Serius atau Main-Main

Seorang dosen sahabat saya berniat berhenti jadi pejabat untuk berkonsentrasi di ITB. Katanya ia bosan main -main, ingin serius menekuni sesuatu yang akan menjadi jati dirinya.  Saya jadi kepikiran juga, karena rekan saya ini kira-kira seusia saya. Kok bisa baru sekarang berpikir mau serius?

Salah satu “penyakit” orang ITB itu adalah selalu ingin yang terbaik.  Selalu merasa deserve job yang terbaik. Dan dia sabar menunggu.  Saat yang terbaik itu belum datang, ia akan mengerjakan apa yang ada.  Tapi tidak serius. Nanti kalau sudah ketemu pekerjaan yang ideal itu baru dia akan serius. Baru nanti dia habis-habisan.

Oleh sebab itu banyak orang complain. Orang ITB suka banyak ide, banyak pendapat, dan jago mencari kekurangan atas sesuatu.  Jadi ia menonjol, dan orang merasa dia pantas untuk mendapat job membereskannya. Saat ditawarkan suatu pekerjaan, suatu tugas, suatu tanggung jawab, orang ITB akan cenderung bilang ia.  Apalagi kalau dia tahu orang berebut atas job ini.  Tapi begitu ia harus bertugas menjalankannya, ia mengerjakannya dengan asal-asal.  Minimalis.  Ini menjadi keluhan orang.

Mengapa dia minimalis begitu?  Karena dia merasa job itu cuma sementara, mengisi waktu, sebelum dia menemukan job yang ideal itu. Dia cuma main-main, ngisi waktu, having fun.

Seperti teman saya itu.  Orang yang menawarkan job itu padanya merasa bahwa mereka memberikan suatu kesempatan, suatu peluang bagi rekan saya untuk membangun karir. Membangun mimpi. Tapi makin lama teman saya itu merasa tugasnya di situ adalah siksaan.  Ia tidak happy waktunya diminta untuk tugas itu.  Karena bukan jati dirinya. Sekarang ia bingung mencari orang lain untuk menggantikannya di situ.

Lha waktu kan berjalan terus, sebentar lagi kami akan berusia kepala lima. Mau sampai kapan seperti itu?

Sebenarnya bukan urusan saya.  Setiap orang berhak menentukan jalan hidupnya.

Cuma saya merasa bahwa kita suka terbalik-balik.  Hal yang serius kita buat main-main dan sampingan.  Hal yang main-main kita buat jadi serius.

Sebenarnya apapun job nya kita harus kerjakan dengah baik dan serius.  Karena di setiap job ada hal-hal yang harus diperlajari.  Ada kemampuan yang harus diasah.  Ada kepemimpinan yang harus dilatih. Ingat bahwa karir itu melekat pada diri kita. Bukan pada tempat job itu berada.  Jadi apapun job kita itu, kalau kita tidak kerjakan dengan baik pasti tidak akan membangun karir kita. Jadi kita tidak boleh main-main dengan kepercayaan orang, yang sudah mempercayakan job itu pada kita.

Sebaliknya banyak orang mau ribut, bertengkar, bahkan berkelahi untuk hal-hal yang tidak serius.  Dosen bingung dengan angka kredit dan pangkat.  Pegawai bingung dengan honor SPJ. Atau dalam skala lebih luas, cara kita bicara menjadi masalah.  Cara kita berpakaian menjadi urusan.  Tidak jarang, orang naik darah cuma soal rebutan jalur di jalan. Hal yang sepele-sepele menjadi serius.

Kembali ke soal teman kita itu.  Tentu saya menginginkan keberhasilannya. Semoga kali ini dia menemukan jati dirinya.  Saya ingin dia tahu bahwa dia bisa mengembangkan job apapun yang ada di depannya menjadi ideal job.  Menjadi job terbaik.

Dan itu berlaku juga untuk kita semua


  1. Tapi di lain pihak ada juga tuh Pak pekerjaan serius dengan gaji “main-main” … hehehe🙂




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: