CVP: What are you selling?

Apa persisnya CVP anda? Tanpa mengetahui CVP anda itu, maka hidup anda akan terombang-ambing banyak badai, termasuk badai finansial.

OK, apa sih maksud saya dengan CVP? CVP itu adalah singkatan dari Customer Value Proposition.  Usulan nilai bagi pelanggan. Sesuatu yang anda hasilkan yang menurut anda bernilai bagi orang lain, bagi pelanggan anda.

Anda tidak tahu CVP anda?  Wah, ini indikasi buruk, euy.  Berarti anda tidak tahu apa kontribusi anda bagi orang lain. Dan orang yang tidak tahu seluk-beluk CVP dan menghasilkan CVP akan selalu hidup dalam belas kasihan sistem.  Belas kasihan orang lain.

Seperti kejadian kemarin Minggu siang. Sepulang dari gereja, kami singgah dulu di Griya jalan Pasteur untuk belanja ikan laut goreng murah meriah. Saat kami keluar menuju mobil yang diparkir, seorang anak cepat-cepat datang, dengan tangan terulur minta uang.  Minta uang untuk makan.  Belum selesai, datang seorang ibu menenteng jajanan kering.  Ibu ini berusaha menjualnya pada kami.  Tapi penawarannya berbunyi, “tolong dibeli, karena saya belum  makan dari pagi…”.  Itu adalah CVP dari ibu dan anak ini.  Ia berusaha menimbulkan rasa bersalah dalam hati pelanggan, dan rasa bersalah itu diobati dengan produk jajaan dia. Dan jujur, mempan juga. Ina beli dua bungkus.

Apakah kita seperti itu? Apakah kita berharap orang memberikan uang pada kita, menggaji kita, membeli jualan kita, karena kita bangkitkan rasa bersalah pada orang lain? Seperti saya sering bilang, gaji guru atau dosen harus naik karena selama ini kurang. Kalau kemudian gaji ini betulan dinaikkan, apa alasannya?  Karena kasihan?  Kalau ya, berarti guru dan dosen itu sama dengan ibu dan anak itu.

Atau lebih parah lagi.  Ada yang menuntut pembayaran dengan ancaman. Seperti preman pasar atau tukang kompas di perempatan jalan. Kalau tidak bayar, awas, saya susahin.  Atau seperti petugas polisi dan pejabat kantor yang mengancam.  Kalau tidak bayar, urusanmu saya susahin. Atau seperti pekerja yang mengancam mogok dan menutup tempat kerja, kalau uang tidak dibayar sesuai tuntutan nya. Atau, dengan cara halus, kita hanya memilih caleg, pejabat publik, kalau dia beri uang sogokan atau dia janji menaikkan gaji. Apa dasar kita menerima uang?  Karena ancaman kita? Kalau ya, kita itu tukang peras namanya.

Seharusnya kita semua berpikir CVP.  Apa nilai yang kita usulkan kepada orang lain.  Apa manfaat kita, layanan kita, produk kita bagi kemajuan impian orang lain. Dan biarlah mereka menentukan apakah CVP kita itu layak beli atau tidak.

Dan lebih istimewa lagi kalau CVP kita itu dibuat untuk memampukan orang lain menghasilkan CVP yang lebih hebat. Dengan kata lain CVP kita saling memperkuat CVP orang lain.

Seharusnya ekonomi dibangun di atas pertukaran CVP ini. Krisis ekonomi terjadi karena terlalu banyak benalu dalam ekonomi kita. Eknomi kita akan kokoh kalau semua pelakunya saling memperkuat CVP.

Anda akan lebih sukses dan mampu menghadapi krisis bila memiliki CVP yang jelas.

Advertisements

  1. i like it. indeed.
    btw pa armein, punya facebook ga? :d

    • azrl

      Hallo Ayi, apakabar. Saya tidak punya facebook. Belum ada rencana untuk punya nih

  2. Ndro

    bedanya sama added value apa pak? bukannya sama yah?

  3. Betul pak. Apa yang diberikan toko kue Kartika Sari hari ini dan purna jual dari Glomation senin lalu melebihi apa yang saya harapkan. Dan saya sangat puas.

    Kartika sari telah mencukupi kebutuhan saya saat itu. Stok kue tersedia, ragam kue lucu-lucu dan bervariasi, kualitas terjamin, halal, harga pasti sehingga saya bisa menyesuaikan dengan budget, terjangkau, bahkan ada diskon, dan bonus kotak kue. Dan saya bisa memilih sendiri kuenya.

    Demikian juga Glomation. Saat board yang dideliver tidak berfungsi semestinya, harapan saya hanya mendapatkan panduan teknis. Eh, ternyata boardnya diganti dan ongkos kirimnya gratis.

    Harga (dan diskon, serta bonus), stok/ketersediaan produk atau layanan dan kemudahan purchasing, fungsional dan performansi produk, purna jual, technical support, serta keterlibatan pelanggan, mungkin harus menjadi objective kita sebagai penyedia produk yah pak. Mengerti apa yang pelanggan butuhkan.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: