Standar Hidup

Orang harus mengejar cita-cita nya.  Dan itu unik.  Namun ada sebuah standar produktif yang harus ia capai.  Dan standar ini harus lebih tinggi dari standar biaya hidup dalam mencapai cita-cita.

Setiap orang itu unik.  Ada aspirasi masing-masing.  Ada cita-cita.  Ada harapan masa depan.  Oleh sebab itu, ia bebas memilih bagaimana ia menghidupi hidupnya itu.

Cuma kita tidak boleh lupa apa yang disebut biaya hidup.  Seseorang butuh makan, pakaian, tempat tinggal, air bersih.  Ia perlu alat transportasi. Ia perlu alat komunikasi.  Semua ini membutuhkan biaya.

Belum lagi bila cita-ciat anda untuk hidup mewah.  Anda mungkin memilih cara hidup yang menuntut biaya ekstra.  Misalnya anda ingin hidup seperti milioner.  Otomatis butuh biaya untuk mobil Ferrari, perahu Yacht, biaya pesta pora.  Ini mahal.

Saya memang mengekstrim kan contoh tersebut.  Tapi dalam kehdiupan sehari-hari, saya sering menemukan orang yang mengambil gaya hidup yang mahal. Pakaian harus bermerek.  HP harus kelas atas.  Transpor tidak mau angkot, minimal Blue Bird.  Makan harus dari restoran.

Semua standar hidup ini menuntut biaya hidup.  Tanpa bermaksud men-judge, saya pikir gaya hidup ini hanya bisa dijustifikasi bila kita berproduksi dengan nilai melelbihi hiaya hidup.  Pekerjaan kita, karya kita, layanan kita, produk kita menghasilkan nilai melebihi biaya hidup.

Kasarnya, kalau kita seperti Bill Gates yang mampu menghasilkan produk selaris Windows dan Office, layak lah kita bermewah-mewah.  Produk Microsoft itu memang harus diakui istimewa dan dibutuhkan banyak orang. Orang yang tidak sanggup bayar saya diam-diam nyolong alias membajaknya.  Jadi penciptanya layak untuk hidup luxury.

Berapa sih standar hidup itu.  Standar yang wajar?

Agak sukar untuk menentukannya, tapi saya pikir orang menurunkannya dari beberapa angka dasar, seperti harga BBM, harga beras, GDP, PPP, bahkan harga McD.

Konon anda itu miskin kalau tidak punya uang lebih dari $1 per hari.  Anda lumayan miskin kalau tidak punya $2 per hari.  Jadi kalau anda punya istri satu dan anak empat, maka keluarga anda harus punya uang minimal 12$ per hari.Atau dalam sebulan $360.  Dalam rupiah hari ini, anda harus berpenghasilan lebih Rp 4 juta per bulan untuk tidak dianggap miskin.

Saya pikir, untuk hidup di Bandung, satu keluarga seperti itu butuh sekitar Rp 8 juta per bulan untuk hidup layak.  Gaya hidup yang standar.  Jadi untuk setahun, kita butuh biaya hidup sekeluarga Rp 100 juta.

Nah, itu angka patokan saya.  Itu standar yang saya pegang saat ini untuk setiap kepala keluarga: Rp 100 juta per tahun. Anda harus berproduksi dengan nilai lebih dari Rp 100 juta per tahun.  Nilai pekerjaan anda harus melebihi angka itu.  Nilai produk anda harus melebih angka itu.

Dan itu untuk membiayai hidup layak, normal, wajar.  Kalau kita ingin hidup lux, maka pastikan produktivitas anda benilai lebih dari itu.  Kalau tidak you have an unsustainable living style.


  1. Aku setuju dengan alinea terakhir.. aku hidup di Bali.. di sini biaya hidup sebenernya murah2 aja (kurang lebih sama saat aku tinggal di Solo – kota kelahiranku) emang aku udah beristri tapi belum punya anak, dan penghasilanku per bulan sebagai web & graphic designer di sini udah lumayan (sekitar seharga motor tiger) –> aku kerja sendiri, nggak
    sebagai karyawan orang, klien-ku 95% dari luar negeri.. tapi bagaimana jika aku ntar punya anak, anak-ku mulai sekolah, dll2.. jujur kadangkala sebagai ‘keluarga baru’ aku masih khawatir dengan hal itu, belum lagi dengan beban beberapa kredit yang belum lunas (motor, mobil)..

    Tapi aku percaya kok.. everything will be fine.. see ya..
    Selama kita bisa mengolah dan mengembangkan potensi, penghasilan bukanlah msalah.. bener ndak?

  2. kata perencana keuangan, gaya hidup itu boleh lah sekitar 10-30 persen dari total pendapatan [biaya internet, ngopi, pulsa, nonton dll]. sisanya untuk bayar hutang/cicilan, menabung/invest, operasional. dan standard hidup seseorang didapat dari mengolah propososi keempatnya tersebut.

    [sampai sekarang saya ga mendapatkan angkat absolut seperti bapa itu🙂 gimana caranya ya?]

  3. azrl

    @ hallo Ayi, kalau angka 8 juta/bulan itu berdasarkan informasi sehari-hari di rumah, yang saya jumlah-jumlahkan dan estimasikan. Itu asumsi kita tidak nyicil apa-apa, baik rumah atau mobil. Kalau kita harus nyicil mobil dan rumah, maka angka itu naik ke sekitar 13 juta sampai 15 juta per bulan.

  4. wiranata kusuma

    Kalau untuk memasuki tahun 2014 pasti budget nya nambah lagi yah + naik angkutan umum … #salam kenal

  5. Michael

    Tergantung pak.
    Kalau istri saya sih kebutuhannya minimal 38 juta perbulan.

    Driver, suster, pembantu, nyicil apartment, nyicil mobil,susu dan popok, liburan, kongkow2 ke cafe, makan di resto di mall, belanja ini itu.

    Makanya gaji saya 40 juta perbulan abis cepet banget.

    Yang disisain buat saya ya sama dengan gaji OB saya.

    Jadi tiap hari saya makannya di warteg yang sama dengan OB saya.

    Jadi inget ketika saya masih bujangan baru lulus 13 tahun silam. Gaji saya cuman 2 juta sebagai teknisi, eeeh sekarang jadi GM sama aja 2 juta sebulan….

    Tapi gak papa istri saya bawa hoki kok. Kalau nggak punya istri yang kebutuhannya 38 juta perbulan, mungkin saya juga nggak akan pernah mau berusaha sehingga punya gaji 40 juta perbulan.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: