Ketika Beban Masalah Terlalu Berat

Rupanya tidak kuat menanggung malu Roh Moo-Hyun, Presiden Korea Selatan 2003-2008 bunuh diri. Dan seluruh Korea Selatan gempar, terkejut dan termangu sedih. Bagaimana bisa, seorang presiden yang bersyaraf baja mampu memimpin negara sekelas Korea Selatan, termasuk menghadapi ancaman Korea Utara, bisa ambruk karena masalah reputasi pribadi.

Roh menjadi presiden dengan janji sebagai presiden bersih dan bebas korupsi.  Rupanya istrinya dan iparnya pernah menerima sogokan masing-masing $1 juta dan $5 juta. Akibatnya Roh diperiksa kejaksaan. Roh sampai detik terakhir menolak keterlibatannya. Tapi ia tidak tahan, dan bunuh diri dengan terjun melompat dari sebuah gunung berbatu batu.

Dalam surat perpisahannya, ia menjelaskan betapa menderitanya dia dengan rasa malu.  Akibatnya ia sakit secara mental.  Ia tidak bisa lagi membaca atau menulis. Ia ingin mengakhiri semua ini.

Saya tidak sanggup merasakan apa yang ia rasakan.  Pasti berat sekali. Pasti menyedihkan sekali. Saya membayangkan perasaan kebuntuan yang dihadapinya. Hidup dan kariernya yang menjadi inspirasi bagi banyak orang berakhir dengan tragis.

Tetapi seharusnya orang sekelas Roh bisa melihat dunia secara obyektif. Apa adanya. Dan menjalaninya dengan lapang.

Apa sih reputasi itu? Mengapa itu lebih besar dari hidup?

Reputasi adalah citra kita di hadapan orang lain. Image. Itu cuma ilusi yang kita ciptakan di benak banyak orang.

Dengan segala maaf pada Roh, orang yang ingin menjaga reputasi sangat dekat dengan  orang sombong. Ingin dianggap tinggi oleh orang lain. Ingin dianggap baik. Jadi kalau kita begitu concern dengan apa pikiran orang tentang kita, pada hakekatnya kita orang sombong. Angkuh. Tidak rendah hati. Tidak mau menerima kecacatan kita. Tidak mau menerima kelemahan dan kekurangan kita.

Pada saat citra diri kita terganggu, kita menjadi terpukul.  Dan menjadi beban berat, sampai harus terjun dari bukit batu.

Padahal yang benar itu adalah biarlah kita fokus melakukan semua yang baik sesuai dengan jati diri kita. Biarlah reputasi muncul dengan sendirinya.  Bukan sebaliknya.  Kita bekerja keras demi reputasi.

Jadi, saat kita merasakan beban hidup sangat berat, berhentilah, renungkanlah.  Mengapa ini menjadi beban?  Mengapa ini menjadi berat? Apa yang telah mengusik kita?

Banyak hal yang menjadi beban pikiran ternyata secara obyektif tidak seharusnya menjadi beban pikiran, karena itu bagian dari siapa kita. Jangan-jangan sumber beban pikiran itu justru adalah hawa nafsu, keserakahan, dan kesombongan. Kalau benar, ngapain mau capek-capek dibebani pikiran itu?

Kita hidup di dunia yang tidak sempurna. Dan kita sendiri tidak sempurna. Janganlah ketidaksempurnaan kita atau situasi kita menjadi beban hidup. Biarlah kita di dalam ketidaksempurnaan kita itu menjadi merdeka. Merdeka menjadi apa adanya kita.


  1. Hi, nice posts there🙂 thank’s for the interesting information

  2. Perlu kita contoh Nelson Mandela. Pernah tersiar kasus yg menimpa istrinya, dan Nelson tetap mjd dirinya apa adanya.

  3. ade harnusa azril

    wah bagian akhirnya kena nih, pak…
    terima kasih

  4. Mantabh sekali Pak, seharusnya mahasiswa belajar untuk menuntut ilmu, bukan karena nilai semata,, begitu juga benar kan ya pak? :p

  5. aWi

    Mestinya Roh, minta masukan dari Bapak tentang hakekat hidup kita ini….

    Mantap sekali, pak.

  6. lirwan amir

    trimakasih, jadi saya lebih percaya diri

  7. arrum

    such a nice ending sir…
    makes me realize the beauty of imperfectness…




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: