Belajar Dari Semua Orang

Kita tidak boleh berhenti berinisiatif dan belajar dari apa yang terjadi.  Dari semua orang.

Dalam menjalankan tugas kita, tidak jarang beban terasa berat.  Kegiatan tidak berjalan sesuai rencana. Rekan sekerja tidak berjuang sekeras yang kita harapkan. Atasan kita tidak mendukung sepenuh hati mengatasi kesulitan kita. Atau orang yang membantu kita tidak mengerti apa yang kita harapkan.

Kesulitan seperti ini terkadang membuat kita bertanya, mengapa kita harus melakukan semua ini?  Terkadang kita ingin semua ini segera berakhir. Supaya kita bebas.

Saya pikir itu sikap yang salah.  Sikap seperti itu harus berubah.  Kita harus punya sikap ingin belajar, seumur hidup…

Maksudnya bagaimana?

Semua kesulitan itu bisa kita anggap sebagai beban atau sebaliknya kita anggap sebagai ujian.

Bukankah kita merasa masalah itu sulit karena kita tidak menguasai cara menyelesaikan masalah tersebut? Karena kita belum punya kemampuan, strategi, teknik, ilmu untuk mengatasinya?

Persis seperti ujian akhir semester.  Kalau kita sudah belajar cukup, soal ujian terasa mudah.  Ingin cepat-cepat ujian. Tapi kalau kita tidak pernah belajar, maka soal ujian itu terasa berat.  Dan kita ingin menundanya, kalau bisa menghindarinya.

Jadi semua hal yang memberikan rasa furstasi di tempat kerja kita adalah indikasi bahwa ilmu kita belum cukup untuk menghadapinya.

Kita perlu belajar.

Dan dari mana kita belajar?  Ya dari semua orang.  Dari rekan sekerja kita tadi.  Dari atasan kita.  Dari mereka yang membantu kita. Kita harus membuat berbagai inisiatif, dan melihat hasilnya. Kita belajar dari situ.  Kalu belum berhasil, ubah pendekatan, dan coba lagi. Trigger lagi.  Begitu seterusnya sampai berhasil.

Dengan sikap seperti itu, kita yang akan paling untung.  Seandainya hasil pekerjaan tidak sesuai dengan harapan, atau bahkan gagal total, setidaknya kita belajar dan jadi jauh lebih pintar bukan?  Next time better.

Apalagi kalau hasilnya memuaskan. We will get both: keberhasilan dan we become a better person


  1. Terkadang kita juga perlu berhenti sejenak, seperti kemarin saat suami jatuh sakit, mau tak mau, harus istirahat dulu, mengurus keluarga…yang penting anak-anak melanjutkan kuliah dan bekerja.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: