Awan Gelap di Langit

Saat kesedihan terjadi, awan gelap seakan menutup langit. Tersenyumlah. Mendung memang kelabu, sekelabu hidup ini.

Suatu hari saya berada di Sumba Timur, di tengah bukit, dan melihat awan gelap. Tapi orang tidak bersedih. Mereka tersenyum. Karena di sana susah air. Dan hujan akan turun. Berarti rumput akan kembali hijau. Ternak akan gemuk.

Kesusahan, mendung, dan air mata adalah hujan yang menyuburkan. Menumbuhkan jiwa kita. Menyembuhkan luka kita. Membuat kita lebih baik.

Saya belajar jauh lebih banyak pad kegagalan ketimbang keberhasilan.

Bila saya berhasil, saya tidak menganalisa cara saya. Cara itu akan saya ulangi lagi. Dan saya tidak bertumbuh karenanya. Keberhasilan mengikat saya pada kebiasaan itu.

Sebaliknya, kegagalan memberikan begitu banyak informasi yang tadinya sayan tidak tahu. Memberikan umpan balik. Memberikan pengetahuan. Kegagalan itu lebih membebaskan diri dari kebiasaan lama.

Kemenangan menyenangkan. Kegagalan menumbuhkan.

Oleh sebab itu, ketika awan gelap datang, tersenyumlah. Hujan berkat akan segera datang.


  1. sungguh puitis ungkapan saudara..
    great blog

    keep it up

  2. Betul..kegagalan terkadang membuat penasaran, dimana letak kesalahannya.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: