Financial Suicide, Suicidal Finance

Saya tidak bisa menahan kepedihan saya membaca berita seorang pria bunuh diri di Jakarta Selasa malam kemarin. Dia pamit mencium istri dan dua putri balita, kemudian diam-diam gantung diri di garasi. Rupanya kejahatan ekonomi semakin memakan korban yang banyak.

Pria ini manajer senior di perusahaan Sarijaya. Perusahaan ini menipu nasabah sebesar Rp 245 miliar, dan sedang diproses polisi. Ia sangat tertekan, dan mengaku pada istrinya ia sedang menghadapi masalah berat di kantor.

Sebelumnya seorang pria nasabah Bank Century juga bunuh diri di Medan. Dua buan sebelumnya pria ini menangis di lobby Bank Century, minta uang tabungannya Rp 150 jutaan dikembalikan. Tapi karena tidak ada jalan keluar, ia mengakhiri hidupnya.

Kedua kasus ini melibatkan investasi uang nasabah ke produk-produk derivatif.  Investasi ke produk finansial, yang rupanya lebih berupa rekayasa finansial, bukan sistem produksi riil.

Saya tidak bisa membayangkan seorang pria mampu meninggalkan istri dan anak-anaknya seperti ini. Selama-lamanya. Dengan cara seperti ini. Dan kalau ini terjadi, mesti masalah dan tekanan psikologis yang dirasakan sudah amat-sangat berat. Dunia jadi begitu gelap. Begitu buntu. Begitu berat.  Crushing..

So heart breaking, it makes me cry…

Saya berdoa orang mau melepaskan diri dari keterikatan itu. Keterikatan perasaan pada kinerja keuangan.  Keterikatan kegembiraan pada aspek finansial. Keterikatan kekayaan hidup pada kekayaan materi.

Saya berdoa orang mau mempelajari ilmu keuangan, ilmu investasi, ilmu ekonomi dengan lebih cerdas. Lebih punya hati. Tidak spekulatif. Tidak serakah. Tidak sembarangan memperlakukan uang orang, uang nasabah. Tidak mencelakai ekonomi, mencelakai nasib begitu banyak orang.

Kombinasi keserakahan dan ketidak cerdasan itu menghasilkan sistem finansial yang ngawur. Yang bakal ambruk. Suicidal.

Saya pikir, kita semua harus berubah. Saya mengusulkan sebuah rule of thumb. Kekayaan anda harus dispread, disebarkan.  Jangan menjadi tabungan.  Karena kejahatan finansial di mana-mana.  Uang anda dengan mudah akan hilang.

Bila anda mempunyai uang penghasilan katakanlah sebesar Rp 100 pertahun, maka anda perlu gunakan itu untuk empat hal besar:

  1. Biaya hidup sehari-hari (20%): makan, pakaian, transpor, dsb.
  2. Investasi Masa Depan Anak-Anak (20%): uang sekolah, kursus, asuransi pendidikan, dsb.
  3. Investasi Aset Tangible (20%): rumah, mobil, bisnis, saham di perusahaan startup, keperluan kerja, dsb
  4. Investasi Aset Intangible (20%): kursus, studi lanjut, tour keliling dunia, sumbangan, beli buku, bantuan sosial, pajak, dsb
  5. Simpan di Deposito Bank (20%): persediaan cashflow

Persentase itu hanyalah estimasi.  Jadi tentu utamakan biaya hidup, kalau uang kita tidak cukup. Saat mulai cukup, kita ditribusiakn kira-kira seperti itu. Dengan demikian, kalau terjadi kejahatan perbankan, kita hanya rugi sekitar 20%.

Prinsip dasarnya, jangan menyimpan aset terlalu banyak di uang. Jangan mengandalkan uang untuk mendatangkan penghasilan (lewat bunga, misalnya).  Dan jangan terlalu takut (kekurangan) uang.  Apalagi cinta uang. Selama sistem kita masih kapitalistik, dengan sekelompok elit yang kebanyakan uang, dan pengawasan pasar uang yang lemah, kita semua sangat rawan keguncangan krisis finansial.

Kekayaan yang kokoh ada pada diri kita, keluarga kita, sahabat kita, jaringan sosial kita, masyarakat yang saling tolong menolong. You should invest there.

Semoga ide ini bisa berguna, dan semakin banyak kita bisa memiliki kekuatan finansial yang lebih kokoh.


  1. pembagian prosentase-nya membuat saya berpikir, gaji PNS saya bisa nggak ya memenuhi yg nomor 1 saja, nggak usah jauh-jauh sampai noor 5 … hiks😦

  2. pembagian prosentase-nya membuat saya berpikir, gaji PNS saya bisa nggak ya memenuhi yg nomor 1 saja, nggak usah jauh-jauh sampai nomor 5 … hiks😦

  3. setuju Pak, yang ga boleh itu cinta uang! Mending cinta keluarga aja deh sehingga baik-baik mengelola dan “membelanjakan” uang untuk keluarga. (Padahal berkeluarga juga saya belum hehe)

  4. sangat inspiratif dan bermakna bagi kami.

    tks

  5. hmm.. jangan sampe kita diperbudak uang. iya ga ya? hehe.. kadang orang suka lupa diri, langsung putus asa bgitu uangnya hilang, padahal uang kan bisa dicari. coba kalau nyawa yang hilang, gmana nyarinya coba? [mksdnya, ga perlulah sampe bunuh diri segala karna uang] pendapat saya aja sih.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: