Sertifikasi Dosen

Sebentar lagi saya akan menjalani proses sertifikasi sebagai dosen.  Saya harus mengisi form dan akan dinilai oleh asesor.  Kalau lulus, saya bisa menjalankan profesi dosen.

Terlepas dari banyak pro-kontra soal sertifikasi guru dan dosen, saya tidak banyak berkomentar tentang ini.  Saya jalani saja.  Saya percaya maksudnya baik.  Dan dengan sertifikasi ini, suatu standar kualitas bisa dijaga.

Cuma memang ad banyak lika-liku dan cerita simpang siur mengenai sertifikasi ini.  Konon dengan adanya sertifikasi, maka tunjangan gaji bisa dinaikkan. Katanya, …katanya nih, kalau saya lulus sertifikasi, tunjangan saya semakin tinggi.

Dan ini sebetulnya agak mengherankan saya.  Mengapa sertifikasi dikaitkan dengan tunjangan, ya?

Sertifikasi itu tanda tercapainya suatu standar kualitas.  Tunjangan itu selalu terkait dengan kinerja output. Sertifikasi adalah status.  Tunjangan adalah kompensasi dari suatu usaha.  Sertifikasi adalah cap, stiker tentang saya. Tunjangan adalah upah keringat saya.

Jadi, sertifikasi itu adalah syarat saya boleh bekerja sebagai dosen.  Sedangkan tunjangan itu saya baru boleh dapat setelah saya menjalankan tugas saya dengan baik.  Seperti profesi dokter.  Dengan sertifikat profesi, ia mendapat status Dokter dan berwewenang memeriksa pasien. Tapi itu tidak otomatis berarti mendapat gaji.  Dia harus kerja di klinik atau rumah sakit, barulah ia mendapat upah.

Jadi saya pikir barangkali dosen dan guru dianggap miskin dan perlu mendapatkan bantuan sosial.  Tapi karena takut kami tersinggung, caranya ya itu dilakukan melalui sertifikasi. Jadi bisa-bisa ini sebenarnya program peningkatan kesejahteraan giuru dan dosen, bukan kualitas pendidikan. Masak sih?

Isu lain adalah tentang pengakuan status profesi sebagai dosen atau dokter. Saya pikir pada akhirnya yang paling menentukan pengakuan suatu profesi adalah orang-orang yang dilayaninya.

Ikatan Dokter Indonesia boleh saja merasa berhak mengakui seseorang itu dokter atau bukan.  Tapi seseorang benar-benar dokter itu harus dilihat dari kacamata pasien. Bagaimana dia memperlakukan pasien.  Bagaimana dia mengerahkan kemampuannya untuk menyelamatkan pasien.

Demikian juga profesi dosen. Dosen itu punya tugas tridarma: mendidik, meneliti, dan mengabdi pada masyarakat. Dia diukur oleh bagaimana dia melayani mahasiswa, komunitas dunia ilmu, dan masyarakat. Mereka itu sasaran pelayanan profesinya.

Seorang dosen boleh saja bangga lulus sertifikasi profesi dosen.  Jadi ke dosenan nya diakui asesor. It is a good thing.

Tapi sertifikat itu tidak bermakna kalau mereka yang menjadi sasaran pelayanannya tidak mengakuinya.  Apalagi kalau sertifikasi ini dimaksudkan untuk bantuan sosial terselubung… yah bukannya bangga, malah malu-maluin..


  1. iwan

    Superr!! pak, salut a/ nasehat bpk. Akhirnya bukan gaji ato uang yg kita cari tapi justru menjadi pribadi yg kompeten, yg indikasinya diliat dari sberapa besar kontribusi kita kpd org2 yg kita layani dan apresiasi org2 yg kita layani thd kita😉.

  2. Yang penting penilaian dari sejawat, pimpinan dan asesor bener-bener obyektif bukan karena “ewuh-pakewuh” (apa yg bahasa Indonesia-nya?)

  3. parmis

    emang pak dosen itu pekerja an yang mulya mesti nya jangan di macam2 kan aturan yang teu pararuguh

  4. @p.oemar: jadi sungkan kali, pak. , walaupun sungkan sendiri harfiahnya bisa dimaknai macem-macem tergantung daerahnya sih…😀

  5. Ndak papa sertifikasi… yg pentingkan ada insentif tambahan setelah lulus sertifikasi Pak. Ibu saya jg sedang nunggu sertifikasi guru.

  6. juanda

    saya harap diberikan saja tunjangan sertifikasi bagi dosen yang sudah ngajar, kan dia udah menjalankan profesi sebagai dosen

  7. premis:
    jika lulus sertifikasi, maka harus menjadi dosen yang baik

    jadi ? inversnya:
    jika tidak lulus sertifikasi, maka tidak harus menjadi dosen yang baik
    😀

    jika menjadi dosen yang baik, maka harus lulus sertifikasi [kontrapositif]. ga juga ya?😀

  8. WIN LAY

    Tuntutan terhadap dosen yang bersertifikasi adalah pelayanan tridharma yang profesional dan fungsi utama seorang dosen adalah mengajar. Oleh karena itu, penilaian terhadap kemampuan pedagogik adalah yang paling penting dan harus dinilai secara seksama dan obyektif oleh teman sejawat, mahasiswa dan atasan langsung. Soalnya, konsekuensi dari sertifikat adalah sejumlah besar uang negara yang harus dikeluarkan/dibayarkan berupa tunjangan.Agar uang negara tidak dibayarkan sia-sia, maka dosen bersertifikat harus yang benar-benar profesional menghasilkan lulusan yang berkualitas.

  9. “Jadi saya pikir barangkali dosen dan guru dianggap miskin dan perlu mendapatkan bantuan sosial. Tapi karena takut kami tersinggung, caranya ya itu dilakukan melalui sertifikasi….”

    Mungkin itu benar untuk dosen PTN papan atas, namun tidak semua dosen kan ?🙂 Btw, gimana hasil sertifikasinya ? Semoga lulus dan ikutan memperoleh tunjangannya ya🙂




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: