Pindah dari BNI

Anda dilayani di bank mana?  Ternyata cocok-cocokan, ya.  Karena saya sudah menjadi nasabah BNI sejak mahasiswa, Ina juga ikutan.  Meskipun Ina sudah betahun-tahun menjadi nasabah BNI, tetap saja Ina mengalami berbagai pelayanan buruk dan perlakuan yang tidak menyenangkan. Sejak sebulanan ini, Ina memulai proses pindah bank, dari BNI ke NISP, dan kemarin tuntas sudah.  And she is happy.

Ina sering mengeluh.  Pelayanan di BNI kok begitu ya.  Paling-paling standar.  Tidak jarang seenaknya.

Saya terkadang tidak percaya, masak sih.  Karena pelayanan mereka pada saya biasa saja, ok, standard.  Kadang-kadang malah saya diperlakukan khusus, karena sebagian mereka kenal saya sebagai dosen ITB.

Tapi pada Ina tidak.  Saya pernah melihat sendiri pegawai BNI memperlakukan istri saya agak judes dan malas-malasan.  Saya saat itu agak jauh, sedang di teller, dan Ina perlu ke customer services.  Tapi rupanya si ibu sedang sibuk mengerjakan sesuatu.  Mukanya mesem dan merasa terganggu. Dia menyuruh Ina tunggu atau pindah ke meja lain, dengan wajah yang tidak senang dan sombong. Itu saya lihat sendiri. Saya jengkel, tapi saya coba tidak membesar-besarkannya. Mungkin Ina terlalu cantik, sehingga dia sirik dan judes.

Sampai kemudian terjadi penipuan di ATM Januari kemarin.  Kartu ATM Ina dibuat macet oleh penipu di ATM Poliklinik Universitas Kristen Maranatha, Jalan Suryasumantri. Dan ada stiker disitu dengan nomer Call Center palsu. Ina dengan polos menelpon nomer itu, dan terjadilah bencana. Mereka berhasil mendapat nomer PIN kartu ATM (kelihatannya lewat kamera HP).  Begitu Ina pergi, mereka berhasil mengambil kartu ATM, dan menguras isi rekening melalui ATM lain, dan mentransfer sebagian ke rekening Bank Mandiri. Terkuras Rp 9 jutaan, uang belanja.

Kami datang ke kantor BNI minta bantuan.  Tapi yang terjadi adalah usaha mengkambing hitamkan Ina.  Seakan-akan ini semua salahnya.  Siapa suruh memberikan nomer pin.  Padahal Ina tidak memberikan nomer pin kepada siapapun. Ia memencet nomer pin di mesin ATM. Dan rupanya itu cukup untuk penjahat mengetahuinya. BNI tetap ngotot tidak bertanggungjawab. Padahal peristiwa kriminal ini terjadi di lingkungan BNI. Dan mereka mengaku ini sering sekali terjadi. Mereka menolak melapor ke polisi, dan tidak mau melacak rekening Bank Mandiri.

Heran ya, Bank dengan reputasi besar dan sanggup menyediakan uang besar untuk undian durian runtuh, tidak sanggup menanggung Rp 9 juta akibat kelemahan sistem ATM mereka.

Baiklah, cukup sudah menangis kehilangan uang belanja.  Saya antar Ina ke Kantor Polisi untuk melapor, supaya polisi tahu bahwa penipuan seperti ini merajalela, dan para penjahat dan pihak bank saling mendiamkan, tahu sama tahu, dan tidak saling mengganggu bisnis masing-masing. Saling melindungi punggung masing-masing. Di mana-mana kalau lokasi terjadi peristiwa kriminal harus di police line, kan?  Ini tidak, sejam kemudian, ATM penipuan tersebut sudah berfungsi lagi, menunggu mangsa.

Kemudian terjadi hal yang menarik.  Sebelum kejadian itu, berkali-kali datang seorang bapak dari Bank NISP. Ke rumah. Kami tidak sengaja sudah menjadi pelanggan NISP bertahun-tahun, karena uang sekolah anak-anak harus di autodebet dari rekening NISP. Jadi dia berkunjung menanyakan apa kabar kita, dan menawarkan beberapa produk Bank NISP. Dia menjelaskan bahwa bank NISP sudah berubah nama, berubah manajemen, dan berubah cara pengelolaan.  Pada dasarnya bapak ini sudah ditugas menjadi semacam customer services kami. Buset, tidak tanggung-tanggung, siap ditelpon 24 jam dan siap dipanggil ke rumah.

Semula saya skeptis.  Biasalah.  Pasti ada maunya, pengen dapat uang kita tentu saja bukan?  Begitu dapat uang kita, pasti kembali ke business as usual. Kita dicuekin.

Tapi rupanya saya keliru.  Ini memang perubahan di NISP. Di hari Ina kehilangan uang di ATM itu, beliau tidak sengaja berkunjung juga.  Dan dia ikut kaget. Tapi dia kemudian menjelaskan bahwa di ATM NISP ada asuransi perlindungan terhadap kejahatan seperti ini.  Kita cukup membayar premi setahun RP 15.000, dan kerugian kita ditanggung sampai Rp 10 juta. Tidak besar memang, tapi uang Rp 9 juta tadi itu bisa kembali, asal ada surat polisi. Astaga, mengapa Bank BNI tidak punya ide seperti itu ya. Kan lumayan? Ah, they simply don’t care.

Akhirnya Ina memutuskan untuk hijrah ke NISP. Harus bertahap memang. Pertama rekening.  Kemudian perlindungan ATM.  Lalu investasi finansial. Perlu sebulan lebih sebelum Ina benar-benar bisa menutup semua rekening nya di BNI. Ini juga karena BNI membuat transfer ke NISP susah. Berhari-hari kliring tidak berhasil.  Alasan mereka no rekening NISP yang diberi Ina salah, jadi mental.  Seharusnya kan mereka kontak Ina?  Ini tidak, di diamkan saja berhari-hari. Ina yang harus kontak mereka berkali-kali. Dan ternyata tidak ada kesalahan no rekening.  Mereka saja yang punya niat, attitude, dan profesionalitas yang tidak baik. Seminggu kemudian baru bisa masuk ke NISP.

Saya cuma geleng-geleng. Ina bilang, waktu dia masuk ke halaman BNI, dia merinding. Lega sekali waktu semua rekening sudah ditutup, dan dia keluar dari pintu kantor BNI. Seperti lepas dari jeratan yang mengerikan, kata Ina.

Dan saya melihat bahwa pelayanan NISP sekarang jauh lebih superior.  Kalau kita repot, mereka datang ke rumah. Kalau punya pertanyaan, tinggal sms dan telpon.  Kita mendapat personal services, seperti orang kaya hehe. Kita butuh form, beliau datang membawakan.  Saya salah isi, no problem, dia datang lagi bawa satu lagi.

Kemudian dia berusaha memaksimalkan keuntungan investasi.  Saat dana kita jatuh tempo, beliau menawarkan skema yang lebih baik.  Beliau menjelaskan resiko-resikonya, sehingga kita memilih produk perbankan yang seusai dengan profil resiko kita.  Misalnya begitu rate SBI turun, beliau mengotak menawarkan memindahkan deposito ke obligasi ORI saat deposito jatuh tempo.  Begitu kita setuju dengan penjelasan mereka, beliau dengan cepat memprosesnya.  Tidak repot.

Saya memang tidak dibayar NISP untuk beriklan begini.  Mereka juga adalah bank, berusaha untuk dapat profit.  Tapi saya menghargai usaha mereka untuk memaksimalkan benefit bagi nasabah.  Saya menghargai usaha mereka mendesain layanan dan produk mereka, agar keuntungan nasabah bias optimal. Saya menghargai usaha mereka melindungi nasabah. Dan saya menghargai cara mereka memperlakukan nasabah. They gain our turst, and hopefully they can keep this trust.

Dan bagi saya, senang sekali melihat wajah Ina menjadi cerah kembali. So happy to see people treat her with respect and care.

Advertisements

  1. kanadi

    saya nasabah BCA juga beberapa kali diperlakukan tidak ramah Pak.. Dulu sewaktu awal kuliah, sempat trauma soal tanda tangan di BCA karena pernah dimarahi tidak sesuai dengan KTP.. Padahal menurut saya sesuai-sesuai saja.. Salah seorang dosen Informatika juga pernah bercerita hal yang sama..

  2. Turut prihatin pak. Saya sudah lama tutup tabungan di BNI gara-gara ATM hilang. Terus ATM pengganti baru bisa diproses kalau ada surat laporan kehilangan dari polisi. Menurut saya sih ini prosedur ga jelas, salah satu alasan yg logis adalah untuk memberikan kerjaan (dan uang administrasi) bagi kepolisian serta untuk mempersulit nasabah untuk ganti kartu ATM 🙂 . Jadi saya pilih tutup tabungan BNI, mendingan pakai bank NIAGA saja, hehehehe.

  3. Seperti pengalaman Kanadi,

    Setelah hampir 14 tahun menjadi nasabah *CA, saya pun sudah menutup rekening berikut kartu kreditnya beberapa waktu lalu. Bank tersebut terkesan sedikit angkuh dan berbelit-belit bagi nasabah kecil seperti saya.

  4. Kami turut prihatin Pak Armein. Semoga kejadian yang dialami Ibu Ina tidak pernah terjadi lagi. Dan semoga bank yang bersangkutan berbenah untuk menjadi lebih baik lagi.

    Salam kami.

  5. Turut prihatin pak..

    Saya juga nggak ngerti apa yang salah dengan BNI, tapi emang saya kurang puas dengan cara mereka melayani kita. Terlalu berbelit2 dan suka lelet, makanya cuma menggunakan BNI untuk autodebet bayar uang kuliah aja. Nanti setelahnya bakal ditutup kayaknya. Hehe..

    NISP yang sekarang emang jauh lebih baik daripada dulu2. Terakhir saya ke sana, pelayanannya lumayan dan ramah2 juga stafnya. Yah, semoga aja begitu seterusnya.

  6. ariandy

    Mesra bener nih sama istrinya.. 😛

  7. erecto massimo

    hahahahah,
    belum pernah punya account bank di itali ya?
    mereka sangat-sangat-sangat judes,
    apalagi sama imigran,
    di sini gw menyadari bahwa org Indonesia itu bangsa paling ramah sedunia,

  8. nugie

    *Nunggu jepang bisa bikin robot Teller yang bisa ramah sepanjang waktu kecuali pas baterenya abis*….

  9. hmm penipuan model begitu gmn cara kerjanya ya? kok mereka bisa utak-atik mesin ATMnya BNI? apa ada kaitan dengan orang dalam ya?

  10. @Mulyanto
    Kalau ATM hilang, prosedurnya memang harus buat laporan ke polisi…..saya kira setiap Bank sama, karena ada pemeriksaan dari Bank Indonesia

    Pak Armein,
    Kita tetap harus berhati-hati transaksi melalui ATM, karena sering menjadi sasaran kejahatan. Walau saya lama bekerja di Bank (>27 tahun) sebelum pensiun, saya hanya mengambil uang di ATM yang ada di depan Banknya, jadi saya tak pernah ambil uang ATM di sembarang tempat, karena banyaknya kasus yang terjadi seperti itu. Kasus seperti di atas pernah dimuat di surat pembaca Kompas.

    Juga sekarang banyak penipuan melalui telepon, dan muali merambah juga telepon ke rumah, saya pernah tiga kali mendapat telepon …jadi sekarang mest pesan pembant, jangan mudah memberikan nama pada si penelepon, karena logikanya saat dia menelepon, dia harus sudah tahu siapayang ingin dihubungi

  11. aWi

    kalau saya terpaksa buka BNI, karena saya pegawai yang diharuskan buka rekening di Bank itu. Supaya memudahkan dan prosesnya lebih cepat (sama-sama BNI).

    Padahal saya sudah cukup lama nasabah Permata Bank, dan puas akan layanan mereka.

  12. @edratna

    Kalau di BCA Dago, bank yang membuatkan laporan kehilangan-nya. Nasabah tinggal datang lagi sesuai janji. 🙂 .

  13. Kalau yg hilang buku Taplus tidak cuma harus lapor polisi, tapi rekening harus ditutup dan diganti rekening yg lain. Terpaksa harus memberitahukan ke pihak (pihak-pihak) yg biasa mentransfer ke rekening kita …

  14. Biaya “membuat” surat kehilangan ATM dari polisi Rp 15.000,-
    Biaya menutup rekening Rp 50.000,-

    Semua bank mensyaratkan surat laporan kehilangan ATM dari polisi.
    Perbankan memiliki prinsip accountability. Mereka butuh hitam di atas putih untuk arsip mereka. Jadi bukti fisik berupa dokumen surat dari polisi tersebut dibutuhkan oleh bank.

    Condro

  15. hiba

    crita diatas hanya bagi kaum awam mengenai ilmu perekonomian dan perbankan apalagi hukum.

    bagi yang mengerti hukum permasalahan tersebut tdk akan terjadi

  16. 2 point yang sangat menarik: 1) “Mungkin Ina terlalu cantik, sehingga dia sirik dan judes”. Sangat cerdas pak. Salut :). 2) CVP yang NISP tawarkan, pas dengan kebutuhan nasabah. Kira2 segmentasi nasabahnya gimana yah, pak?

  17. saya mahasiswa universitas negeri manado,
    Beasiswa Bidik misi,penyaluran dari Bank BNI.
    kalau hilang rekening tabungan,gak tau mau gimana….

  18. bagi anda yg ingin membantu atas banjirnya jakarta kami minta kepada anda semua untuk membantunya kasihan mereka rekening bca .0960757891 atas nama hj.tolkah tanggerang




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: