Mengejar Hari Esok

Hari ini bayar, besok boleh gratis… Demikian pengumuman iseng di kantin, yang sering membuat kita tersenyum. Jadi hari ini susah, besok senang. Celakanya ternyata besok itu selalu akan menjadi hari ini. Jadi ini jebakan. Saya pikir banyak kesusahan hidup datang karena kita juga terjebak terlalu menghidupi hari esok seperti itu.

Maksudnya bagaimana?

Ada orang hidup dalam impian.  Jaman Majapahit dulu kita jaya. Jaman Nabi masyarakat tentram dan madani. Jaman Belanda kota ini tertib.  Jaman pak Harto harga terjangkau. Demikian kenangan kita.

Padahal impian itu sebenarnya tentang masa lalu.  Kita memimpikan variasi dari pengalaman masa silam, yang muncul kembali saat kita tidur.  Kita yang hidup dalam impian, dalam kenangan, sebenarnya menghidupi masa lalu.

Belum lagi kalau masa silam itu masa yang menakutkan.  Hidup kita menjadi hidup traumatis.

Sebaliknya, kita juga bisa hidup dalam visi.  Kita melihat masa depan dan memperjuangkannya.  Penderitaan hari ini kita tahan untuk harapan yang lebih baik.  Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

Ini jelas lebih baik. Hidup dalam visi masih lebih baik dari hidup dalam kenangan.

Tapi inipun tidak sempurna.

Karena dalam mengejar masa depan yang belum datang itu, orang menyiksa dirinya.  Orang memberi tekanan, stress, yang berat pada tubuhnya. Orang menyusahkan hidupnya.

Waktu berjalan begitu cepat, saat kita berfokus pada masa depan. Hidup kita berjalan pada jalur cepat.  Mata kita berpusat ke depan, dan apa yang ada di sekitar kita lewat berkelebat.

Dan kita tidak lagi menikmati pemberian Tuhan hari ini.  Kita tidak lagi melihat keindahan sekitar kita.  Kita tidak lagi menikmati senyuman orang di sekitar kita. Kita tidak lagi merasakan berkat hari ini, jam, ini, menit ini, detik ini.

Terlebih, kita tidak lagi melihat mata yang butuh pertolongan.  Pandangan mereka  lapar, haus, telanjang, dan terberlenggu di sekitar kita. Mereka yang butuh perhatian dan kasih sayang kita.

Semuanya berkelebat lewat di sekitar kita, saat kita hidup mengejar hari esok.

Jadi bagaimana?

Saya pikir, biarlah masa lalu menjadi impian dan kenangan.  Menjadi kembang-kembang yang menghiasi mimpi kita di waktu lelap.  Dan biarlah masa depan menjadi harapan kita, menjadi asa kita, menjadi visi kita.

Tapi marilah kita hidup pada hari ini, pada detik ini, pada saat ini juga.  Menghidupi dengan penuh syukur semua berkatNya. Dengan penuh antusias menikmati apapun yang diberikan kehidupan pada hari ini. I will enjoy whatever life gives me today.

Yesterday is your dream, tomorrow is your hope, but today is your life


  1. parmis

    sama dengan beli satu di kasih satu atau naik gratis turun bayar pak kalau naik angkot he heh

  2. iya pak, harus menghargai hari ini.

    kcenderungan kita memang menargetkan buat ke depan yang baik2, tapi saat berakhir buruk, kita bakal ngeliat lagi ke belakang, pengen semuanya berjalan seperti yang sudah2. kita hidup entah terus melihat masa lalu atau terlalu berorientasi ke depan, tanpa ingat kalau kita masih punya hari ini.

    ini juga bagus pak postingannya.. =)

  3. luthrafi

    bener ya Pak

    hidup kan yang saat ini ya..




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: