Ketika Uang Merusak

Uang sebenarnya netral. Sikap kita terhadap uang itu yang merusak. Yang merampok fun kita.

Saya pikir ada tiga besar keinginan manusia yang menjadi sumber masalah dan penderitaan: keinginan hawa nafsu, kesombongan (pride), dan cinta uang. Ketiga hal ini harus dikuasai, bukan menguasai kita.

Kapan uang itu merusak?

Dalam berbagai kesempatan, saya melihat orang dilemahkan karena uang.  Banyak fun menjadi hilang karena urusan uang.

Di kantor-kantor pemerintah misalnya.  Saya pernah mengusulkan kegiatan TIK untuk pedesaan.  Saya berusaha supaya proyek bisa semurah mungkin. Untuk desa bukan?  Tapi pejabat pemerintah ini tidak begitu tertarik.  Karena kalau murah begitu, dia kebagian berapa?

Betapa banyak decisions yang tidak optimal terjadi karena pola pengambilan keputusan ditentukan oleh “saya dapat untung berapa?” Padahal kalau kta bekerja di pemerintah, berarti kita melayani publik. Kita nonprofit.  Keuntungan publik lebih penting, bukan profit saya.

Pihak swasta apalagi.  Kalau kita tidak punya uang, mana mau dia tengok. Saya bekerja pada sebuah kepanitiaan.  Dan kami bekerjasama dengan pihak swasta. Saya lihat mitra saya ini tidak happy, karena keuangan masih tidak jelas. Padahal we are having fun, and they miss all the fun. Karena yang penting buat mereka itu adalah mereka akan dapat profit berapa.

Kondisi kerjasama bisa rusak karena isu uang.  Sering saya mendapat berita atau sms tidak jelas. Pihak sana dapat uang sekian. Pihak situ minta uang lebih besar dari kita.  Alokasi budget untuk unit itu kok lebih besar dari kami. Dan sebagainya. Akhirnya suasana iri, curiga dan cemburu merusak kreativitas dan fun bekerjasama. Kita jadi lupa tujuan bersama, dan menghabiskan energi saling memperebutkan uang.

Uang adalah alat. Ia adalah hamba kita yang baik. Tapi ia kekasih yang buruk sekali. Cinta kita kepadanya akan membuat kita menderita amat sangat. Dan ia tidak peduli sama sekali.

Saya belajar banyak dari pengalaman dan belajar untuk melunturkan cinta uang itu. It does make me happier.

Lebih penting adalah bisa menikmati apa yang anda ingin beli, daripada memiliki uang nya itu sendiri. Maksud saya, kalau saya mencari uang Rp 50,000 untuk beli Pizza, saya lebih senang bisa menikmati makan Pizza itu ketimbang punya Rp 50,000 itu. Dan seringkali ternyata Pizza itu saya bisa makan tanpa bertarung merebut Rp 50,000 tersebut.

Uang memang diperlukan. Tapi secukupnya saja. Lebih dari itu, ia bisa meracuni kita.  Seperti kolesterol.


  1. Ya hidup pas-pasan aja deh…pas butuh uang…ada uang…pas gak…ya gak ada…hehehe…jadi gak bakal teracuni oleh “racun dunia” ini….

    http://sendit.wordpress.com

  2. Zuid

    Orang mencari uang sbg alat untuk mendapatkan kebahagian. Ketika disodori kebahagiaan, eh malah gak mau, malah lebih milih uang, aneh deh🙂

  3. Uang: masalah berat yang paling ringan…😀

  4. Lebih penting adalah bisa menikmati apa yang anda ingin beli, daripada memiliki uang nya itu sendiri. Maksud saya, kalau saya mencari uang Rp 50,000 untuk beli Pizza, saya lebih senang bisa menikmati makan Pizza itu ketimbang punya Rp 50,000 itu. Dan seringkali ternyata Pizza itu saya bisa makan tanpa bertarung merebut Rp 50,000 tersebut.

    Saya suka sekali dengan paragraf kedua terakhir, pak.. Sangat inspiring..🙂




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: