Lonely Wolf

Apa harga yang harus dibayar untuk memilih jalan yang benar? You get very lonely…

Jalan yang benar itu sempit. Tidak ramai.  Tidak banyak orang mau lewat situ.  Orang senang pada jalan yang lebar, yang dipenuhi kerumunan orang.

Seekor anjing dipelihara majikannya.  Di beri makan dan minum sepuasnya.  Duduk-duduk di teras rumah. Tapi dia harus patuh pada tuannya. Sangat bosan. Bored dog.

Sampai dia memutuskan untuk meninggalkan semua itu pergi ke hutan.  Mencari jati dirinya. Dan perlahan dia berubah menjadi anjing hutan, serigala, yang bebas. Bisa berlari ke manapun dia mau. Tapi ada saatnya dia merasa sangat sepi. Lone wolf.

Ada saat-saat kita memutuskan untuk berbeda dengan kebanyakan orang lain.  Memilih sesuatu yang sesuai jati diri kita.  Untuk itu kita keluar dari kerumuman, dan menempuh arah sebaliknya.  Kita memilih jalan yang menurut kita paling benar. You feel so lonely.

Setiap pagi saya membuka pintu tempat kerja saya.  Waktu baru pukul enam lewat. Kampus masih sepi. Berembun.

Dan saya duduk di meja kerja.  Dengan setumpuk pekerjaan.  Bahan kuliah. Proposal. Tugas mahasiswa. Dokumen program. Paper untuk ditulis. Persamaan yang harus dipecahkan.  Kode program yang harus ditulis.  Produk yang harus diinovasi. Rencana keuangan yang harus divalidasi.  Program tahun depan yang harus diusulkan. Laporan yang harus dibuat. Ekspedisi ke pulau lain yang harus direncanakan. Ada rapat yang harus disiapkan. Ada mahasiswa harus dibimbing. Ada kolega yang harus diencouraged.

Saat hari telah gelap. Waktu sudah menunjukan lewat pukul enam sore. Semua sudah pulang. Dan saya mengunci pintu terakhir.

Saya melakukan semua ini bertahun-tahun karena itu pemahaman saya tentang profesi saya. Tentang komitmen pada profesi ini. It is the right thing to do.

And I feel very lonely.

Saya sepenuhnya mengerti mengapa banyak kolega saya sibuk di luar kampus. Di sana ramai. Di sana jalanan lebar. Kerumunan orang dapat menghangatkan hati.  Apresiasi orang membangkitkan semangat. Di sini, sepi ini tidak mudah untuk diatasi.  Saya mengerti sepenuhnya.

Tapi ketika sebuah komitmen sudah dilakukan untuk melakukan the right thing, sesuatu yang kita percaya jauh di dalam lubuk hati kita, sesuatu yang menjadi jati diri kita, maka kita harus siap membayarnya.

Lone wolf


  1. ade

    luar biasa…
    inilah harga sebuah dedikasi…

  2. sepakat.. =D

  3. Kok jadi inget lagunya Letto, Sebelum Cahaya😀

    Ku teringat, hati,
    Yang bertabur, mimpi,
    Kemana kau pergi, cinta
    Perjalanan sunyi,
    Yang kau tempuh sendiri,
    Kuatkanlah hati, cinta

    Ingatkan engkau kepada,
    Embun pagi bersahaja,
    Yang menemani mu,
    Sebelum cahaya
    Ingatkan engkau kepada,
    Angin yang berhembus mesra,
    Yang ‘kan membelai mu, cinta

    Kekuatan, hati,
    Yang berpegang, janji,
    Genggamlah tangan ku, cinta
    Ku tak akan pergi,
    Meninggalkan mu sendiri,
    Temani hati mu cinta

  4. Kok jadi inget Lone Ranger…🙂
    Sudah weekend
    Istirahat dulu…

  5. Tapi jangan lupa Pak, kesendirian sebagai “lone wolf” juga menciptakan zona nyaman-nya sendiri, …

    Kalau saya cukup lah membuka pintu kantor sendiri di pagi hari, sementara biar orang lain yg mengunci sore/malam hari-nya …

  6. cah gemblung

    jadi pria lajang (lone wolf) emang enak, bisa melakukan apa pun yang kita suka, berbeda dengan pria menikah (bored dog) yang selalu diatur2 istri hehehehe




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: