Pengetahuan Umum

Soal gaji dosen memang sering menjadi polemik. Banyak orang mengeluh, saya sudah berilmu, sudah S3, tapi kok gaji saya kecil. Sebenarnya gaji itu ditentukan what you do, bukan what you know.  Apalagi kalau pengetahuan kita itu pengetahuan umum, yang didapat di bangku sekolah.

Soal sepak bola, saya tahu banyak.  Peraturannya, game nya, mana yang lagi menang, jenis-jenis pemainnya.  Tapi pengetahuan saya itu sama dengan pengetahuan jutaan pria gila bola. Jadi pengetahuan saya tentang sepak bola adalah pengetahuan umum.  Nobody will pay me for that.

Beda misalnya dengan David Beckham. Dia tahu cara menendang bola dari titik tendangan bebas, melampaui benteng pemain belakang, dan bersarang di pojok atas gawang, jauh dari jangkauan kiper.  Dia tahu cara melewati pemain lawan yang hebat-hebat.  Dia tahu cara memberi umpan yang tepat pada saat semua pemain bergerak.  Dia tahu cara membangkitkan semangat pemain kawan dan mengatur serangan.  Pengetahuan ini membuat tim nya sangat kompetitif. Di dunia ini cuma sedikit sekali orang yang tahu ini.  Ini adalah specialized knowledge, pengetahuan khusus.  Dan banyak klub berebut mau membayarnya jutaan dollar.

Anda bisa bilang: saya sudah sarjana. Wah, begitu anda duduk di bangku kuliah, anda sudah masuk dalam sistem pendidikan nasional.  Dan sistem itu adalah pendidikan masal. Lulusannya memiliki pengetahuan umum, bukan khusus, karena semua yang ikut program studi itu tahu apa yang anda tahu.   Program S2 sudah masal.  Program S3 juga sudah mulai masal.

Point saya adalah pengetahuan seorang yang bergelar S1, S2, atau S3 adalah pengetahuan umum, bukan pengetahuan khusus.  Nobody will pay you for that. Yang anda perlu adalah pengetahuan khusus.

Apa pengetahuan khusus itu? Pengetahuan khusus adalah pengetahuan yang unik, khas, yang orang banyak tidak tahu, yang bisa diterapkan untuk menghasilkan fitur produk dan layanan yang kompetitif.

Panjang ya?

OK. Singkat nya, anda perlu pengetahuan yang jarang ada tapi sekaligus berguna. Jarang artinya cuma segelintir orang yang tahu.  Kayak Beckham itu.  Berguna artinya bisa menjadi sumber keuntungan kompetitif.  Bisa membuat menang bersaing. Yang kayak Beckham itu juga.

Jadi tanyakan pada diri sendiri dua hal ini.  Satu, apakah opengetahuan saya ini unik?  Dua, apakah pengetahuan saya bisa membuat tim saya, produk kami, layanan kami kompetitif? Lebih baik dari kompetitor?

Semoga jawabannya ya.  Kalau tidak, maka apa yang kita miliki itu adalah pengetahuan umum.  Pengetahuan koran. Pengetahuan masal. Dan itu murahan.

Dosen dengan pengetahuan umum, standar, tidak pernah akan mendapat gaji tinggi. Itu sama dengan orang yang tahu seluk-beluk sepak bola, tapi tidak pernah ikut turnamen dan memenangkan tim nya. Dia hanya ikut pertandingan sesama orang kantor untuk rekreasi, sosialisasi, dan olahraga.  Tentu jadinya ya gratisan, atau ya hadiah sekedarnya dari kepala kantor.  Kayak gaji PNS itulah…


  1. anugrahkusuma

    Wah,
    good article pak Armein….

    Untuk S3, mungkin kasusnya lain pak. Mestinya S3 itu kan punya satu pengetahun unik, wong disertasinya juga harus unik kan ?

    Tapi masalah pengetahuannya menjual sih, hmmmm mungkin ga semua S3 itu punya. Sometimes pengetahuannya begitu abstrak. Mirip seperti ketika teori atom dikemukakan. Useless untuk masa itu. Tapi risetnya terus berkembang sampai jadi pengetahuan yang menjual.

    Bisa2 kalau saya punya pengetahuan unik, kegunaannya justru malah kerasa setelah saya meninggal, jadi ya ga pernah ngerasain rewardnya (baca : duit, hepeng, money, don (bhs Korea)), hehe…..

    Atau rewardnya adalah “upah di Surga” pak 🙂

  2. a.k.a NEOs

    Menarik sekali pak armien, ini bisa untuk memukul mundur orang yang menggunakan “ilmu kodok”… he he he…
    Ijin copy untuk referensi….

    makacih..

  3. Ass.wr.wb.

    Saya termasuk salah satu fans Pak Armein. Sepakat kalau pengetahuan khusus akan tinggi nilainya. Tapi saya kurang sepakat tentang “pengetahuan khusus” dikaitkan dengan dosen. Setahu saya, sepanjang masih “gaji”, apalagi dosen, ya segitu2 saja. Ada aturannya. Kalaupun ada PT yang kasih gaji “selangit” itu tentu dengan pertimbangan khusus. Namanya juga pekerja.

    Lain lagi soal pendapatan. Ini yang jadi pembeda. Saya mengenal bbrp doktor, usia hampir sama, tapi soal kesejahteraanya, spt langit dan bumi. Tapi saya coba selidik, ternyata doktor yang kaya itu “pandai menjual karyanya”.

    Dalam abad informasi begini, kita coba bedakan dengan abad industri dimana orang “menjual tenaganya” untuk memperoleh reward, jualan ide adalah garda terdepannya. Bagi yang suka nonton acaranya p. Renald Kasali minggu pagi itu (skr kemana ya?) banyak entrepreneur muda yang penghasilannya ruaaar biasa. kenapa? Karena menjual idenya. Bahkan ada yang berhasil menjual “kotoran sapi”. nah !

    Perubahan ini yang tidak disadari sebagian besar orang. Mungkin buku Kiyosaki (Rich Dad Poor Dad) bisa menjadi awal yang baik. Acuannya : poor Dad, ayah miskin yang punya kedudukan tinggi di “Diknas”, dan Rich dad, seorang entrepreneur.

    Saya mulai senang baca bukunya Kiyosaki sejak bbrp tahun terakhir dan berusaha menerapkannya. Saya terkejut ketika berkunjung ke IT Telkom waktu Lomba Gemastik kemarin, ternyata ada pelatihan “melek finansial” yang diselenggarakan salah satu organisasi kemahasiswaan. Wah … kalau mahasiswanya begini kayaknya “malu” juga kalau dosen sampai nggak melek finansial.

    Seminggu yang lalu saya dimintai tandatangan seorang mahasiswa bimbingan saya TA nya. Dia angakatan 95 dan lulus th 2000. Walah. Baru sekarang mau ambil ijazah? Cerita punay cerita, dia seorang wira usaha sejak th 2000 itu. Lalu saya tanya pendapatnnya berapa? 50jt/bulan itu biasa pak, dan tahun kemarin dia masih nunggak pajak 1.3M ! HAH ! jangan tanya soal mobilnya, dah ganti 5 kali, terakhir mobilnya mercidan yang kijang diberikan ke ortunya.

    Saya tidak berusaha membandingkan antara pekerja dan wira usaha. namun lebih pada sharing ide dan pengalaman. Saya kira, para dosen S2 apalagi S3 dikaruniai otak cemerlang tentu mempunyai kesempatan luas untuk mengamalkan ilmunya. Seperti Kiyosaki bilang :”Uang yang masuk kantongnya banyaknya sama dengan orang yang kau temui”. Artinya tentu tidak hanya ketemu aja kan? Tapi seberapa banyak orang yang kita sejahterakan hidupnya.

    Wah terlalu panjang ya … maaf. Lain kali disambung lagi. Salam hangat dari Yogya pak Armein.

    Wahyup

  4. nice article 🙂

    mungkin ada satu tambahan lgi pak, Where do you work. Misal, S1 yang kerjanya cuma bersihin pipa di Slumberger, gajinya jauh lebih besar daripada seorang expert diperusahaan IT nasional :p

  5. Setuju Pak: gaji itu ditentukan what you do, bukan what you know.

    Tapi tidak setuju dengan ini:
    Dosen dengan pengetahuan umum, standar, tidak pernah akan mendapat gaji tinggi.

    Menurut saya, dosen digaji karena melakukan sesuatu: mengajarkan pengetahuan yang dimilikinya. Gajinya tidak akan tinggi jika dosen tidak aktif melakukan sesuatu (tugasnya, kewajibannya). Pengetahuan dosen juga (menurut saya) bukan pengetahuan umum, tetapi spesifik tentang pengetahuan tertentu. Kan tidak semuanya juga bisa jadi dosen… 🙂

    Jadi, dosen yang telah mengerjakan kewajibannya dengan baik (bukan dosen yang banyak ‘tahu’-nya) layak mendapat gaji tinggi meskipun sebenarnya reward untuk seorang dosen tidak harus selalu diukur dari gajinya…

  6. parmis

    untung saya bukan dosen tapi membantu dosen kuliah

  7. Terlepas dari pengetahuan umum atau pengetahuan khusus, seseorang dengan tingkat pendidikan (pengetahuan) dan pengalaman (what one does) tertentu seharusnya memperoleh reward sesuai dengan standar yg agak umum lah. Jadi ya mestinya tidak sekedarnya … hehehe 🙂

  8. gre

    Setuju sekali Pak! Apalagi skrg ini gak susah tuh dapetin gelar S3 (buktinya presiden kita 🙂 )

    @Nugie,
    di Control System, ada riset2 strategis dimana perusahaan2 automation besar rela mengeluarkan uang sebanyak-banyaknya. Misalnya: active surge control of compressor. Jadi doing PhD research di bidang itu sangat amat berguna. Di satu sisi marketable karena jadi useful product, di lain pihak dengan mudah dapet bayaran besar setelah lulus karena menjadi expert.

  9. anugrahkusuma

    @Gre,
    Setuju,
    untuk bidang control & automation, bahkan pemerintah Korea saja mau keluar duit buat automatisasi. Sebagai contoh, beberapa waktu lalu saya melihat demo di Gwangyang, satu pelabuhan logistik di Korea Selatan di mana beberapa ALV (automated lifting vehicle) buat ngangkut kontainer dari kapal ke “parkiran” bisa berjalan harmonis sekaligus, gak tabrakan, dsb. Unmanned. Dan vehiclenya gede2. Bukan sekedar mobile robot, hue hue hue…

    Seandainya pemerintah Indonesia mau keluar duit buat riset2 kayak gitu (gak cuman Rp. 25 juta sekali riset :P) , mungkin saya betah di Indonesia 😛

    Btw, Gre ini sapa ya ? 😀

  10. Tulisan-tulisan pak Armein di blog ini termasuk salah satu produk pengetahuan khusus yang Pak Armein miliki. Sayangnya saya hanya bisa membayarnya dengan do’a tulus : semoga Bapak bisa terus menulis.

  11. gre

    @nugie,
    di Indonesia gak usah berharap dari pemerintah. Itu kalo anda bisa compressor active surge control. Perusahaan2 minyak besar di Indonesia macam ConocoPhilips, Medco, Chevron,dll berani bayar juta-an USD. Karena sekali mereka tidak bisa stabilized compressor di oil platform mereka, akan trip/shut down semua oil platform mereka. Artinya akan rugi miliaran rupiah. Skrg produk ini masih dimonopoli CCC dengan respon time 20ms.

    Btw, gak penting perlu tahu siapa saya 😛

  12. anugrahkusuma

    @gre,
    sorry, udah ga mikirin bikin sesuatu di Indonesia, dan semoga ke depannya juga ga sampe ngurusin sesuatu di Indonesia 🙂

  13. iburumahtangga

    pak armein yang baik,,
    kalau menurut saya yg namanya pendapatan seseorang itu tidak ada hubungan nya dengan level pendidikan, usia, dll apalagi dari ganteng/ ngga nya seseorang.

    pendapatan mah hubungannya sama Tuhan. karna itu rezeki. kumaha ‘milik’ na mun ceuk urang sunda mah. berapa ribu coba lulusan s2/s3 yg masih nganggur. luntang lantung cari pekerjaan. termasuk saya. malah mungkin tukul arwana yg lulusan sd masih lebih berharta daripada saya 🙂 hehehe. bapak jg mungkin sesama dosen satu tempat kerja gaji bisa sama tp pendapatan berbeda-beda kan?

    tinggal gimana manusia giat berdoa dan berusaha mungkin yah…

  14. Sy lbh setuju bahwa tempat (atau bisa disebut ‘context’) lbh menentukan. Sebotol air putih di minimarket, gerbang ITB, restoran, bioskop, harganya berbeda-beda. Isinya sama.

    Jadi, pengetahuan umum pun nilainya berbeda2 tergantung lokasinya. Kalau dosen2 itb ngajar di univ malaysia, dg ilmu umum yg sama, gajinya jg sdh beda. Dana riset di itb 25jt di sana bisa 2 milyar. Anehnya sy tetap milih di itb. Maybe, something wrong with me. 🙂

  15. @Pak Armein:
    Tulisan tentang “what you know” vs “what you do” ini betul2 menginspirasi saya hari ini.

    @gre:
    Semoga PR bahasa Norsk dikerjakan baik2, ya?
    Salam Kontrol Optimal!
    Kutunggu papermu muncul.
    🙂

    @nugie:
    Semakin gua mikirin Indonesia, semakin gua kaga kelar studi di Jerman.
    Jadi rahasia sukses studi di luar negeri adalah lupakan Indonesia.
    Pikirkan kesuksesan diri sendiri di luar negeri.
    Nanti kalau udah sukses, cukup bilang “I am Indonesian”.
    Secara tak langsung, nama Indonesia akan terangkat di dunia.

  16. pengetahuan khusus memang mahal harganya.
    pernah ketemu orang yang digaji gede banget cuma buat ngasih security assistance. cuma ngomong besok aman apa engga.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: