Alasan Mengapa Kalah

Seorang petinju mengeluh kepada kawannya, “Di pertandingan kemarin saya menyerah kalah karena lawan saya licik. Mukul terus. Saya sudah berusaha menghindar, dia terus mencecar saya …”

OK, I made it up 🙂

Tapi bukankah kita selalu begitu? Kita menghadapi kesulitan bertubi-tubi dan kita menyerah. Kemudian kita menyalahkan keputusan kita untuk menyerah itu pada kondisi dan situasi tersebut.

Padahal, sebagaimana pertandingan tinju, by default, kesulitan akan datang bertubi-tubi. Masalah akan selalu muncul. Petinju lawan tidak akan dengan sukarela membaringkan diri untuk tidur KO di lantai panggung pertandingan.

Namanya juga panggung kehidupan. Kita pasti harus elalu berhadapan dengan kesulitan. Semakin tinggi cita-cita kita, semakin banyak kesulitan yang harus kita taklukan.

Nah, ada petinju yang menghabiskan waktu untuk membayangkan kengerian dipukul musuh. Semua kemungkinan terburuk dibayangkannya. Akibatnya dia mulai bertanya, mengapa sih saya menjadi petinju? Kan ada profesi lain? Ah, saya ingin hari pertandingan itu segera lewat, supaya penderitaan saya segera berakhir. Dan dalam pertandingan itupun ia dengan cepat menyerah kalah supaya tidak menderita.

Petinju juara tidak begitu. Ia terus mempersiapkan diri. Ia berkonsentrasi. Ia latihan. Setiap masalah yang muncul dicarikan solusinya. Ya, setiap kecemasan yang muncul dianggap sebagai trigger untuk membuat solusi. Bagaimana cara menghadapi jab kanan lawan yang tangguh? Dia mencari strategi yang tepat, jurus yang tepat, kemudian berlatih menghindar dan counter attack.

Sang juara tidak pernah berpikir tentang bagaimana supaya kengerian dan penderitaan ini lekas berakhir. Ia berfokus pada solusi mengatasi masalah, dan latihan untuk mewujudkan solusi ini.

Mungkin hari ini anda sedang bergumul dengan kesulitan. Dengan tantangan yang datang bertubi-tubi. Anda mulai meragukan kemampuan diri untuk mengatasinya. Atau bahkan anda mulai mempertanyakan mengapa anda berada dalam situasi ini. Mengapa dulu mau komit menjalankannya.

Saya ingin bilang bahwa anda tidak sendiri. Enam milyar penduduk bumi juga mengalami hal yang sama. Saya juga. Karena selama kita masih hidup, selama kita punya cita-cita, kita akan bertemu situasi seperti itu. Selalu.

So, jadilah juara. Buang jauh-jauh kenegrian itu. Fokuslah pada bagaimana cara mengatasinya. And enjoy throwing your best shots and punches


  1. aWi

    Kalau kata J Peterman mah kurang lebih seperti ini:
    “When you take a risk and step out of the norm, you run the risk and sometimes you fail. But you only fail if you give up.”

    Nyambung, gak ya pak?

  2. Ngomong2 tentang Juara..saya juga ada postingan yang mantap mas…
    Silakan mampir….

    http://sendit.wordpress.com/2009/05/16/sang-juara/




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: