Menabung di Bank?

Apakah kita harus menabung uang sebanyak mungkin? Kalau kita pikir dengan menabung uang kita menyimpan kekayaan, pikir ulang.

Suatu hari ada seorang yang tadinya miskin perlahan-lahan dengan bekerja keras berhasil menjadi kaya. Iapun ingin menikmati kekayaannya. Caranya? Dengan menabung.

Karena jaman dulu belum ada bank, ia menukar semua hartanya menjadi emas. Ia diam-diam menggali halam rumah belakangnya, dan menimbun emasnya di situ. Saat dia ingin menikmati kekayaannya, ia pergi ke belakang rumah, menggali harta karunnya, dan menikmati pemandangan tumpukan emas. Demikian ia lakukan untuk menikmati kekayaannya.

Suatu hari seorang pembantunya mencurigai dan membuntuti tuannya itu. Dan ia mengetahui apa yang terjadi. Tengah malam ia berhasil menggali dan mencuri harta karun tuannya, dan kabur di kegelapan malam. Suatu saat tuannya kembali, dan betapa kagetnya saat ia menemukan emasnya sudah tiada.

Iapun menangis meraung-raung. Sampai seorang tetanggapun datang. Setelah ia menceritakan kemalangannya, tetangganya memberikan saran. “Mengapa engkau tidak mengambil batu-batu dan mengisinya ke lubang ini. Tiaphari anda bayangkan batu itu emas.”

“Kalau engkau tidak bermaksud menggunakannya, hanya menimbunnya di lubang ini, emas itu tidak ada beda dengan batu”, jelasnya.

Ini diceritakan Aesop tahun 600 sebelum Masehi, dan masih sangat relevan sampai hari ini.

Uang itu sebenarnya kertas berharga. Kertas yang dianggap mewakili suatu kekayaan. Meskipun hari ini tidak ada yang tahu lagi apa jaminan bahwa kertas itu memiliki sesuatu yang berharga. Saat kita menyimpan uang, entah di bank entah di safety box, kita hanya mendapat tanda terima. Di buku tabungan kita itu ada tulisan bahwa kita memiliki uang di account itu. Dan uang kita diam di situ.

Orang bilang uang kita di bank itu akan digunakan bank untuk investasi. Itu sebenarnya tidak benar. Bank meminjamkan uang sebagai kredit. Tapi jarang sekali untuk investasi. Lebih digunakan untuk membantu cash-flow perusahaan atau memberi kredit konsumsi pada masyarakat. Dan sebagian besar dana kita didepositokan ke Bank Sentral. Kalau bank sentral memberikan suku bunga 7% maka bank memberikan suku bunga 6%, sehinnga bank untung 1%.

Point saya, uang yang disimpan itu tidak banyak beda dengan setumpuk kertas. Selama kita hanya ingin menikmati perasaan banyak uang, maka kita tidak banyak beda dengan orang dalam cerita tadi.

Jadi bagaimana?

Saya pikir uang kita itu harus di sebar. Harus digunakan. Harus dimanfaatkan.

Kita harus belajar berinvestasi. Kita harus belajar memanfaatkan uang untuk mendorong produktivitas.

Menabung semua uang kita di bank itu bukan cara yang baik. Lebih b aik ditabung dalam bentuk-bentuk produktif. Bahkan sampai ke investasi intangib le seperti ilmu, jaringan, persahabatan, kekerabatan, saqmpai pada reputasi.


  1. Memang uang lebih baik diinvestasikan dan dikembangkan tapi kita juga harus melihat prospek dari investasi yang akan kita pilih. Apakah uang tersebut akan kembali?

    Bila kita salah menginvestasikannya, bisa bisa uang kita akan berkurang atau habis tanpa bekas.

    Menurut saya, menimbun emas juga merupakan investasi, karena nilai dari logam mulia ini jg akan terus naik dan bertambah tanpa resiko rugi (selain kecurian seperti cerita Bapa, hahahaha)..

  2. iscab

    Sebetulnya menabung ke bank juga punya resiko.

    Kalau bank bangkrut, uang yang kita tabung di bank tersebut bisa hangus sebagian.
    Negara cuma menjamin sebagian uang.

    Menyimpan uang berupa emas, juga bisa saja kena resiko kemalingan.
    Menyimpan uang dalam bentuk kambing, ayam, bebek, dll juga bisa kena resiko macam-macam: penyakit, dll.

    Jadinya investasi dalam bentuk apapun selalu ada resiko.
    Jangan takut akan resiko.
    Di balik resiko selalu ada peluang.

  3. Nilai uang kertas maupun emas itu paling lemah ketika berada dalam penyimpanan, tidak sedang digunakan/dipertukarkan dengan barang/jasa atau diinvestasikan.

    Yang menarik dari pengalaman berbisnis, setiap peluang keuntungan yang ada selalu berbanding lurus dengan resikonya. Butuh intuisi, prediksi dan analisis statistik untuk mengambil keputusan sebelum mengeluarkan uang kertas dan emas dari tempat tidurnya, dilengkapi dengan keridhaan Yang Maha Menentukan.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: