Hidup Merdeka

Perjuangan kemerdekaan yang terberat bukanlah melawan musuh, tetapi melawan diri sendiri.

Saat kemerdekaan kita diambil dengan paksa, dengan senjata, maka kita juga bisa merebutnya kembali dengan paksa, dengan senjata. Kita bisa berperang melawan penjajah. Kita bisa merjuang melawan perbudakan.

Tapi bagaimana merebut kemerdekaan bila penjajah itu adalah diri sendiri? Kita secara sukarela melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan keinginan kita? Kita menggunakan kemerdekaan kita untuk memperbudak diri?

Atau kita dijajah atas ijin kita sendiri? Orang lain bisa mentrigger, memicu tindakan kita yang negatif?

Ada tiga sifat manusia yang membuatnya terjajah: (1) hasrat hewani, (2) hasrat mata, dan (3) harga diri. Melalui ketiga ini orang bisa mengendalikan kita secara sukarela. Orang bisa mentrigger kita.  Orang  bisa menjebak kita. Orang bisa memperbudak kita.

Hasrat hewani itu mulai dari nafsu makan, nafsu amarah sampai pada nafsu seksual. Hasrat ini sangat kuat karena di hardwire di dalam setiap manusia.  Kita yang tidak belajar mengendalikannya akan melakukan tindakan impulsif, tidak sadar, dan otomatis.

Kalau sifat hewani kita sudah kuat dan tidak terkendali, usaha melawannya adalah sia-sia, hopeless. Ia akan memperbudak kita. Kita kecanduan.  Seperti terkena narkoba. Kita akan mudah dikendalikan dan dipermainkan orang lain yang tahu akan kelemahan kita ini.

Hasrat mata itu adalah pemuasan kebendaan, harta dan materi. Kita selalu ingin sesuatu yang bisa kita lihat.  Lihat di iklan, di TV, atau semua yang menjadi milik orang lain. Ini bermuara pada cinta uang.

Dan kita yang seperti ini mudah sekali terkena penipuan.  Dunia dipenuhi oleh ahli menipu, master of illusion, tukang sulap. Bahkan ilmu mempermainkan mata dipraktekkan di mana-mana, termasuk di image processing. Point saya, mata kita itu bisa ditipu! What you see is not what really is.

Yang paling berat itu sifat mempertahankan harga diri. Begitu harga diri kita tersentuh, maka suasana hati kita kacau balau.  Kita bisa sangat marah, dan bahkan bertindak sangat bodoh. Atau sangat kejam.

Konsep harga diri itu sumber malapetaka. Atas nama memperjuangkan harga diri, seseorang bisa merusak ke mana-mana. Kita menyakiti orang yang paling kita cintai hanya karena soal harga diri. Kita bahkan siap menghancurkan diri sendiri karena soal harga diri.

Mengapa tiga sifat ini, hasrat hewani, hasrat mata, dan harga diri, diberikan pada kita meskipun sangat berbahaya?

Karena mereka sebenarnya adalah pembantu kita, anakbuah.  Mereka adalah alat kita untuk berkarya.  Membuat masterpieces. Dan sebagai pembantu, mereka sangat powerful.  Bayangkan asiknya memiliki anak buah yang sangat powerful.

Tapi kalau pembantu ini dibiarkan tanpa kendali, ia ngelunjak. Ngajago. Berubah menjadi boss.  Ia pembantu, servant, yang powerful, tapi ia adalah boss yang sangat buruk. Ia boss yang tidak peduli dengan kita. Pikiran nya pendek. Dan impulsif. Boss yang tidak bertanggungjawab.

Dan sebagai boss, mereka seperti remote control. Dan orang jahat yang tahu remote control kelemahan kita ini akan sangat mudah mengendalikan kita.  Tinggal klik tombol tertentu, kita langsung bereaksi di bawah kendali mereka. Kita diperbudak orang lain.

Jadi kita harus hidup merdeka.  Tapi jangan menggunakan kemerdekaan kita untuk memilih hidup diperbudak. Melainkan dengan berdisiplin kita menjaga kemerdekaan itu.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: