Menghadapi Musibah

Pernahkah anda menghadapi musibah. Tentu anda terpukul, kecewa, atau sedih. Bagaimana sebaiknya kita memaknai suatu musibah?

Saat saya masih SMA saya pernah celaka di jalan. Ceritanya saya menyetir mobil minibus beserta Janti, adik saya. Malam itu kami mau berjumpa teman-teman yang sedang camping di selatan kota Sukabumi. Karena buru-buru, saya banyak menyusul kendaraan lain. Sayangnya saya tidak melihat tumpukan pasir bahan bangunan yang sedang menutupi setengah jalan. Mungkin karena warnanya hitam. Maka terbanglah mobil kami dan terguling.

Saat saya tersadar, saya lihat kepala Janti meneteskan darah. Saya cemas sekali. Tapi beruntung dia tidak apa-apa. Ternyata lengan saya robek terkena kaca, dan darahnya menetes di kepala Janti. Singkat cerita, kami tidak terluka parah, tapi mobil rusak cukup berat. Mobil terguling dan dinding sebelah kiri terseret di aspal. Janti tertolong karena ia menutup kaca jendelanya. Saya tidak berani membayangkan seandainya kaca itu tidak tertutup.

Sejak itu saya selalu penuh perhitungan dalam menyetir mobil. Saya bisa melaju cepat, tapi selalu safety first.

Musibah itu datang tidak terduga. Itu suatu event yang terjadi by chance. Artinya kebetulan kita ada pada suatu tempat tertentu dan waktu tertentu, dan musibah itu terjadi.

Setelah musibah terjadi, kita sering bertanya-tanya dalam hati. Mengapa kok bisa terjadi?

Tidak jarang kemudian kita berpikir tidak rasional. Kita lalu menghubung-hubungkan dengan berbagai kemungkinan. Ada yang menghubungkannya dengan kesalahan yang kita buat dulu. Ada yang menghubungkan nya dengan kekuatan supranatural. Dan lebih ajaib, kita menghubungkan dengan tanggal 13, hari Jumat Kliwon.

Padahal kecelakaan itu peristiwa random. Atau maksimal itu chaos. Sesuatu yang tidak bisa diprediksi. Jadi peristiwa itu, as it is, tidak punya banyak penjelasan di luar rentetan event.

Yang keliru sekali adalah saat kita mulai bertanya-tanya apakah musibah itu adalah hukuman dari Tuhan, atau tindakan dari Tuhan. Seakan-akan Tuhan tidak menyayangi kita lagi. Tuhan tidak menjaga kita lagi. Seakan-akan musibah itu adalah bukti Ia sedang menjauh dari kita. Ini bisa membuat kita trauma.

Look, sudah hampir limapuluh tahun saya hidup di dunia. Dan selama itu saya melihat dengan mata kepala sendiri kebaikanNya. Berkat dan perlindunganNya puluhan tahun, setiap hari. Tidak mungkin peristiwa satu malam tersebut bisa menghapus semua itu. Justru semakin erat kita berpegang padaNya.

Malahan dalam setiap musibah, terbuka mata kita pada kebaikanNya. Bagaimana Tuhan menggunakan banyak orang, seringkali yang tidak kita kenal, menolong kita. Bagaimana ia memulihkan kita. Bagaimana Ia meyakinkan kita, tidak ada suatu musibah apapun yang bisa menjauhkan kita dari kasih sayangNya.

Malam itu, Janti dan saya di bawa ke rumah orang yang tidak kami kenal, untuk diperiksa sejenak. Setelah diberi minum, ada angkot kosong yang sukarela mengangkut kami ke rumah sakit. Saat ayah ibu saya menjemput kami di rumah sakit, mereka pamit pulang tanpa menagih apa-apa. Tiga puluh tahun kemudian Janti dan saya sehat segar bugar, sebuah bukti pemelihartaanNya yang tidak pernah berhenti. Kejadian setelah musibah ini adalah bukti yang sebenarnya dari penyertaanNya.

Jadi, bila kita mengalami musibah, bersabarlah. Dengan gesit kita harus melakukan langkah darurat menyelamatkan orang dari akibat musibah. Sambil buka mata lebar melihat bagaimana jalan pertolongan terbuka satu demi satu. Jangan memaknainya secara tidak rasional. Sebaliknya kita bersyukur kepadaNya bahwa Ia tidak meninggalkan kita dalam setiap musibah.

Jangan fokus pada musibah. Fokuslah pada apa yang terjadi setelah itu.


  1. setuju, pak..

  2. elroms

    Iya..terkadang datangnya musibah menempatkan kita pada kepanikan dan bahkan berpikir tidak rasional. padahal musibahkan ujian biar kita bisa semakin dekat kepadaNya. Sangat disayangkan jika kemudian musibah hadir tanpa kita mampu mengambil hikmah daripadanya.

  3. Musibah yang kita terima adalah bukti betapa Allah menyayangi kita.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: