ITB Berkebangsaan

Bagaimana ITB bisa tetap berkebangsaan ditengah upaya menuju world class?

Menjadi worldclass berarti mulai berorientasi dunia, baik sasaran, standar, maupun kepentingan. Bila tidak hati-hati ini bisa berakibat ITB meninggalkan orientasi kebangsaannya.

Apalagi UU Badan Hukum Pendidikan menentukan bahwa Universitas harus mulai mengelola keuangan secara mandiri.  Ini berarti universitas berubah menjadi korporasi.  Chartered organization. Unsur corporate governance menjadi bagian utama dalam pendirian badan hukum universitas.

Pemikiran yang dangkal akan menggeser ITB menjadi penjual jasa pendidikan. Tuntuan worldclass dipadu dengan tuntutan korporasi mengarahkan ITB pada high cost high standard, consumer satisfaction institution. Akhirnya ITB hanya untuk orang yang  bisa bayar.

Kita tidak boleh lupa bahwa kebesaran ITB ada pada kecemerlangan putra-putri bangsa yang datang dari seluruh pelosok Indonesia menjadi mahasiswa ITB.

Saat saya masih kecil di Tomohon, ibu saya sering membisikkan kehebatan ITB. Kehebatan saudara-saudara sepupu saya yang berhasil masuk ITB. Kemudian saat pawai 17 Agustus, ada sekolah-sekolah yang mengusung mock-up satelit palapa. kebanggaan nasional, yang datang dari buah pikiran ITB. Jadi saya berjuang keras untuk bisa masuk ITB.

Tahun lalu cerita yang sama terjadi pada Gladys putri saya. Bertahun-tahun ia mempersiapkan diri. Sampai pada waktu untuk lulus SMA, dia mendaftar ke ITB.  Dan saya tidak pernah lupa airmata yang menetes saat ia membaca pengumumuan bahwa ia diterima di ITB.

Kisah-kisah ini adalah kisah ribuan mahasisa dan alumni ITB sejak jaman dulu. Terbesit di dalamnya kecintaan dan kekaguman bangsa atas kebesaran ITB. Dan itu direspons dengan perjuangan keras dari semua agar dirinya dianggap layak menjadi mahasiswa ITB.

Itulah artinya ITB berkebangsaan.  ITB menjadi milik bangsa.  ITB menjadi kehormatan bangsa.  Bangsa kita berjuang keras meningkatkan kualitas dirinya agar layak menjadi warga ITB.

Pertanyaannya, apakah ITB sepadan dengan harapan ini?  Ataukah ITB mau memindahkan hatinya pada standar-standar dan kepentingan dunia? Steril dan imune dari hubungan emosi dengan bangsanya.

Kalau tuntutan worldclass dan spirit UU BHP tidak disikapi dengan cerdas, maka ITB akan menjadi terlalu komersial, terlalu mahal, dan terlalu pasaran.  Tidak lagi menjadi kebanggaan dan kehormatan bangsa. Tidak ada tetesan haru saat membaca pengumuman diterima kalau kita tahu kita masuk karena bayar mahal.

Dan ibu-ibu se Indonesia tidak lagi membisikkan kepada putra-putrinya kekagumannya pada ITB. Buat apa.  ITB sudah menjadi seperti NTU, NUS, dan versi imitasinya pula. Maka best talents dari seluruh Indonesia tidak lagi mengimpikan menjadi warga ITB.

Apa gantinya?  Kita mungkin akan menarik mahasiswa asing.  Tapi second rate nya.  Karena first rate mahasiswa asing akan berada di universitas papan atas dunia.

Maka ITB tidak lagi unggul. Betul akan comply dengan semua standar proses seperti ISO, ABET, dsb.  Tapi tidak lagi unggul. It has lost its soul.

Jadi ITB berkebangsaan itu bukanlah suatu nice thing to do.  Bukan suatu hal sampingan.  Bukan suatu charity. Bukan ongkos yang harus kita bayar.

Itu adalah esensi keunggulan ITB ke depan.


  1. Pak Armein, saya sih lihatnya sekarang ini ITB kurang greget karena semangat untuk berkarya saya lihat setengah “diberantas” disini.

    Mahasiswa dipaksa kuliah cepat-cepat 4 tahun, setelah itu disuruh pergi dari ITB. Buat apa disuruh cepat-cepat pergi kalau ternyata nggak siap kerja ? Akhirnya either nambah pengangguran, atau menambah penuh kota Jakarta aja.

    Saya lihat keunggulan ITB itu adalah menjadi tempat berkumpulnya orang-orang Indonesia yang mau maju, mau berkarya dengan ilmu yang ia pelajari disini. Toh mahasiswa ITB itu bukan maju karena sekedar menerima kuliah, tapi berinteraksi dengan rekan sejawatnya yang sama-sama cerdas.

    Kalau begitu, kenapa ITB nggak mau membuat anak2 yang sudah suka di ITB ini mau tetap ada di ITB ? Pekerjakan saja mereka jadi staf ITB, baik itu staf dosen atau staf non dosen (seperti staf laboratorium dan staf IT spt sysadmin atau developer), dengan salary yang mencukupi dan lingkungan kerja di ITB yang bikin awet muda😀 Atau buka peluang mahasiswa ITB yang sudah S1 untuk S2 lagi dengan berbagai kemudahan (spt uang kuliah cuma separuhnya, permudah perkuliahannya), atau permudah lulusan S2 (yg S1 nya ITB) ini untuk jadi dosen di ITB, jangan dikasih syarat ketinggian.

    Saya mikirnya gini, karena akhirnya ITB itu ibarat seperti tempat yang tidak mampu mengambil manfaat dari anak-anaknya yang hebat-hebat ini. Sekarang orang2 hebat2 dari ITB ini sudah pada kerja di MNC, sekolah di luar negeri, dan sedikit sekali yang memberikan manfaat langsung ke ITB nya.

    Akhirnya ITB nya jadi pikirannya kumpulkan uang saja. Mahasiswa yang masuk karena ortunya punya uang jadi mahasiswa yang sekolah cuma sekedar lulus, nggak ada pride nya apa-apa masuk ITB, ibarat masuk univ swasta aja.

    Gitu aja pak curcol saya (curhat colongan)😀

  2. Intinya seperti posting Pak Armein sebelumnya, “memberi makna” …

  3. Saya sepakat dengan curhatan Mas Affan. Sepertinya ITB sendiri kurang memberikan ‘ruang’ untuk mahasiswanya berkarya. Apalagi fasilitas. Dari pengalaman yang saya alami selama kuliah di ITB, lab-lab minim nuansa riset. Seperti tidak ada semangat untuk melakukan eksplorasi terhadap hal baru dan sudah begitu kalaupun ada, sepertinya resource harus berusaha cari sendiri.

    Sayang kalau best talents Indonesia malah lari keluar. Di ITB harus ada tempat buat mereka yang senang berada di sana. Mudah-mudahan ITB bisa jadi world class university ke depannya.

  4. aWi

    wong, peneliti-peneliti hebat ada di ITB. Tapi kenapa ITB belum mau mengakui keberadaan mereka?

    Coba tanyakan. Kenapa?

  5. nugie

    Ah, bentar lagi kan ITB jadi F.O., sama kayak tetangga2nya, F.O., mostly….




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: