Takut dan Kesalahan

Orang selalu waspada, takut berbuat salah. Menurut saya, kita harus lebih waspada terhadap rasa takut berbuat salah itu…

Bingung, nggak?

Saya pikir-pikir, ternyata bahasa Indonesia menggunakan istilah salah untuk banyak hal. Salah digunakan sebagai padanan dari false, lawan kata dari benar. Salah juga dipakai untuk istilah wrong, keliru. Dan salah juga dipakai untuk mistakes, tindakan yang tidak berakibat pada hasil yang diinginkan. Dan kata bersalah berarti guilty, layak dihukum.

Jadi untuk empat hal yang berbeda itu, kita menggunakan akar kata yang sama: salah.

Akibatnya kita jadi penakut untuk bertindak atau berinisiatif. Tidak ada jaminan tindakan kita itu akan menghasilkan hasil yang kita inginkan, bukan? Nah kita kemudian mengkacaukan mistakes, dengan wrong, false, dan kemudian guilty.

Padahal mistakes itu sebenarnya netral. Bebas nilai. Itu adalah tindakan yang tidak menghasilkan. Seperti anda ikut ujian dan belum lulus. Anda berjalan dan terantuk batu dan jatuh. Anda menyapa orang tidak dibalas. Cari dana tidak dapat. Jual barang tidak laku. Masukkan proposal dan kalah.

Dari semua itu, anda biasanya menganalisa: salah nya di mana?

Jangan begitu. Karena begitu anda menggunakan istilah salah, maka semua pengertian yang terasosiasi dengan salah (seperti false, wrong, dan guilty itu) akan ikut masuk ke dalam pikiran kita.

Dan itu menakutkan. Itu secara tidak sengaja membuat kita menjadi bad person, stupid person, atau bahkan ujungnya bisa dipecat, masuk penjara, atau bahkan masuk neraka.

Padahal mistakes itu adalah sumber ilmu, sumber pelajaran. Semua orang di dunia ini belajar dari mis-takes, miss of taking action. Guru dan pendidik selalu memanfaatkan miss (delta, selisih dari apa yang seharusnya dan apa yang ada) itu untuk menjadi daya gerak perbaikan.

Akurasi sistem feedback peluru kendali selalu memanfaatkan selisih antara tujuan dengan keadaan sekarang. Harimau saat berburu kijang selalu bermanuver sesuai dengan pergerakan kijang itu. Manuver itu selalu didasarkan pada selisih, delta, miss antara apa yang diinginkan dengan hasil yang ada.

Dengan kata lain, semua sistem yang sukses menghadapi kondisi yang dinamis selalu memanfaatkan mistakes sebagai umpan balik utama.

Jadi sudah jelas, dalam hidup yang selalu berubah ini, kita akan selalu membuat mistakes. Dan your first action usually did not produce desired result.

Jangan takut dan jangan kuatir. Jangan asosiasikan itu dengan wrong, false atau guilty. Justru kita belajar dari situ, beradaptasi, dan melakukan manuver baru.

Jadi mistakes baru menjadi wrong kalau kita tidak belajar apa-apa dari situ untuk tindakan berikutnya.


  1. wah, bagus sekali Pak.

    coba kita perjelas definisi-definisi tersebut.

    false : palsu? keliru?
    wrong : salah
    guilty : berdosa?
    mistakes : luput

    bagaimana menurut Pak Armein?

    • azrl

      @kahirulu: terjemahan yang bagus, saya senang. Salam saya




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: