Turn on the switch

Ternyata ada tombol saklar sukacita. Kita tinggal menekannya.

Perasaan saya sering berubah. Bergantung situasi dan kondisi.  Kalau orang baik pada saya, saya senang.  Kalau situasinya buruk, saya susah. Normal sekali bukan?

Sampai suatu hari saya menyadari. Mengapa kegembiraan saya harus ditentukan orang lain?  Mengapa saya harus menunggu keadaan menjadi baik sebelum saya senang?

Sebenarnya tidak ada yang salah di situ, kecuali kata menunggu itu.

Sama dengan malam-malam menunggu matahari agar ruang menjadi terang. Tidak perlu.  Saya cukup jalan ke dinding, cari tombol lampu, klik, dan byar… teranglah kamar saya.

Saya tahu saya tidak bisa membuat kamar menjadi terang.  Saya masih butuh faktor eksternal: lampu listrik.  Maka saya mencari tombol untuk menyalakannya. Klik, dan byar…. Horee nyala deh.

Kalau mati lampu, bagaimana?  OK agak repot sedikit.  Saya berjalan ke warung tetanga, dan beli lilin.  Sampai di rumah, ambil korek api, dan bakar lilinnya.  Nyala. Lumayan, terang juga.

Point saya adalah kalau kita butuh sesuatu, kita harus bertindak.  Kita harus memicu sistem.  Kita harus memutar tombol.  Kita harus men-trigger dunia sekeliling kita. Kita harus berinisiatif.

Kita harus banyak belajar mencari tombol-tombol itu, tombol-tombol dari sistem yang hasilnya membahagiakan kita. Tombol itu bisa ada di luar kita, tapi kebanyakan ada di dalam kita. Dan kita belajar menekannya.

Find those switches and turn them on.


  1. intinya, harus ada usaha ya pak jgn cuma nunggu aja? hehe




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: