Emosi

Satu nasehat Prof Kudrat (alm) yang terus terngiang adalah: “Kalau berpikir jangan emosional, kalau bertindak perlu emosional…”

Di suatu sore, saya sedang pusing dan mengeluh pada beliau. Dan nasehat itu meluncur. Jujur, saat saya dengar nasehat ini saya tidak begitu mengerti mengapa. Ya saya mengerti maksudnya, tapi saya tidak mengerti apa untungnya.

Baru belakangan ini, setelah lebih dari sepuluh tahun sejak sore itu, saya rasa saya mengerti wisdom dari nasehat itu. Mengapa begitu.

Emosi membuat pikiran kita dipenuhi dengan energi. Energi untuk bertindak.

Nah itu sangat mengganggu saat kita perlu berpikir, mencerna informasi yang masuk, dan mengambil keputusan.  Saat kita berpikir, kita perlu melihat fakta, situasi yang sebenarnya. Jernih. Pertimbangan harus optimal. Dan itu sangat sukar dilakukan saat kita emosi.

Jadi benar Prof Kudrat, emosi tidak boleh ada saat kita mendengar ada masalah atau ada situasi berpotensi buruk yang datang.  Kita tidak boleh mengijinkan perasaan apapun. Dengan demikian kita bisa dengan jernih melihat situasi dan menimbang-nimbang. Kemudian kita harus membuat hati kita senang, barulah kita membuat keputusan.

Bagaimana keputusan dibuat?  Keputusan dibuat untuk memilih tindakan yang semakin mendekatkan kita pada cita-cita kita.

Nah, saat keputusan kita sudah dibuat, barulah emosi kita keluarkan. Barulah emosi kita kerahkan. Untuk memboboti tindakan. Untuk menegaskan tindakan. Untuk menguatkan tindakan. Untuk memaknai tindakan.

Emosi mana yang harus digunakan?  Emosi yang terkait dengan pencapaian impian dan cita-cita kita itu. Bayangkan perasaan kita saat cita-cita kita tercapai. Dan perasaan itulah yang kita timbulkan saat kita bertindak.

Kita sering keliru. Begitu ada informasi negatif masuk, informasi tentang potensi keadaan yang buruk, maka emosi kita yang terasosiasi dengan situasi buruk itu keluar. Atau sebaliknya, informasi yang bagus membuat kita senang.

Sekilas, ini OK. Tapi sebenarnya tidak. Karena berarti perasaan kita ditentukan informasi, trigger dari luar. Jangan mau dunia luar yang mengubah-ubah emosi kita.

Emosi itu harus dalam kendali dan perintah kita.  Saat kita menerima informasi, dan mempertimbangkan respons kita, simpan baik-baik emosi kita.  Nah saat kita hendak bertindak, kerahkan emosi positif kita untuk memperkuat tindakan kita.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: