Marah dan Kecewa

Mengapa kita marah dan kecewa?  Bagaimana cara mengatasinya?

Saat kita marah, emosi kita menguat  keras.  Kita merasakan dorongan yang besar untuk berkata keras, bertindak keras, bahkan terkadang kasar.

Perasaan ini sangat mengganggu. Saat kita terkena amarah, kita ada dalam posisi sulit. Kalau kita diam saja, pikiran marah terus mengganggu perasaan kita.  Kalau kita bertindak, tindakan kita sering tidak baik. Maklum orang sedang emosi. Sulit juga nih.

Beberapa waktu lalu saya merasakan amarah di tempat kerja. Saya berbeda pendapat dengan rekan kerja saya. Dan kami harus membuat keputusan bersama untuk kebaikan orang lain. Sebenarnya perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah. Tapi entah mengapa timbul amarah dalam hati saya.

Saya mencoba mengerti dan menganalisa sebab kemarahan saya itu. Agak sukar saya menjelaskannya.  Tapi singkatnya saya merasa teman saya ini punya kepentingan dan rencana pribadi yang hendak ia perjuangkan, tapi itu tidak terus terang di sampaikan.  Malahan ini dibungkus dengan argumen-argumen yang “indah”. Dan saya menjadi marah saat orang menggunakan nilai-nilai luhur untuk sebenarnya membungkus tujuan pribadi.

Saya merasa ada standar yang penting yang kita junjung tinggi bersama kemudian sengaja mau dilanggar dengan berbagai argumentasi yang indah.  It made me sick. It made me angry.

Hal yang sama pernah terjadi tahun-tahun yang lalu. Saya merasa marah sekali, tanpa saya bisa jelas apa penyebabnya. Sekarang saya mengerti.  Saat-saat itu saya juga berhadapan dengan situasi yang sama.  Ada orang punya kepentingan pribadi, tapi membungkusnya dengan tujuan-tujuan luhur. Kemudian saat kita berbeda pendapat, orang seperti ini berusaha mengatakan bahwa kita tidak baik, tidak menerapkan prinsip yang luhur itu..ah betapa membuat kita marah..

Saya juga berusaha adil, ya.  Belum tentu standar “nilai” kita itu sebenarnya standar yang benar. Mungkin saja itu cuma standar saya pribadi. Tidak dianut semua orang.  Asumsi saya bahwa standar itu dishare semua mungkin keliru.

Atau kita salah mengerti.  Orang tersebut belum tentu tahu bahwa ia sudah melangar nilai.  Ini barangkali problem komunikasi yang tidak nyambung. Bukan pelanggaran standar nilai itu.

Bila kita mengalami amarah itu, kita disarankan untuk bertanya. Dalam jangka panjang, apakah orang ini betul-betul care tentang kita, tentang nilai-nilai kita itu?  Kalau ternyata tidak, why you bother being upset?

Apa yang kita bisa belajar dari peristiwa ini?  Apa yang bisa memperkaya kita?  Membuat kita bertumbuh dan lebih dewasa?

Bagaimana kita bisa belajar mengkomunikasikan sistem nilai luhur itu.  Mungkin orang tidak tahu nilai-nilai itu. Atau orang tidak menyangka kita punya nilai-nilai itu. tentu kita perlu belajar untuk mengkomunikasikannya.  Menshare nya dengan teman-teman kita.

Jadi kalau anda merasa marah, bersyukurlah.  Berarti anda normal bisa merasakan emosi marah.  Tapi kemudian berusaha mengerti nilai-nilai apa yang sudah terlanggar. Dari situ anda berusaha meredakannya dengan pertanyaan-pertanyaan tadi.

Redakanlah kemarahan kita itu, karena kitalah yang akan paling menderita.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: