Antara Nila dan Garam

Nila setitik rusak susu sebelanga.  Garam sejumput menggurihkan makanan se panci. Dalam hidup ini kita bisa memilih, kita itu nila atau garam.

Nila dan garam rupanya memiliki kesamaan.  Sama-sama kecil, sama-sama sedikit, sama-sama tidak substansial.  Tapi pengaruhnya besar sekali.  Pengaruhnya jauh melebihi proporsinya.

Tapi ada perbedaan fundamental.  Nila itu kemudian merusak suatu yang baik dan nikmat.  Garam sebaliknya membuat suatu yang hambar menjadi nikmat.

Dulu saya sering mudah menjadi korban orang-orang yang membawa nila. Kalau sudah bertemu mereka, ucapan-ucapan yang keluar sepertinya logis dan berargumen yang bagus.  Tapi isinya sebenarnya meracuni kesukacitaan kita. Isinya berusaha “menyadarkan” kita betapa buruknya kita.  Betapa harusnya kita merasa kita itu tidak baik. Seharusnya merasa down.

Saya dulu suka jengkel, marah, dan sebal dengan orang-orang seperti ini. Ruin my day.

Sebaliknya saya senang sekali kalau bertemu orang yang membawa garam.  Orang-orang yang membuat hidup kita excited dan menyenangkan.  Orang yang memulihkan harga diri kita.  Orang yang bikin kita PD. Orang yang “menyadarkan” kita betapa istimewanya kita.

Sekarang saya lebih mengerti.  Kalau ada yang membawa nila, saya tidak lagi marah.  Saya kasihan. Karena dia itu korban pembawa nila yang lain. Dia ingin mencari teman di dalam ke-nila-an nya. Saya coba membalasnya dengan garam.

Ada satu hal menarik juga soal nila ini.  Kita perlu wasapada dengan kecenderungan kita untuk me-nila kan hal-hal yang kecil.  Maksud saya, ada masalah kecil kita besar-besarkan dan luas-luaskan, sehingga ia mengambrukkan banyak sukacita dalam diri kita.

Contoh sepele: jerawat. Bagi gadis-gadis remaja, jerawat identik dengan kiamat. Padahal bagi kita jerawat itu amat sepele.  Cuma satu titik.  Tapi, remaja ini mengubahnya menjadi nila.  Dan seluruh hari nya menjadi hancur cuma karena setitik jerawat.

Kita perlu belajar melokalisasi masalah.  Membuatnya menjadi sempit. Apapun masalah yang sedang anda hadapi, coba jangan jadikan itu nila yang mengharu-birukan seluruh kehidupan anda.  Seakan-akan berkat dan kelebihan anda yang begitu banyak itu rusak oleh nila ini.  Sempitkan dan perkecil masalah itu, sehingga ia tidak mengganggu anda lagi.

Ya ada nila dan ada garam.  Ayo kita jadi pembawa garam dalam kehidupan ini.


  1. Inspiring Pak!




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: