Penyiapan Pemimpin

Salah satu masalah pelik kita adalah kalau seorang yang masih bermental bawahan diangkat menjadi atasan. Banyak pemimpin kita yang justru menuntut dilayani, bukan melayani.

Di mata bawahan, jadi atasan itu enak.  Jadi boss itu enak.  Dapat banyak fasilitas.  Jadi dia ingin sekali diangkat jadi pejabat.  Kalau perlu kampanye habis-habisan dengan uang pinjaman. Supaya bisa menikmati fasilitas-fasilitas itu.

Dia tidak tahu bahwa betapa berat tugas pejabat itu.  Harus memikirkan banyak hal. Harus bertanggungjawab dengan keberhasilan organisasinya, keberhasilan anak buah nya.  Dia harus berinovasi untuk menerobos masalah yang pelik. Saat orang lain sudah pulang kerja dia masih ahrus memikirkan langkah-langkah berikutnya.

Dan yang paling penting, pejabat itu harus melayani bawahannya, bukan sebaliknya.  Ini tidak mudah untuk dipahami.  Perlu diajarkan sejak kecil.

Konon saat Ratu Wilhelmina masih memrrintah Belanda, puterinya Juliana berulangtahun ke lima.  Maka berpawai lah rakyat di depan istana, lewat di depan Ratu yang sedang memangku Juliana kecil.

“Apakah mereka semua itu datang khusus pada saya untuk merayakan ulang tahun saya?”, tanya Juliana pada ibunya dengan berbinar-binar, “Mereka kenal saya …?”

Dengan tersenyum ibunya menggeleng dan menatap Juliana dengan dalam, “Nak, kita lah yang datang pada mereka. Perhatikan mereka baik-baik. Kenali dan ingat wajah mereka. Mereka itu tanggung jawab kita.  Kita lah yang harus memikirkan masa depan mereka…”

Sekarang Juliana sudah menjadi ratu Belanda. Kita jarang mendengar ratu Belanda menyusahkan atau mempermalukan rakyatnya.


  1. heran nya kok di negara kita banyak yang mo jadi pemin pin pak pan aneh tuh lihat aja partai nya sampai berjubel pusing -pusing lah tuh milih nya

  2. Pak apa beda persiapan dengan penyiapan?

    Di Indonesia, orang ingin jadi pejabat untuk mendapatkan fasilitas dan kesempatan cari “proyek”…. Bukan untuk melayani rakyat…

  3. Mas Dedy, Pak Armen ini sedang bicara atau menggarisbawahi perbedaan “Pemimpin” dan “Pimpinan” (atasan). Bukan “persiapan” dan “penyiapan”.

  4. hehehe iya juga yaa…
    kenapa saya jadi terfokus pada kata “penyiapan” ? Mungkin karena kata pertama judulnya. Jarang saya dengar kata “penyiapan” lebih sering “persiapan”.

  5. anggie ph

    mungkin budaya mental para oknum bangsa ini masih kebanyakan gila pangkat/jabatan, gila harta, gila hormat, gila puja-puji, gila populeritas, gila… gila… ha..ha..ha..




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: