Hakim Di Dalam Diri Kita

Di dalam diri kita ada pengadilan.  Ada jaksa, pembela dan hakim.  Mereka menimbang peristiwa yang terjadi, mengukurnya dengan standar peraturan tertentu, kemudian memutuskan apakah kita harus gembira atau sedih. Kunci kebahagiaan adalah menulis ulang standar peraturan itu.

Jaksa melapor: “Kekasih kita berbicara ketus.” atau “Teman kita mengejek dan menghina kita.”, atau “Hasil penjualan unit kerja kita menurun”, atau “Nilai ujian kita buruk”. Kemudian jaksa berusaha meyakinkan Hakim bahwa kita harus bersedih.

Hakim kemudian melihat Buku Peraturan, Buku Hukum, Standar Peraturan. Oh di dalam buku itu tertulis, bila kita diperlakukan seperti itu, bila kita mendapat hasil seperti itu, maka kita wajib bersedih.

Maka sedihlah kita…

Masalahnya Buku Peraturan itu kita yang buat.  Kita yang tulis.  Dan ini banyak kekurangannya.

Sadar atau tidak, budaya, pengalaman, ajaran, dan berbagai peristiwa dalam hidup membuat kita menulis peraturan bahagia atau sedih secara tidak seimbang.  Maksudnya, lebih banyak aturan tentang kewajiban untuk bersedih ketimbang peraturan untuk bergembira.  Sepertinya kita punya seribu satu alasan untuk bersedih tapi sangat sedikit alasan untuk bergembira.

Dalam buku aturan kita itu celakanya kita selalu menuntut sesuatu harus terjadi untuk bergembira.  Uang harus banyak, orang harus ramah, hasil harus selalu bagus. Bila sesuatu itu tidak terjadi tidak ada alasan untuk bergembira.  Demikian aturan yang kita buat.

Mengapa aturannya harus begitu?  Mengapa tidak: “Bila engkau masih hidup, bergembiralah… ”  Kan asik kalau aturan kita seperti itu, selama kita bangun pagi dan ternyata masih hidup, kita otomatis bergembira.

Oleh sebab itu, periksalah Standar Aturan anda.  Apakah aturan anda itu terlalu berat dan aneh?  Misalnya kondisi yang anda tuntut itu mustahil terwujud (misalnya saya baru gembira kalau semua orang di dunia ini sopan dan jujur).

Atau anda menanti sesuatu yang bergantung orang lain.  Bergantung perbuatan orang lain. Wah repot sekali.  Orang lain mana mikirin?

Atau aturan anda itu terlalu banyak memuat pasal-pasal tentang bersedih.  Sehingga setiap Hakim mau memutuskan, selalu ada saja ketemu alasan untuk bersedih.

Kita semua memiliki pengadilan di dalam pikiran kita.  Ada jaksa, hakim, dan pembela. Mereka akan memutuskan anda bersedih atau gembira berdasarkan buku aturan sedih atau gembira.

Tapi bersyukurlah, karena andalah penulis buku aturan yang mereka pakai.  Maka tulislah sesuka anda agar setiap hari anda bergembira.


  1. gandhim

    Lagi-lagi tulisan yang memberi pencerahan🙂 Terima kasih pak Armien.

  2. psylo

    kalo dunia memberikan seribu alasan untuk menangis, berikan dunia sejuta alasan untuk tersenyum🙂




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: