Duapuluh Tahun Lalu

Bulan Januari duapuluh tahun lalu ada bulan yang membahagiakan sekali. Saya berada di atas kereta api dari Bandung menuju Surabaya.  Dan saya banyak diam, memandang ke luar jendela.  Pemadangan hijau berkelebat di luar. Dan saya merasa orang yang paling beruntung.

Saya dengan beberapa rekan sedang menuju ke sebuah sentral Telkom di Ngupasan, Surabaya.  Kami hendak memasang sebuah komputer untuk mengganti terminal teletype di sentral Ngupasan. Ini proyek profesional saya yang pertama. Dan kabar baiknya, alat kami sukses dan digunakan bertahun-tahun.

Tapi bukan itu yang membuat saya begitu bahagia di jalan. Saya pergi dengan kabar dari Ina bahwa kelihatannya kami akan punya bayi.  Anak kami yang pertama.

Kami baru sebulan menikah, dan memang merencanakan untuk langsung punya anak. Saya baru setahun lulus kuliah. Baru bekerja setahun.  Belum punya rumah.  Belum punya apa-apa.

Tapi itu semua tidak pernah menggangu pikiran saya.  Sudah setahun saya menemukan Ina, jatuh cinta dan menikah.

Semua dalam kesederhanaan. Semua dalam kesahajaan. Saat saya menikah saya pindah dari kamar kos di Jalan Tamansari ke sebuah rumah kecil gang Sukasari, menumpang di rumah mertua. Dan kami menempati satu kamar yang kecil.

Ina punya sepeda motor hasil menabung dari kerja.  Saya juga punya satu, Honda bebek merah. Ina tahu saya ingin sekali punya komputer sendiri.  Ina menjual sepeda motornya itu, dan membelikan saya sebuah  komputer. Jadi saya bisa kerja di kamar kami itu. Kami berdua kemudian ke mana-mana naik motor saya itu.  Saya mengantarnya ke tempat kerja di jalan Kiay Gede Utama, baru saya terus ke kampus. Pulangnya saya jemput Ina.

Tapi semua terasa istimewa. Belum pernah saya merasa bahagia seperti itu selama hidup saya.  Setelah bertahun-tahun lepas dari rumah dan menjadi musafir dari asrama ke tempat kos, saya punya keluarga sendiri.

Dan tidak ada yang bisa menandingi perasaan saat Ina mengabarkan saya akan menjadi ayah. Saat matanya berkilau seperti cahaya dewi kayangan, penuh cinta, penuh sayang, penuh bangga, penuh harap.

Semua kejadian yang indah datang beruntun. Bertubi tubi. Sampai hari ini duapuluh tahun kemudian. Saat pikiran saya melayang ke sebuah perjalanan Bandung Surabaya, di atas kereta api. Betapa tidak ada kecemasan apapun.  Yang ada adalah harapan akan masa depan yang datang menyongsong. Berkelebat, seperti pepohonan di jendela kereta api.

Tadi pagi saya dan Ina pergi berdua memesan kursi rotan di Setiabudi untuk mertua saya. Dia sudah pindah dari gang Sukasari.  Sekarang tinggal di Gunung Batu, sangat dekat dari rumah kami. Usianya sudah cukup lanjut. Kami ingin menyenangkannya. Kami ingin merasakan kembali dua puluh tahun lalu, saat ia menyaksikan kebahagiaan kami. Banyak sekali yang sudah berubah, tapi ada yang tetap. We are a family.

Setelah selesai memesan kursi rotan itu, kami berdua turun ke the Kiosk Setiabudi, dan makan berdua di situ.  Ina agak kurang sehat sebenarnya, tapi dia tidak mau pagi yang indah ini habis begitu saja. Kami ngobrol macam-macam, tapi saya sudah lupa.  Karena saya terpukau oleh sepasang mata itu, berkilau seperti cahaya dewi kayangan, penuh cinta, penuh sayang, penuh bangga, penuh harap.

Saat pulang menyebrang ke tempat parkir McD Cipaganti, saya genggam tangannya. Tidak ada kecemasan apapun.  Yang ada adalah harapan akan masa depan yang akan terus datang menyongsong. Berkelebat, seperti pepohonan di jendela kereta api itu. Terimakasih untuk cinta duapuluh tahun lalu. Terimakasih untuk cinta hari ini.

Saya akan membawa kebahagiaan ini. Menyertai perjalanan puluhan tahun ke depan. Menyertai saya ke manapun saya pergi.  Seperti di samping jendela kereta Bandung-Surabaya saat itu.


  1. Indah. *keren.

  2. puitis bgt sih pak.. bikin buku gih. =P

  3. oowhh… saya terenyuh pak… andai sy wanita…

  4. just kidding… tar dikira… saya… ad apa2 lg… hoho

  5. Setelah beberapa pagi yang mendung, Sabtu pagi kemarin memang cerah ya…
    …It is never being too old to hold hands…
    (The Art of Marriage – Wilferd A. Peterson)
    Mudah-mudahan Bu Ina cepat sehat. Apalagi setelah baca posting ini…🙂

  6. /*
    indah nian
    tulisan dari hati
    */

  7. joice

    wow… keren banged pak….




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: