IPA – IPS

Kalau anda anak SMA, anda akan pilih ilmu pengetahuan alam (IPA) atau ilmu pengetahuan sosial (IPS)?

Pertanyaan itu harus dijawab jutaan anak Indonesia setiap tahun. Pada umumnya memilih IPA. Alasan utama adalah lulusan IPA bisa masuk bidang apa saja.

Di situ masalahnya. Kata siapa anak IPA kompeten untuk masuk bidang apa saja? Bukankah anak IPA kurang dibekali dengan ilmu tentang manusia, terutama fenomena sosial?

Ilmu pengetahuan alam adalah ilmu tentang prinsip-prinsip alam.  Ia belajar misalnya segala sesuatu berbasis fenomena energi dan materi.  Semua itu relevan bagi hidup manusia.

Tapi itu tidak cukup.

Dalam kenyataannya semua orang di dunia berusaha hidup sejahtera. Ia ingin hidup berkecukupan. Produktif. Bermakna. Ia ingin berinteraksi dengan orang. Berdamai dengan orang. Mendapat kehangatan dari orang lain.

Meskipun hal-hal ini bisa diperoleh dan difasilitasi di atas energi dan materi, esensinya adalah fenomena sosial.

Dengan kata lain banyak sekali masalah kehidupan yang sangat penting dan relevan harus dipecahkan melalui ilmu sosial.

Sebut saja ilmu ekonomi, ilmu psikologi, ilmu hukum, ilmu politik, dan ilmu manajemen. Bukankah isu-isu dalam bidang itu yang mendominasi hidup kita hari ini? Dan kita semua menghadapinya dengan cara yang asal-asalan, sekenanya.Karena kita tidak punya bekal ilmunya.

Saya duga konsep kita yang keliru tentang merit dan value dari IPA-IPS ditanamkan sejak jaman penjajahan Belanda dulu. Penjajah kesulitan mengelola negara jajahan sebesar indonesia.  Mereka perlu tenaga ahli. Oleh sebab itu mereka menyekolahkan anak Indonesia ke bidang-bidang yang bisa menunjang penjajahan. Apalagi kalau bukan bidang IPA, teknik, pertanian dsb.

Bidang IPS harus dihindari supaya bangsa kita tidak mampu mengorganisasi diri. Tidak mampu menyelesaikan perselisihan dengan adil dan damai. Tidak mampu mengelola ekonomi. Karena itu semua akan membuat bansga kita bercita-cita untuk merdeka dan mandiri.

Sikap itu masih tertanam sampai sekarang.

Saya pikir anak cerdas Indonesia harus menyelidiki bakatnya. Dan bila ia berbakat di bidang IPS, jangan dipaksa masuk IPA. Dan tentu sebaliknya.

Barulah masa depan kita benar-benar cerah…


  1. rizki

    Masalahnya Pak, di lingkungan.
    Kelas-kelas IPS di SMA, rata-rata semangat belajar lebih rendah, daripada di kelas IPA.
    Ini berefek pada habit dan semangat juang masuk perguruan tinggi negeri.

  2. ho.. waktu SMA saya dulu, IPS itu jurusan ekslusif.. jadi yang tidak memenuhi syarat masuk IPS justru dimasukkan ke IPA..

  3. saya sendiri sebenarnya bukan orang yang merendahkan anak-anak IPS, lha wong papa saya sendiri orang IPS kok.. tapi sayang memang, di banyak sekolah diskriminasi itu masih ada.

    masih banyak sekolah yang berpikiran kalo jurusan IPA itu lebih baik daripada IPS, sehingga anak-anak IPSnya merasa dianaktirikan dan akhirnya ya prestasi belajarnya juga kurang. untungnya dulu SMA saya tidak begitu. meski kelas IPS selalu lebih sedikit, tapi justru prestasinya lebih tinggi daripada yang IPA. rupanya guru-gurunya selalu menyemangati mereka. hehe..

  4. Bagaimana kalau hasil test bakat 50% IPA 50 % IPS. Sang anak pengin masuk IPS, sang guru ngotot supaya masuk IPA karena test IQ-nya tertinggi dikelas. Akhirnya sang anak pun kuliah S1-S2 EL ITB dan akhirnya jadi blogger katro 😀 .

  5. betul juga ya..padahal kecerdasan manusia tidak hanya IPA atau IPS saja, tapi ada bermacam-macam (8 kecerdasan dasar).

  6. Didi Purnomo

    Saya duga konsep kita yang keliru tentang merit dan value dari IPA-IPS ditanamkan sejak jaman penjajahan Belanda dulu.

    Klo statement di atas serius ditelusur, bakal jadi tesis tuh.

  7. sarah

    saya mau minta saran dong. sekarang saya masih kelas 10, saya bingung buat nanti penjurusan. ayah bener2 pengen saya di ipa. dan saya mau ngebanggain dya. sangat. tapi di satu sisi saya merasa ga mampu buat bidang ipa. mungkin masuk ipa bisa, tapi takut jadi beban sendiri.. tolong dijawab yah 😦

    • azrl

      @sarah: test bakat dan psikologi dulu, dari situ baru tahu. Masa depan IPA dan IPS sama cerahnya. Putri saya yg pertama masuk IPA, yang kedua masuk IPS. Dan keduanya sudah kuliah, di Biologi dan di Seni Rupa. Saya sangat happy dengan pilihan-pilihan mereka … (Oh ya bangga kalau jadi orang tabah, ulet dan jujur, bukan karena masuk IPA, ya…)

  8. saya anak ilmu pengetahuan sosial .
    menurut saya sistem pendidikan Indonesia bisa dibilang pincang.Memang ipa dan ips sama saja tetapi yang saya bingung setiap mendengar teman saya anak ipa berniat memilih fakultas cakupan ips .setelah saya lihat banyaknya anak ipa(yang tidak konsisten) menyebabkan anak ips tidak bisa masuk fakultas ips itu sendiri karena anak ipa jauh lebih banyak dari ips sehingga banyak fakultas ipa dianggap tidak favorit yang jumlah fakultasnya lebih banyak dari ips .Seperti itukah yang disebut komitmen mempelajari ilmu alam lalu ngambil lahan ips?emang nyambung?dimana mental kalian?nurut ego mikir diri sendiri?

    • +10000000

  9. nur aulia

    saya sangat bingung
    IPA or IPS?

    • azrl

      test psikologi (minat dan bakat) dulu

  10. jomadi

    tapi anak ipa suka serakah ngambil lahan anak ips,apakah itu tanda bahwa anak ipa tak mampu bersaing dengan sesamanya?

  11. Cemplug bimbang sendiri

    Mungkin pendapat ini ada benarnya juga. Saya pun juga demikian, namun kelas IPS di SMA saya itu sering sekali buat onar. Yang tawuran lah, ucapannya kotor lah. Kalo anak IPA itu rata-rata pendiam, walaupun ada yang ramai namun hanya sebagian kecil saja. Sedangkan saya tidak bisa konsentrasi di suasana gaduh seperti yang ada di kelas IPS.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: