Moral Berjumpa Realitas

Konon orang sukses selalu berusaha mencari peluang untuk menolong orang lain.  Orang gagal selalu bertanya, “Apa untungnya untuk saya?”. Apakah ini pesan moral atau memang begitu kenyataannya?

Betapa sering kita mendengar nasehat yang datang dari orang yang tidak menjalankannya sehari-hari. Akibatnya kita kehilangan kepercayaan pada isi nasehat.  Kita iya kan sebagai pesan moral yang baik, tapi jauh di dalam lubuk hati kita, kita tidak percaya…

Jadi, pesan di atas itu memang pesan moral yang baik.  Tapi apa ia?  Sadar atau tidak kita selalu bertanya, apa untungnya buat saya?  What is in it for me?

Tapi pesan ini bukanlah sekedar pesan moral.  Ini fakta.

Sebagai contoh, kita senang sekali pergi ke toko yang menjual barang cocok dengan keinginan kita, cocok dengan kebutuhan kita.  Kita senang pergi ke tempat di mana kita dilayani dengan baik, dengan nyaman.  Kita senang mengunjungi acara yang menhibur kita, menyenangkan hati kita.

Sebaliknya, kita mengomel dengan toko yang menjual barang jelek, gampang rusak, atau kemahalan.  Kita kecewa dengan pelayanan kantor yang tidak lancar, lama, ribet, dan nyusahin.  Kita kapok datang menonton acara yang menjemukan.

Pernahkah kita berpikir, mengapa ada perbedaan seperti itu?  Mengapa ada toko favorit dan toko yang kita hindari?  Mengapa ada kantor yang pegawainya kita doakan agar diberkati Tuhan, dan ada kantor yang pegawainya kita kutuki. Mengapa ada acara yang menarik dan acara yang menjemukan?

Tidak lain karena orang-orang yang melayani dengan baik itu berusaha keras memikirkan kita.  Memikirkan kepentingan kita. Memikirkan kebutuhan kita.  Memikirkan apa yang menarik hati kita. Memikirkan situasi keuangan kita.  Berempati dengan kita. Merekan kemudian berusaha mempersembahkan semua itu…

Itu sebabnya mereka selalu kita kunjungi.  Kita menjadi pelanggan setia mereka.  Dan sukses mereka itu sudah di tangan karenanya.

Sebaliknya, kalau setiap kita datang butuh layanan mereka, mereka langsung berpikir, “apa untungnya buat saya?”, maka sikap itu langsung tercermin pada perilaku dan ucapan mereka.  Dan kita pun merasakannya sebagai pelayanan yang buruk. Kita merasa dijadikan sapi perahan atau bahkan sasaran pemerasan dan penipuan. Kita biasanya kapok, dan kalau bisa tidak akan ke sana lagi seumur hidup.  Bangkrutlah dia…

Jadi pesan moral di atas itu adalah juga realitas. Dalam segala hal yang kita lakukan, berempatilah pada mereka yang kita layani. Surprise mereka dengan kejutan yang menyenangkan. Do it as a gift to them, bukan what is in it for me


  1. “what’s in it for me?” manusiawi menurut saya Pak..

    yang membuat pertanyaan tersebut berkonotasi negatif adalah ketika untuk hal yang berbeda jawaban pertanyaan juga berubah-ubah, diukur berdasarkan materi, atau tidak memikirkan orang lain..




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: