tidak ada fasilitas kerja. Tidak ada jaminan gaji. Tidak ada jaminan hari tua. Bahkan tidak ada jaminan keselamatan.

Meskipun kondisi Indonesia sudah jauh lebih baik hari ini, hingga kita semua bisa bekerja dan di gaji, konsep berjuang masih sangat relevan.  Kekurangan masih banyak di sana-sini.

Tuntutan ITB menjadi world class university itu, misalnya, memang berat sekali.  Saya sering mendengar tertawaan orang. Mana bisa ITB bisa worldclass, padahal fasilitasnya masih begini. Orang-orangnya masih begitu.  Mimpi kali yaa?

Saya cuma ingin bilang, cemoohan itu juga dialami founding fathers kita. Indonesia merdeka? Bangsa kelas dunia? Mimpi kali yaa?

Kalau mereka bisa berjuang sehingga di tahun 1945 kemerdekaan kita itu terwujud, maka kita juga bisa. Kita harus berjuang. Kita harus berangkat dengan asumsi fasilitas itu tidak ada. Dengan sumsi dukungan itu tidak ada.  Kita harus memperjuangkan segala sesuatu.

Dan buah dari hasil perjuangan itu manis sekali….


  1. Setuju sekali Pak. Harus berjuang. Kita bisa.

  2. Renny

    Ah! Another piece for completing my puzzle. Thank you very much, Sir….🙂




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: