Second Chance

Terkadang kita membuat kesalahan dan penyesalan menghantui kita. Beruntunglah kita yang mendapatkan kesempatan kedua, second chance, untuk memperbaikinya.

Sekitar dua tahun lalu saya bertemu seoang mahasiswa saat perwalian.  Dari tanya-tanya saya, terungkap dia punya masalah nilai Kerja Praktek (KP) yang tidak keluar-keluar. Dia berusaha menjelaskan pada saya penyebabnya, tapi penjelasannya sungguh rumit.

Saya menjadi tidak sabar, dan saya mencoba menjelaskan bahwa dia harus menguhubungi dosen KP dan meminta nilainya.  Tapi kelihatannya mahasiswa ini sudah bolak-balik pada dosen tersebut tanpa hasil.  Pikirannya sudah penuh dugaan negatif.  Dia mulai bilang bahwa dosen ini tidak akan mengeluarkan nilai KP sampai kapanpun, sehingga dia bisa DO. Dia minta saya yang mengurusnya.  Saya menolak. Pertama, dosen di ITB tidak saling mencampuri urusan nilai masing-masing.  Itu aturan tidak tertulis.  Kedua, saya ingin anak ini belajar berjuang.  Jangan bingung begini. Masak sih ada orang DO karena nilai KP tidak keluar.

Saya sudah lupa insiden ini, ketika ia muncul lagi enam bulan kemudian.  Wajahnya kucel. Rupanya masalah makin runyam, dan dia ketakutan. Bicaranya semakin membingungkan.  Pada prinsipnya dia bingung karena dosen KP sepertinya marah kepadanya dan tidak akan mengeluarkan nilainya. Dan masalah ini begitu mengganggunya, sehingga nilai-nilai ujiannya ambruk.

Tapi karena bicaranya tidak jelas, banyak dugaan-dugaan negatif, dan penuh pembelaan diri, saya jadi jengkel. Saya jadi curiga, ada sesuatu kesalahan yang dia buat di laporan KPnya itu. Apalagi dia datang saat saya sedang bertemu teman seangkatan saya yang sudah lama baru bertemu.  Lagi asik ngobrol.  Dan anak ini menginterupsi, yang pada dasarnya meminta saya mengintervensi wewenang kolega saya itu. Sesuatu yang tidak pernah saya mau lakukan.

Akhirnya setelah saya debat dengan segala nasehat dan petuah, dia pergi dengan pucat pasi.

Tapi kali ini saya tidak bisa lupa.  Wajahnya yang kucel, pucat pasi, bicaranya yang penuh kepanikan, sangat mengganggu saya.  What have I done?  Jelas di balik semua omongannya yang membingungkan, anak ini crying for help. Pasti dia ketakutan nanti DO gara-gara KP tidak keluar. Dan yang saya beri malahan nasehat, petuah, yang mungkin keluar dengan perasaan mangkel. Pasti luntur kepercayaan anak ini pada dosennya.

Besoknya saya putuskan untuk intervensi. Tentu harus putar otak, agar rekan dosen saya tidak tersinggung.  Tapi kalau terpaksa harus fight, apa boleh buat, I will do it. Dosen ini sebenarnya lebih yunior dari saya, jadi saya coba ajak bicara dulu.  Saya datangi lab nya, tapi dia tidak ada. Saya coba cari ke mana-mana berhari-hari tidak ada.  Dan semua nomer HP yang saya terima tidak nyambung.  Beliau sudah ganti nomer.

Wah saya menjadi sangat gundah. Wah bagaimana ini.  Sambil saya tidak tahu cara menghubungi mahasiswa ini. Saya merasa susah.

Mendadak, saat ada peristiwa tidak terduga.  Saat ramai-ramai pemilihan walikota Bandung, di mana ada dosen ITB mencalonkan diri, rekan dosen KP ini telepon ingin bertemu. Rupanya beliau ingin memberitahu rencana beberapa dosen ITB untuk ikut pilkada lewat jalur independn.  Beliau mengajak saya ikut mendukung supaya jumlah tandatangan cukup.

Wah saya senang sekali.  Saya jadi bisa ajak ngomong juga soal anak ini. Saya bisa barter nih.  Saya tandatangan form dukungan, dia beri nilai KP anak ini.  What the heck, I don’t care.  Yang penting anak ini percaya lagi sama dosennya. Kira-kira begitu rencana saya.

Saat ketemu kita ngobrol-ngobrol.  Perlahan saya coba pancing soal KP anak ini.  Ternyata memang bermasalah.  Versi awal Laporan KP yang dibuat terlalu banyak kekurangan. Buruk. Dan rupanya terjadi percakapan yang kurang menyenangkan, sehingga saat harus diperbaiki, anak ini terlanjur ketakutan. Nah karena rekan saya ini sibuk, masalah ini tidak tuntas.  Tapi kita sepakat untuk memberi anak ini second chance.  Rekan saya akan membaca laporan yang sudah lama nongkrong di TU labnya, dan segera mengeluarkan nilainya. Saya janji untuk nanti beri copy KTP pada calon yang diusungnya (dan beneran saya penuhi janji saya itu).

Saya lega sekali. Minimal ada peluang perbaikan. Apa benar akan dilakukan, saya tidak tahu.

Saya tidak pernah lagi bertemu mahasiswa ini.  Saya tidak bisa mengontaknya. Mungkin dia juga sudah give up atau fed up sama saya.  Saya juga sebenarnya diam-diam malu berjumpa dia. Ini akan jadi noda hitam dalam karir saya sebagai dosen, tapi saya berniat belajar dari peristiwa ini.

Sampai beberapa hari lalu, mendadak saya ditegur seorang mahasiswa di depan gedung PAU.  Saya perlu waktu untuk mengenalinya.  Wah si anak ini.  Wajahnya sudah cerah, bersih, makanya saya tidak segera mengenalinya. Langsung saya cegat, dan tanya bagaimana kemajuan studi.  “Beres pak, kelihatannya bisa wisuda Maret ini…”

Wah saya senang sekali. Kita tidak bicara soal yang dulu itu.  Tidak penting. Yang penting dia sudah senang dan bisa lulus sekarang.

Tadi saya cek nilainya di situs akademik ITB, wah hebat.  Nilai KP nya itu mendapat A (thanks, my colleague). Dan IP semester kemarin itu naik menjadi 3.50. Hebat juga nih anak.  Dia mungkin merasa mendapat second chance, dan dia berjuang memanfaatkannya.

Tapi benar-benar mendapat second chance itu saya. Lega sekali bisa bebas dari kesalahan yang menghantui.


  1. gre

    wah..beruntung punya dosen wali pak armien🙂
    pernah kejadian ada teman seangkatan saya gak bisa wisuda tepat waktu karena nilai KP-nya belum keluar. Masalahnya simple, nilai KP dia gak sampai di TU EL karena gak ada yg mengantar (masih di meja dosen KP).

  2. Untung ada “second chance”. Kebanyakan orang berpikir akan selalu ada yg namanya “second chance” itu.

    Bagaimana kalau semua hal harus OK “at the first (and the only) chance” ? …

  3. Well, Selalu ada kesempatan dalam kesempitan y🙂

  4. ya, 1st chance jauh lebih baik, 2nd chance itu apabila yang pertama gagal dan masih baik, …, terlambat itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

  5. chance akan selalu ada : ‘sekarang’.😀

  6. mungkin ada hikmah yg bisa kita pelajari, dari adanya pilihan itu🙂

  7. ulasan yang sangat menarik, semoga kita juga punya banyak pilihan setelah baca artikel ini🙂

  8. Wahhh, beruntungnya orang itu.
    Seandainya setiap dosen wali seperti pak Armien.
    Hahha..(dasar mahasiswa, banyak maunya..)

  9. tiwul

    stuju dgn gre, beruntung punya wali seperti pak Armein, anak saya nilainya kritis, walinya diam-diam saja tu…pernah coba menghubungi susah…gak bisa nyambung,……….mudah-mudahan lebih banyak lagi wali seperti bapak……

  10. saya jadi mikir. siapa yang sebenarnya berhasil.

  11. Saya dapat second chance TA (judul baru) dari kajur TL waktu itu karena TA saya 2 semester bermasalah dengan pembimbing yang lama. Dengan Kajur dan Co-pembimbing yang baru disuruh ngerjain topik yang sesuai dengan hobi saya dan selesai 1 bulan saja




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: