Emosi dan Memori

Saya punya spekulasi.  Emosi itu lah yang membuat sebuah peristiwa tergores ke dalam ingatan. Tanpa emosi, sukar menyimpan event ke dalam pikiran. Ini bisa berakibat buruk, bisa berakibat baik.

Menurut saya fungsi memori itu sebenarnya menyimpan aturan.  Ia menyimpan referensi. Referensi dan aturan kapan kita senang (pleasure) dan kapan kita sakit (pain). Bersama dengan otak pengolah, memori bekerja untuk membuat assessment.  Membuat pertimbangan.  Setiap ada sesuatu kejadian, suatu event, suatu peristiwa, kita menggubnakan aturan dalam memori kita untuk menentukan sikap dan reaksi kita.

Saya perhatikan, jarang sekali kita ingat persisnya perkataan seseorang. Terkadang kita ingat perbuatan orang.  Tapi yang kita tidak pernah lupa adalah perasaan kita atau emosi kita yang ditimbulkannya. Jadi emosi ini yang membuat event itu terekam.

Kalau kita tidak berhati-hati, terjadi negative self reinforcement. Aturan memori kita menganggap suatu peristiwa itu pahit dan menyakitkan.  Timbul emosi yang negatif.  Emosi ini kemudian merekam peristiwa ini ke dalam memori kita.  Maka jumlah aturan negatif semakin banyak. Dan kita terjebak menjadi orang yang bitter, penuh kepahitan. Ini buruk sekali.

Tapi bisa berlaku sebaliknya. Kita buat positive self reinforcement.  Kita membuat aturan positif dalam memori kita.  Suatu peristiwa kita anggap sebagai alasan untuk bersenang dan bergembira. Emosi senang ini kemudian merekam peristiwa itu sebagai peristiwa menyenagkan. Emosi kita kemudian merekam peristiwa ini ke dalam memori kita.  Sehingga semakin banyak referensi positif dalam memori kita.  Kita menjadi orang happy. Ini baik sekali.

Saya pikir salah satu cara penting untuk membangun pikiran positif yang kebahagiaan itu adalah mengubah orientasi dari selalu ditrigger peristiwa menjadi selalu mentrigger peristiwa.

Apa maksudnya?

Pada umumnya orang bereaksi terhadap perisitwa.  Ada sebuah peristiwa.  Peristiwa ini mentrigger proses evaluasi. Ia menafsirkan peritiwa itu, apakah ia harus senang atau harus sedih.  Jadi dalam hal ini ia menjadi pasif.  Menunggu event.  Kemudian perasaannya ditentukan evaluasi terhadap event.

Saya ingin menawarkan pendekatan lain. Kita harus beraksi menghasilkan peristiwa. Kitalah pembuat peristiwa.  Kita mentrigger terjadinya peristiwa. Nah kita yang pintar akan mentrigger peristiwa yang menyenangkan.

Kalau saran saya itu dikombinasikan dengan soal emosi dan memori tadi, maka kita punya strategi baru untuk berbahagia. Kita memikirkan event apa sebenarnya yang membuat kita senang.  Peristiwa apa yang akan membuat memori kita merekam perasaan yang menyenangkan. Maka marilah kita melakukan sesuatu, mentrigger dunia ini, sehingga peristiwa yang menyenangkan itu terjadi.

Sederhana bukan?

Jadi daripada bersikap pasif menunggu peristiwa yang membangkitkan emosi yang menyenangkan, saya ingin mengajak kita untuk sengaja bertindak sehingga hasilnya adalah peristiwa yang menyenangkan kita.

Advertisements

  1. kanadi

    terima kasih banyak Pak, saya butuh ini..

  2. Wah, menarik tulisannya.

    Kebetulan penelitian saya berhubungan dengan Neuroscience. Cuma saya cukup bergerak di bidang signal processing-nya saja.

    Otak manusia terlalu kompleks dan penuh misteri.

  3. setuju Pak, kita sering lupa apa yg dikatakan orang tapi kita tidak pernah lupa “how people makes us feel” …




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: