Makhluk Sorgawi

Banyak orang di dunia berusaha keras hidup baik agar bisa masuk sorga.  Tapi kita frustrasi karena gagal menjadi baik.  Meski berusaha keras, kita gagal menumbuhkan hidup kita menjadi mulia. Saya pikir ini terjadi karena konsepsi kita terbalik.

Orang rindu akan kehidupan yang baik. Ingin hidup mulia.  Ingin masuk surga.

Ia kemudian berjuang mendapatkannya.  Ia melatih diri. Ia mentaati semua aturan moral. Ia belajar agama dan berusaha keras menjalankannya.

Tapi tidak jarang ia merasa tidak sanggup menjalankannya.  Sering ia gagal.  Sering ia melanggar aturan.  Sering ia jatuh oleh godaan. Sering ia tidak berhasil melaksanakan hal yang baik.

Ia kemudian sedih dan frustrasi. Ia menyerah.  Ia tidak lagi menganggap dirinya OK.

Saya renungkan, cara berpikir seperti itu kurang tepat.  Ini cara berpikir yang terlalu evolutif. Seakan-akan kita ini makhluk hewani, duniawi, yang berjuang untuk menjadi makhluk sorgawi.  Seakan-akan kita ini datang dari monyet, dan harus berkerja keras memuliakan diri sehingga berevolusi menjadi makhluk yang layak masuk surga.

Padahal lebih tepat kalau kita menyadari bahwa kita sebenarnya adalah makhluk roh sorgawi yang datang ke dunia mengambil bentuk tubuh manusia.

Bisa saja tubuh kita adalah tubuh duniawi.  Tubuh yang mungkin masuk dalam taksonomi paralel dengan simpanse.  Tapi kesadaran kita tidak.  Jati diri kita tidak. Roh kita tidak.

Roh kita datang dari sorga.  Kita berasal dari kayangan. Nirwana. Puncak Olimpus.

Yang terjadi adalah kita justru sedang belajar menjadi manusia.  Belajar memiliki tubuh duniawi.  Belajar hidup dengan makhluk-makhluk mortal. Belajar hidup di dunia.

Jadi kita sedang belajar mengendalikan tubuh kita itu.  Seperti seorang sais, seorang penunggang kereta kuda, yang sedang belajar mengendalikan kuda liar. Ia menangkap kuda dari padang belantara untuk dibawa pulang ke rumahnya. Tidak selalu berhasil, sehingga kereta kuda bisa lari ke sana-kemari. Bisa menubruk sana sini.  Bisa terjerumus masuk lubang.

Tapi tidak berarti sang sais, sang penunggang, itu liar. Tidak.  Karena sang sais itu bukan kuda.  Ia makhluk mulia. Makhluk yang tidak liar, yang kebetulan harus menunggangi kuda liar di belantara.

Jadi kita tidak perlu frustrasi.  Sebagaimana penjinak kuda yang berpengalaman, sais ini tidak menyerah.  Ia bangun lagi.  Menarik kereta kuda keluar dari jerumusan lubang. Dan berangkat lagi. Begitu seterusnya.

Dan akan tiba suatu saat kuda ini akhirnya berhasil dikendalikan. Dan kereta berjalan dengan mulus, kembali pulang ke rumah sais dengan gagah dan anggun.

Sama dengan kita bila tiba saatnya kita kembali ke rumah kita yang kekal itu, tempat roh kita diciptakan, tempat roh kita akan kembali.

Jadi kalau kita berpikiran bahwa kita makhluk duniawi yang sedang bekerja keras memuliakan hidup kita agar bisa masuk sorga, maka kita itu, suka atau tidak, sedang menganut teori Darwin. Teori evolusi. Teori ini mengajarkan bahwa kehidupan ini berjalan linier, dari makhluk satu sel jaman purbakala yang tidak bisa apa-apa, sampai ke kehidupn kompleks tingkat tinggi di jaman modern.

Saya pikir kita harus menyadari akan dua macam kelahiran.  Satu kelahiran fisik, dari rahim ibu kita, dari dunia ini. Satu lagi, kelahiran rohani, dari Pencipta kita, dari sorga. Kita harus menyadari kedua kelahiran ini.

Dengan menyadari asal kita dari sorga, maka kehidupan kita di dunia ini akan sangat menyenangkan. Bukan lagi itu sebuah perjuangan dari makhluk hewan menjadi makhluk sorgawi, yang selalu gagal itu. Melainkan kehidupan kita adalah suatu perjalanan, suatu pengembaraan, suatu darmawisata, suatu tour, dari seorang makhluk surga di dunia ini.

Dan dalam pengembaraan ini, kita membantu sesama pengembara.  Kita membuat dunia ini menjadi lebih baik dan indah. Sebelum kita pulang kembali dan beristirahat di rumah kita yang kekal itu.


  1. Analogi yang menarik (sais vs kuda liar). Yang harus diwaspadai adalah jangan sampai sang sais terbawa arus ke ‘dunia’ kuda liar. Tentu ada ‘ilmu’-nya agar sang sais bisa kembali pulang ke rumahnya dengan gagah dan anggun…

  2. hmmm… pembahasan yang menarik pak!!! nice posting!!!




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: