Kompetensi Capres

Menjadi presiden itu seperti menjadi pilot sebuah jumbo jet. Orang ini mengendalikan instrumen kekuasaan terhadap nasib ratusan juta orang.  Kita betul-betul membutuhkan orang dengan kompetensi yang super tinggi.

Hingar-bingar pemilihan presiden Indonesia kali ini agak redup. Mungkin secara psikologis keburu hilang PDnya oleh fenomena Obama. Mau tidak mau orang menuntut capres Indonesia sekualitas Obama. Sampai capres seperti Rizal Ramli mengakui betapa dia jadi tidak lagi bisa banyak omong setelah membandingkan dirinya dengan Obama.

Jadi dari 230 juta orang, calon kuat kita tinggal dua: SBY dan Megawati.  Dan dua-duanya bukan Obama.

Hal yang sering tidak dimengerti capres adalah bahwa dia harus tegas, berani, dan powerful, dan pada saat yang sama sangat kalem, cermat, hati-hati, dan penuh perhitungan. Kontradiksi ini bisa dianalogikan dengan pilot pesawat raksasa.  Ia bisa mengeluarkan tenaga besar untuk menerbangkan pesawat ini dan menjelajahi samudera dan benua, tapi pada saat yang sama ia sangat cermat dan mengutamakan keselamatan penumnpangnya.

Ia harus berani, artinya bisa menerapkan kekuasaannya tanpa ragu-ragu.  Ia berani melawan kelompok penekan, lobbiests, kekuatan asing, bahkan bangsanya sendiri, kalau dia tahu dia dalam posisi yang benar.

Tapi pada saat yang sama, ia penuh sayang, penuh hormat pada yang dipimpinnya.  Ia tidak mencelakakan orang dengan kekuasaannya.

Dan yang sangat penting, pilot itu adalah pelayan penumpang.  Pilot menerbangkan pesawat menuju tujuan penumpang.  Bukan sebaliknya, penumpang harus ikut kemanapun pilot merasa ingin terbang.

Setiap capres harus bertanya pada dirinya sendiri, apakah dia mempunya kompetensi seorang pilot?  Apakah ia bisa menjadi pilot itu?  Apakah ia punya keterampilan tinggi mengendalikan jumbo jet dengan 230 juta penumpang?  Apakah dia punya pengetahuan tentang samudera dan benua.  Terlebih lagi, apakah dia punya hati yang menyayangi penumpangnya, dan mau menghantarkan penumpangnya ke tujuan, cita-cita mereka?

Mari kita memilih presiden yang paling tepat.  In meantime, mari kita dorong proses penumbungan capres-capres di masa mendatang.


  1. wah susah juga ya pak kalau memilih yang paling kurang kelemahannya dari calon yang sama-sama punya kelemahan.

  2. ……. KARENA JENDRAL NAGABONAR

    Karena pemilu 2009 memberi sebuah mahkota, demikian juga dia akan memberimu sebuah kuasa, demi semua itu Jendral Nagabonar ( Dedi Mizwar) mendeklarasikan diri sebagai calon Presiden.

    ……………………………..

    Dalam kancah perpolitikan, menurutku… Jendral Nagabonar terlampau cepat mengutarakan jalannya. Sedang ia belum mahir benar mengendalikan kaki, sehingga mudah sekali dia sakit dan terjatuh.

    Ketahuailah Jendral!!!

    Diantara lipatan-lipatan jubahmu, sesungguhnya… orang terkucil menggantungkan harapannya , orang yang tercampakkan menaruh seluruh bebannya, dan wanita yang gagal dalam hidupnya mencurahkan segala keputus-asaan-nya.

    …………………………….

    Maafkan aku Jendral!!!

    Aku tak dapat memberi dukungan kepadamu, sebelum engkau bicara padaku dan memberiku kebenaran janji kampanyemu.

    sumber:http://asyiknyaduniakita.blogspot.com/

  3. anugrahkusuma

    Usul : bikin standar kompetensi presiden🙂
    Oke, semua orang berhak menjadi presiden. Tetapi sama analoginya dengan pilot. Semua orang berhak menjadi pilot, tetapi tidak semua orang bisa menjadi pilot.

    So, kayaknya perlu nih calon presiden memiliki sertifikasi presiden🙂

  4. iscab

    @nugie eh anugrahkusuma:
    Kayanya pilih Presiden yang udah berpengalaman jadi Presiden.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: